Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Persiapan Menyambut Malapetaka Besar


__ADS_3

Semua orang langsung terdiam. Mereka setuju atas perkataan Shin Shui. Maka kini, semua mata memandang kepada Kepala Tetua dan beberapa muridnya tersebut.


"Silahkan ceritakan paman," pinta Shin Shui kepada orang tua itu.


Dia mengangguk, kemudian membetulkan posisi duduknya sebelum memulai bicara.


"Sebelumnya perkenalkan, namaku Thio Him. Aku Kepala Tetua dari Sekte Kabut Biru. Pagi hari, keadaan di sekte kami berjalan seperti biasanya. Semua murid sekte berlatih bersama murid inti. Awalnya latihan berjalan lancar. Namun semua itu berubah total saat ada sekitar dua puluh orang yang datang ke sekte kami. Dari awal datang, mereka sudah membunuh para murid yang bertugas menjaga gerbang."


"Kemudian mereka masuk, tanpa banyak bicara langsung menyerang semua murid. Kami yang tidak menyangka atas kejadian ini, tentu merasa kaget. Akibatnya semua murid yang berlatih tewas di tangan mereka. Setelah para murid sekte tewas, orang-orang itu lalu masuk ke dalam untuk membunuh semua orang yang tersisa termasuk aku sendiri."


"Sama seperti sebelumnya, mereka tiba-tiba menyerang. Tiga murid intiku tewas, sedangkan aku tak sendiri berjuang melawan mereka. Akhirnya karena kalah jumlah, aku berhasil di ringkus. Aku di siksa oleh mereka. Setelah aku bertanya tentangnya, salah seorang menjawab bahwa mereka berasal dari Kekaisaran Tang."


"Tunggu! Bagaimana bisa mereka mengaku semudah itu?" tanya Kaisar Wei An masih sedikit tidak percaya.


"Mungkin karena mereka berpikir tidak akan ada orang yang datang menyelamatkanku. Lagi pula, aku memang benar-benar melihat lambang Kekaisaran Tang di dada sebelah kanan mereka,"


"Apakah mereka mengatakan tujuannya apa?" tanya Kaisar.


"Tidak Kaisar. Mereka hanya mengaku mendapatkan tugas untuk menghancurkan sekte-sekte kecil yang berada jauh dari kotara,"


"Hemm, cukup. Aku faham sekarang," kata Kaisar Wei An.


Seketika kakek tua bernama Thio Him tersebut menghentikan ceritanya. Orang tua itu masih terlihat lemas.


"Pahlawan, menurutmu bagaimana kita harus menghadapi hal ini?" tanya Kaisar kepada Shin Shui.


"Sudah aku katakan sebelumnya. Lebih baik untuk saat ini dan ke depan, suruh semua sekte aliran putih untuk berjaga-jaga di daerah perbatasan. Karena dalam waktu kurang dari tiga tahun, malapetaka besar akan kembali terjadi. Kita harus mempersiapkan diri dari sekarang."

__ADS_1


"Kaisar, aku sarankan supaya Anda memberikan kebutuhan setiap sekte. Baik itu sumber daya alam, atau pun pil obat untuk berkultivasi. Hal ini bukan masalah sepele. Ini masalah besar, karena itulah kita harus bersama-sama menghadapinya," kata Shin Shui.


"Baik, aku akan menuruti semua perkataan pahlawan. Besok, aku akan menyuruh orang-orangku untuk membagikan semua kebutuhan sekte aliran putih. Aku harap Sekte Bukit Halilintar juga turut andil dalam masalah ini. Sebab semua orang tahu, Sekte Bukit Halilintar adalah sekte nomor satu di Kekaisaran Wei," ucap Kaisar Wei An penuh harap.


"Sebelum kau minta, kami sudah pasti akan membantu dan berada di benteng terdepan. Karena alasan itulah aku mengunjungi Kekaisaran. Sebab aku sendiri tahu, masalah ini tidak akan bisa di hadapi sendiri. Sesampainya di sekte, aku akan langsung menyuruh murid-murid pilihan untuk melakukan penjagaan. Aku harap Kaisar cepat memberikan perintah kepada seseorang untuk memberitahukan hal ini ke seluruh sekte,"


"Baik, semua ucapan pahlawan, akan aku penuhi sekarang,"


Kaisar Wei An lalu menengok ke arah para pendekar yang ada di ruangan tersebut. Para pendekar itu langsung siap melakukan perintah.


"Sekarang juga kalian pergi dari sini. Beritahukan kepada semua sekte bahwa malapetaka besar akan terjadi sebentar lagi. Harap kalian katakan sesuai apa yang baru saja di ucapakan oleh pahlawan Shin Shui," perintah Kaisar Wei An.


"Baik Kaisar. Kami pamit sekarang juga," kata semua pendekar lalu pergi dari sana.


"Kaisar, aku juga pamit undur diri. Masih ada hal penting yang harus aku lakukan. Kau tenang saja, kalau ada waktu senggang aku akan berkeliling ke perbatasan," ucap Shin Shui.


"Baik pahlawan. Terimakasih, semua jasamu akan selalu aku ingat,"


"Baik tuan muda. Aku akan menuruti perintah tuan muda," kata Kepala Tetua Thio Him.


"Bagus. Aku pergi sekarang," ucap Shin Shui lalu keluar ruangan.


Kepergiannya seperti biasa di antarkan oleh Kaisar Wei An dan yang lainnya. Begitu sampai di halaman Istana Kekaisaran, Shin Shui langsung terbang bagaikan seekor burung.


Jubah birunya berkibar tertiup angin musim panas. Matahari bersinar terang tanpa tertutup awan. Baru beberapa detik, Pendekar Halilintar sudah menghilang dari pandangan.


Sekali lagi, Kekaisaran Wei akan menghadapi sebuah malapetaka. Menurut ramalan Lao Yi, kemenangan tidak berada di pihak mereka.

__ADS_1


Namun walaupun begitu, usaha harus tetap ada.


Ramalan hanya ramalan. Belum tentu menjadi sebuah kenyataan. Menang atau kalau, itu bisa di lihat saat nanti waktunya jika sudah tiba.


###


Waktu terus berlalu tiada hentinya. Waktu berputar tanpa rasa lelah.


Sebentar lagi, Shin Shui akan sampai di Sekte Bukit Halilintar. Dia meninggalkan sekte kurang lebih sudah tiga puluh hari lamanya. Sepanjang perjalanan tidak ada halangan sama sekali.


Hal yang membuat kepergiannya lumayan lama adalah karena Shin Shui berkeliling terlebih dahulu untuk memastikan bahwa semua sekte sudah melakukan oenjahaan di perbatasan dan di beberapa titik penting Kekaisaran Wei.


Dan ternyata memang semuanya sudah berjalan. Shin Shui senang melihat kekompakan ini, beberapa kali Shin Shui mendapati ada sebagian sekte aliran hitam yang turut berjaga. Dia sempat bertanya kepada mereka kenapa ikut melakukan penjagaan.


Dan jawabannya cukup untuk membuat Pendekar Halilintar tercengang.


"Walaupun kami jahat, walaupun kami aliran hitam, tapi rasa peduli kami terhadap tanah air masih ada. Kami masih bagian dari Kekaisaran Wei, jadi tentu kami harus turun andil dalam hal ini. Masalah kami dengan sekte aliran putih, untuk sementara di hentikan dulu. Keselamatan Kekaisaran lebih penting daripada segalanya,"


Hanya itu jawaban mereka. Tidak kurang dan tidak lebih. Tapi sungguh, itu membuat Shin Shui bangga. Padahal, salah satu dari sekte aliran hitam itu pernah mempunyai masalah dengan Shin Shui.


Tak di nyana, di saat seperti ini mereka justru berkontribusi. Orang-orang itu biasanya tidak menghormati Shin Shui. Tapi kali ini, saat Kekaisaran berada dalam bahaya, mereka sangat hormat dan segan terhadap Pendekar Halilintar.


Bagaikan seekor anjing yang menuruti semua perintah majikannya.


Kehidupan memang unik. Seperti halnya manusia, mereka selalu berubah-ubah seiring berjalannya waktu.


Siapa sangka, orang-orang yang biasanya berbuat kejahatan dan bertindak sewenang-wenang, justru memiliki rasa nasionalisme yang tinggi terhadap tanah airnya.

__ADS_1


Kadang kala hal ini bisa menjadi bukti bahwa jangan melihat seseorang hanya dalam sekilas. Karena kalau sekilas, kau tidak akan tahu bagaimana orang itu sebenarnya.


Shin Shui sudah sampai di depan gerbang Sekte Bukit Halilintar. Enam orang penjaga gerbang langsung memberikan hormat kepada Kepala Tetuanya. Seorang di antara mereka, pergi ke dalam untuk memberitahukan kepulangan Shin Shui.


__ADS_2