
Gelegar!!! Duarr!!!
Ledakan dahsyat terus terdengar dari tempat pertarungan Pendekar Tanpa Perasaan. Berbagai macam sinar yang menjulang tinggi ke angkasa juga terlihat dari tempat itu.
Empat orang itu bukan pendekar sembarangan. Di Kekaisaran Tang, mereka terkenal dengan kerjasamanya yang sangat kompak, jurusnya yang sangat aneh dan dahsyat, juga terkenal dengan kekejamannya yang tiada banding.
Mereka semua dikenal dengan sebutan Empat Manusia Berhati Iblis.
Mereka diberi julukan seperti itu karena memang sesuai dengan kenyataannya. Empat orang tersebut tidak mempunyai hati. Setiap mereka membunuh lawannya, korban pasti akan dimutilasi. Jantung dan hatinya akan di ambil untuk mereka makan.
Kekejian seperti itu, bahkan mungkin para iblis sendiri tidak ada yang melakukannya.
Dua orang menerjang Pendekar Tanpa Perasaan secara mendadak. Dua batang sinar berwarna merah pekat melesat dalam kecepatan yang sulit untuk dijelaskan. Sinar itu berasal dari dua batang pedang.
Pedang tajam yang mengandung kekuatan kegelapan.
Pendekar Tanpa Perasaan menggertak gigi. Selama pertarungan berlangsung, dia sudah menerima puluhan macam serangan dari empat lawannya. Seluruh tubuhnya telah dihujani oleh jurus mematikan.
Kalau bukan Chen Li, mungkin sudah tewas dari tadi. Untungnya yang menjadi korban adalah dia sendiri. Sehingga bisa bertahan hingga detik ini.
Wushh!!!
Pendekar Tanpa Perasaan melompat ke depan sambil melancarkan empat serangan dengan Pedang Hitam. Tangan kirinya tidak tinggal diam, seruling giok hijau juga digerakkan sambil memberikan hantaman jarak jauh.
Dua sinar berbeda warna terlihat. Kekuatan dahsyat terkandung dalam dua serangan itu.
Trangg!!! Trangg!!!
Benturan senjata pusaka terdengar. Pendekar Tanpa Perasaan berjuang melawan dua lawan tangguh. Jurus dan serangan mereka sangat aneh. Setiap serangannya bisa berubah dalam waktu singkat.
Keduanya menerjang. Mereka memberikan tebasan dan tusukan pedang beruntun dengan cepat.
Pendekar Tanpa Perasaan menguatkan tekad. Dia tidak takut mati. Kalaupun benar harus mati, dia ingin mati secara gagah. Dia ingin mati sebagai pendekar yang membela tanah airnya sendiri.
Wushh!!! Wushh!!!
Dua bayangan lainnya terlihat menerjang Chen Li lagi. Kedua bayangan itu tentu saja dua musuh lainnya.
Empat pendekar kelas atas telah mengurung Pendekar Tanpa Perasaan dari jarak yang sangat dekat.
Empat batang pedang menyelimuti angkasa. Seluruh tubuh Chen Li diselimuti oleh sinar pedang dari empat lawannya. Mereka menyerang dengan ganas seperti singa kelaparan.
Srett!!!
__ADS_1
"Ahhh …"
Chen Li berteriak keras. Bagian punggung bocah itu terkena sayatan pedang cukup dalam. Dia hampir jatuh tersungkur. Tapi sebelum itu, dua serangan lainnya datang kembali.
Srett!! Srett!!!
Dua sayatan pedang kembali bersarang di tubuhnya. Kondisi Chen Li benar-benar mengkhawatirkan. Darah segar terus merembes keluar dari semua luka yang menganga itu.
Kondisinya melemah. Gerakannya juga mulai melambat.
Setelah melanjutkan pertarungan beberapa saat, akhirnya bocah itu ambruk. Dia jatuh dengan darah yang menggenangi seluruh tubuhnya. Bagi tokoh kelas atas seperti Huang Taiji, mungkin kekuatan gabungan dari empat lawannya itu bukan masalah. Tapi bagi Chen Li, kekuatan mereka sungguh mengerikan.
Apalagi dengan kemampuannya yang sekarang, dia belum mencapai tahap sempurna. Sehingga wajar kalau Pendekar Tanpa Perasaan tidak sanggup untuk meladeninya lebih jauh lagi.
Empat lawan Chen Li tertawa. Suara tawanya menggema sehingga menggetarkan tempat sekitar. Mereka amat bahagia. Pada akhirnya, bocah yang dikenal berbahaya mampus di tangan mereka.
Nafas Chen Li mulai melemah. Aura kehidupannya juga mulai meredup. Semua luka yang dia derita merupakan luka berat. Apakah dia akan tewas? Sungguhkah dirinya tidak akan selamat?
###
Sebelah barat dari pertarungan Chen Li, ada sebuah pertarungan yang jauh lebih dahsyat lagi.
Pertarungan itu milik Kaisar Wei An.
Orang paling berpengaruh di Kekaisaran Wei tersebut saat ini sedang bertarung melawan sepuluh orang tokoh dari Kekaisaran Sung. Semua lawannya merupakan tokoh kelas atas.
Pertarungan orang terkuat kedua itu telah berlangsung selama puluhan jurus. Meskipun begitu, tapi dirinya tidak terlihat kelelahan sedikitpun.
Nafas Kaisar Wei An masih teratur. Bahkan keringat yang keluar dari tubuhnya juga belum banyak. Dia tidak terlihat seperti orang yang sudah melangsungkan pertarungan sengit. Orang itu benar-benar tampak tenang.
Kaisar Wei An berdiri dengan santai. Tidak terlihat sama sekali jika dia sedang menerapkan kuda-kuda. Tapi meskipun begitu, seluruh tubuhnya telah siap kalau ada serangan tak terduga dari sebelah manapun.
"Sungguh beruntung kami bisa bertarung denganmu," ujar salah satu lawan Kaisar Wei An.
"Terimakasih. Aku juga merasa beruntung biss bertarung dengan pendekar hebat seperti kalian," jawab Kaisar itu.
"Sekarang kami telah mengepungmu, menyerahlah agar nyawamua selamat,"
"Aku tahu, tapi aku tidak akan pernah menyerah,"
"Apakah kau tidak sayang kepada nyawamu sendiri?"
"Lantas, apakah kalian yakin bisa membunuhku? Pertarungan yang sesungguhnya baru akan dimulai. Sejak tadi, aku hanya bermain-main saja," tukas Kaisar Wei An sambil tersenyum hangat.
__ADS_1
Sepuluh orang lawannya langsung marah. Bagi mereka, ucapan Kaisar Wei An barusan itu benar-benar terlewat sombong. Terlewat percaya diri.
Sepuluh orang tokoh tersebut tertawa mengejek. Dia sama sekali tidak percaya dengan ucapan yang terlalu tinggi itu.
"Hahaha, kalau begitu bagus. Aku ingin melihat sampai di mana kekuatan manusia sombong sepertimu,"
"Bersiaplah!"
Selesai berkata, sepuluh orang tersebut melesat dengan segenap kemampuan. Sepuluh macam serangan dan jurus berbeda langsung dikeluarkan dengan cepat.
Puluhan sinar menyelimuti bumi. Dua orang tokoh maju lebih dulu dengan sersnganya berupa jurus yang aneh. Dari dalam tanah keluar ribuan akar pohon yang besar. Akar itu kemudian bergerak lalu berusaha melilit Kaisar Wei An.
Dari belakang mendadak keluar kabut hitam yang sangat pekat. Kabut itu langsung menggulung dengan cepat.
Dua jurus aneh itu datang secara serempak. Kaisar Wei An dikepung dari dua arah berlawanan.
Belum lagi dari sisi kanan dan kiri. Dua sinar berbeda warna menerjang ke arahnya.
Wushh!!!
Satu bayangan hitam meluncur seperti anak panah yang lepas dari busur.
Trangg!!!
Tombak Dewa Api diangkat. Tombak pusaka itu beradu dengan satu batang pedang.
Wushh!!!
Serangan lainnnya datang lagi.
Sepuluh serangan telah menggempur Kaisar Wei An tanpa berhenti. Pertarungan kali ini jauh lebih dahsyat lagi. Dirinya dikepung dari segala arah tanpa ada celah tersisa untuk membebaskan diri.
Wushh!!! Gelegar!!!
Suara ledakan mulai mewarnai pertarungannya. Sebelas tokoh kelas atas tersebut sedang bertarung dengan jurus dan kekuatannya masing-masing. Mereka berusaha sekuat mungkin untuk membunuh lawannya.
"Meteor Jatuh Menghancurkan Bumi …"
Wushh!!!
Cahaya merah api melesat dengan cepat. Luncurannya mirip seperti meteor.
Kaisar Wei An mengeluarkan jurus tingkat tinggi. Tombak Dewa Api kemudian bergerak menyongsong setiap serangan lawannya.
__ADS_1
Senjata pusaka itu semakin terlihat menyala. Kekuatan yang terkandung di dalamnya juga semakin besar. Hawa panas menyeruak ke segala penjuru.
Kaisar Wei An benar-benar marah.