
Blarr!!!
Tanah bergetar saat lima belas pedang energi tersebut berbenturan dengan dua pedang energi milik Chen Li.
Tiga lawannya terdorong lima langkah ke belakang. Sedangkan Pendekar Merah masih berdiri tenang di tempat sebelumnya.
Tiga orang itu terkejut. Mereka tidak menyangka bahwa bocah kecil itu ternyata mampu menangkis serangannya. Bahkan dia sanggup membalikan kembali jurusnya.
Padahal mereka bukan orang sembarangan. Ketiganya merupakan tiga orang tokoh dari salah satu organisasi aliran sesat yang ada di Kota Qinghai.
Nama organisasi itu adalah organisasi Elang Hitam. Organisasi Elang Hitam merupakan organisasi yang ditakuti di kota tersebut. Sepak terjang anggotanya selalu menimbulkan keresahan.
Setiap apa yang mereka lakukan selalu menjadi buah bibir dalam dunia persilatan.
"Bagus, ternyata kau mempunyai sedikit kemampuan. Pantas saja kau berani sombong di depan kami,"
"Tentu saja, lagi pula kalian bukan lawanku,"
"Semakin lama kau semakin sombong,"
"Sebenarnya siapa kalian ini?"
"Kami sebagian petinggi Organisasi Elang Hitam," kata orang tersebut dengan bangga.
"Oh …" jawab Chen Li sangat singkat.
"Kau tidak mengetahui organisasi itu?"
"Tidak sama sekali. Mendengar pun baru sekarang. Mungkin Organisasi Elang Hitam adalah organisasi kecil yang tidak mempunyai nama," jawab Chen Li tidak kalah sombong.
Tiga tokoh itu langsung marah besar saat mendengar bocah itu berani menghina organisasinya. Aura kegelapan segera menyelimuti tempat tersebut. Mereka langsung mengeluarkan seluruh kekuatan yang dimilikinya.
Tiga tokoh Organisasi Elang Hitam itu setara dengan Pendekar Dewa tahap tiga. Chen Li sendiri sedikit ragu saat menyadari kekuatan mereka, meskipun kekuatan ketiganya berada di bawah dia sendiri, tapi kalau sudah bersatu, maka kenyataannya berbeda lagi.
Gelegar!!!
Suara dentuman keras terdengar memekakkan telinga. Tiga tokoh itu kemudian melesat sambil mengayunkan senjata mereka masing-masing.
Satu tombak dan dua pedang diayunkan dengan kekuatan tinggi. Tiga kilatan perak menerjang Pendekar Merah. Semuanya serangan ganas, semuanya serangan dahsyat.
Trangg!!!
Pedang Merah Darah menyambut tiga batang senjata pusaka tersebut. Keempat pusaka menempel dengan erat.
Tiga tokoh itu mengeluarkan kekuatan lebih besar lagi demi untuk mendorong tubuh Chen Li ke belakang. Sayangnya niat mereka tidak akan tersampaikan, sebab meskipun sudah mengerahkan kekuatan hingga ke tahap tertinggi, tubuh Pendekar Merah masih tetap berdiri kokoh di tempatnya.
__ADS_1
Wushh!!! Trangg!!!
Chen Li mendorong balik ketiga musuhnya. Mereka terdorong sebelas langkah hingga hampir tersungkur jatuh.
Pendekar Merah tidak diam saja. Dia kembali melesat ke depan sambil mengayunkan Pedang Merah Darah. Sejalur cahaya merah langsung menyeruak ke segala arah. Aura agung menyelimuti tempat sekitar.
Angin menderu. Hawa kematian terasa semakin pekat. Serangan Chen Li tiba dengan segulung kekuatan dahsyat.
Trangg!!! Trangg!!!
Chen Li mengirimkan serangkaian serangan hebat. Tanpa tanggung-tanggung, tiga lawannya langsung dia sikat secara bersamaan. Meskipun gabungan kekuatan mereka sangat kuat, tapi bocah itu tidak takut sama sekali.
Semakin tangguh lawan yang dihadapi, semakin semangat juga bocah itu.
"Amarah Malaikat Maut …"
Wushh!!!
Cahaya merah mendadak menyebar. Serangan yang dilayangkan oleh Chen Li semakin dahsyat lagi. Jurus kedua dari Kitab Pembawa Maut warisan dari Kaisar Naga Merah saat perang besar tiga tahun lalu sudah keluar.
Bocah itu menyerang tiga lawannya semakin ganas. Pedang Merah Darah mendadak lenyap dari pandangan mata. Sepak terjangnya semakin lama semakin membuat bulu kuduk berdiri.
Kekuatan Mata Dewa sudah dikeluarkan. Begitu juga dengan kekuatan tenaga dalam langit dan bumi.
Tiga tokoh itu mulai bekerja sama. Gabungan jurus mereka tidak kalah hebat. Tiga batang senjata pusaka itu mengurung Pendekar Merah tanpa kenal ampun.
Pertarungan keempat pendekar tersebut sudah melampaui seratus jurus. Mereka semakin ganas lagi. Chen Li dikeroyok dari segala sisi. Namun meskipun begitu, bocah itu tidak tampak kewalahan.
Yang terjadi justru malah sebaliknya. Pendekar Merah malah semakin mencecar lawannya secara perlahan.
Gelegarr!!! Duarr!!!
Benturan jurus terjadi kembali. Mereka terpental belasan langkah ke belakang.
"Ombak Bumi Menggetarkan Langit …"
Wushh!!!
Jurus gabungan Mata Dewa dilancarkan. Tanah mendadak menggulung lalu menerjang tiga lawannya seperti ombak yang mengamuk menghantam batu karang.
Tiga lawan Pendekar Merah turut serta mengeluarkan jurus dahsyatnya. Mereka melancarkan jurus itu secara bersamaan.
Gelegar!!!
Duarr!!! Duarr!!!
__ADS_1
Tiga tokoh itu terpental dua puluh langkah ke belakang. Mereka jatuh bergulingan akibat ada kekuatan lain yang turut serta menyerangnya.
Saat keadaan di sana kembali normal, di tempat tersebut sudah bertambah dua sosok lainnya.
Dua sosok siluman kera putih bersaudara.
San Ong dan Ong San.
Setelah sekian lama tidak bertemu, akhirnya kedua siluman kera itu bisa bertemu lagi dengan tuan mudanya.
Mereka memperlihatkan ekspresi gembira saat dikeluarkan dari Kantong Siluman itu.
"Akhirnya kami bisa bertemu dengan Tuan Muda kembali," kata San Ong smabil tersenyum khas siluman kera.
"Hehe, maaf kalau selama ini aku jarang mengeluarkan kalian. Sekarang saatnya sudah tiba, kalian telah keluar, oleh sebab itu, kita kembali bekerja sama seperti dulu lagi," kata Chen Li sambil berdiri di hadapan dua siluman peliharaan miliknya.
"Dengan senang hati. Mari kita lakukan sekarang …" teriak Ong San sangat bersemangat.
Wushh!!!
Ketiganya meluncur deras seperti anak panah yang lepas dari busur. Pada saat itu, semua lawan Chen Li sedang bersiap untuk melanjutkan pertarungan kembali.
Belum sempat jurusnya berhasil dikeluarkan, serangan dari bocah itu telah tiba.
San Ong dan Ong San langsung mencecar lawannya masing-masing. Keduanya melancarkan puluhan pukulan dan tendangan dahsyat kepada lawan.
Chen Li tidak mau kalah. Pedang Merah Darah ditebaskan dengan segenap kemampuan. Puluhan tebasan dan tusukkan pedang dilayangkan secepat mungkin.
Crashh!!! Bukk!!! Bukk!!!
Setelah puluhan jurus kemudian, akhirnya pertarungan itu telah selesai sepenuhnya.
Tiga lawan Pendekar Merah telah mampus. Yang satu tewas tanpa kepala. Sedangkan dua orang lainnya tewas karena mengalami luka dalam yang sangat parah.
Darah kental menggenangi tiga mayat itu. San Ong dan Ong San tertawa khas siluman kera.
"Akhirnya aku bisa mencabut nyawa manusia iblis lagi," ujar San Ong sangat senang karena dia bisa melakukan pertarungan kembali.
"Aku sangat senang bisa kembali membunuh manusia yang memang pantas untuk dibunuh," kata Ong San menimpali ucapan saudaranya.
"Ternyata kalian masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya," puji Chen Li kepada kedua siluman kera bersaudara tersebut.
"Meskipun sudah lama tidak melakukan pertarungan, tapi kekuatan kami tetap sama. Bahkan sekarang, mungkin kekuatan kami malah bertambah hebat lagi," ujar San Ong sedikit membanggakan dirinya.
Pendekar Merah menganggukkan kepalanya. Dia selalu bangga kepada dua siluman peliharaannya.
__ADS_1
"Tuan Muda, ke mana tujuan kita selanjutnya?" tanya San Ong.
"Sekarang aku ingin mencari informasi tentang Organisasi Elang Hitam," kata Chen Li, suaranya kembali dingin.