Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Orang-orang Bodoh


__ADS_3

Sepanjang menunggu makanan datang, Shin Shui terus mengawasi enam orang yang ada di hadapannya itu.


"Apakah kalian kenal mereka?" tanya Shin Shui kepada orang-orang yang menjaganya.


Mereka saling pandang secara bergantian sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Shin Shui barusan.


"Di antara kami, tidak ada yang mengenal mereka pahlawan," kata salah seorang.


"Apakah ada yang harus kami kerjakan?" tanya orang di sampingnya.


"Tidak perlu. Kalian tenang saja, mari duduk dan kita makan bersama," ajak Shin Shui.


Awalnya mereka menolak karena memandang tinggi Shin Shui sebagai pemimpin dunia persilatan, tetapi karena dia mendesaknya, akhirnya mereka pun menurut.


Setelah mereka duduk beberapa saat, tak lama makanan pun datang. Mereka segera menyantap hidangan yang nikmat itu.


Setelah selesai, Shin Shui segera membayar dan memberikan beberapa keping emas kepada orang yang sudah menjaganya.


Mereka berniat untuk tetap menolak pemberian Shin Shui, tapi Pendekar Halilintar itu tetap memaksanya.


"Kalau mau pergi, pergilah. Terimakasih karena kalian sudah menjagaku," kata Shin Shui ramah.


Tapi mana mau mereka pergi begitu saja? Sedangkan pendekar yang mereka hormati masih berada di sana. Tentu saja mereka akan menolak.


"Maaf pahlawan. Anda belum pergi, biarlah kami tetap mendampingi," katanya kepada Shin Shui.


Dia tidak berkata lebih lanjut. Bahkan orang-orang yang menjaganya itu di suruh diam karena telinga Shin Shui terasa panas.


Orang-orang yang di hadapannya justru sedang membicarakan dia sendiri.


"Terdengar orang-orang asing tersebut bercerita seputar Kekaisaran Wei.


"Apakah kau sudah tahu bagaimana sosok yang disebut Pendekar Halilintar itu?" tanya seseorang bertubuh gemuk.


"Belum. Bahkan bertemu pun belum pernah. Tapi menurut ketua, orang itu memiliki postur tubuh tinggi tetap dan gagah. Dia selalu memakai pakaian berwarna biru terang, bahkan jubahnya juga berwarna biru," jawab seorang lainnya.


"Kalau hanya ciri-ciri seperti itu, tentu saja akan sangat susah mengenalinya. Lagi pula, orang yang memakai pakaian dan jubah biru bukanlah dia seorang saja," timpal rekannya yang disetujui oleh empat orang lainnya.


"Persetan dengan ciri-cirinya. Yang jelas kalau ada orang yang menyebut namanya, kita interogasi saja untuk mendapatkan keterangan,"

__ADS_1


"Kalau orang itu tidak mau? bagaimana? Kau pikir bisa menemukan Shin Shui semudah yang kau kira? Ingat, dia itu pemimpin dunia persilatan. Jangankan untuk bertanya sembarangan, bicara berlebihan pun kita bisa mati di bunuh oleh para pendekar sini," ucap seseorang yang sepertinya sudah tahu keberatan nama Shin Shui.


Di sisi lain, Shin Shui merasa geli dengan orang-orang asing tersebut. Sudah jelas ciri-ciri yang mereka sebutkan dan orang yang mereka cari ada di sini. Tetapi justru mereka tidak menyadarinya sama sekali.


Shin Shui kemudian menyuruh orang-orang di sekitarnya diam.


Setelah itu, dia segera menghampiri keenam orang tersebut sambil berbasa-basi sebentar.


"Maaf saudara sekalian, bolehkah aku yang muda ini ikut duduk bersama?" tanya Shin Shui sambil tersenyum ramah.


Keenam orang asing itu berpandangan satu sama lain. Lalu tak lama orang yang di anggap sebagai pemimpin menganggukkan kepalanya.


"Silahkan saudara muda. Mari-mari, kita nikmati arak bersama," kata si pemimpin berusaha untuk ramah.


Mereka minum arak bersama sambil mencoba unruk bercengkrama lebih dekat. Terdengar seseorang bertanya kepada Shin Shui tentang dari mana asalnya.


"Aku berasal dari daerah sekitar sini. Maaf, tadi saudara sekalian membicarakan Shin Shui. Apakah saudara ada masalah dengannya? Kalau iya, aku mungkin bisa membantu," katanya menunjukkan keseriusan.


Awalnya keenam orang itu sedikit takut untuk menceritakannya, tapi tak lama seorang mengiyakan pertanyaan Shin Shui.


"Tapi kami bukanlah musuhnya. Kami hanya sahabat lama dari beliau," ucapnya kepada Shin Shui berusaha memberikan ekspresi serius pula.


"Ah, benarkah saudara sekalian sahabatnya?"


"Tentu. Dia selalu berada di Sekte Bukit Halilintar," jawab Shin Shui.


"Saudara tahu jalan untuk ke sana?"


"Tahu. Apakah ada yang bisa dibantu?"


"Bisakah saudara mengantarkan kami ke sana?" tanyanya.


"Bisa tuan. Mari, kalau begitu kita segera ke sana saja," ujarnya kemudian berdiri dari tempat duduk diikuti enam orang tersebut.


"Li'er, bawa Kiam'er pulang lebih dulu. Ayah akan mengurus orang-orang ini," kata Shin Shui mengirimkan suara lewat pikiran kepada Chen Li.


Bocah itu mengangguk tanda mengerti. Setelah Shin Shui pergi bersama keenam orang, dia pun segera pergi bersama Eng Kiam. Tujuannya tentu saja ke Sekte Bukit Halilintar.


Shin Shui dan keenam orang sudah berjalan cukup jauh. Dia membawa 'tamu' tersebut ke dalam hutan yang memiliki halaman luas di sana.

__ADS_1


Sepanjang jalan, mereka semua berbicara menanyakan keadaan Kekaisaran Wei. Terutama tentang dunia persilatan.


Setelah tepat berdiri di halaman luas, keenam orang itu sedikit keheranan.


"Kenapa suadara membawa kami kemari?"


"Bukankah saudara ingin bertemu dengan Shin Shui yang menjabat sebagai Kepala Tetua Sekte Bukit Halilintar?" tanyanya.


Mereka semua mengaggguk berbarengan.


"Nah, sekarang kalian sudah bertemu dengan orangnya. Akulah orang yang kalian cari," ucap Shin Shui seketika berlaku serius.


"Saudara jangan bercanda. Kami tidak suka dipermainkan," kata seseorang yang emosional.


"Aku tidak bercanda. Memang akulah orang yang kau cari itu. Kalau tidak percaya, lihat lencana ini," tutur Shin Shui sambil memperlihatkan lencana Sekte Kepala Tetua Bukit Halilintar.


Keenam orang itu terkejut. Bahkan tubuhnya sedikir tergetar, tentu saja, karena mereka tidak menyangka sama sekali atas kejadian sekarang ini.


"Ja-kadi kau …"


"Benar. Aku Shin Shui si Pendekar Halilintar. Mau apa kau mencariku?" tanyanya sambil memandang tajam.


Mereka tidak menjawab, sebaliknya, keenam orang tersebut justru langsung mencabut senjata masing-masing lalu kemudian menyerang Shin Shui secara tiba-tiba.


Sayangnya mereka tidak mengukur dirinya sendiri. Keenam orang itu hanya tahu nama Shin Shui dan reputasinya saja, tapi tidak tahu bagaimana kekuatanya.


"Orang-orang bodoh," kata Shin Shui masih terdiam di tempatnya berdiri.


Enam pendekar sudah tiba dengan serangan dan senjatanya masing-masing. Di mata mereka, tubuh Shin Shui merupakan sasaran yang empuk.


Walaupun mereka merupakan Pendekar Dewa tahap satu dan melakukan serangan secara bersamaan, tapi sayangnya hal itu belum cukup untuk membunuh Shin Shui. Jangankan membunuh, melukai pun rasanya mustahil.


Shin Shui mengibaskan tangan kanannya ke arah kiri. Seketika serangkum angin dahsyat langsung menerjang ke arah enam pendekar.


Mereka yang tidak menyangka bahwa kekuatan Shin Shui sebesar ini, saat itu juga langsung terpental sepuluh langkah ke belakang.


Shin Shui bergerak dengan sangat cepat. Kedua jari tangannya menjepit setiap senjata lawan. Gerakannya sangat sulit diikuti mata biasa. Hanya dalam hitungan detik, enam senjata sudah patah menjadi dua bagian.


Tentu saja mereka merasa sangat terkejut. Tidak terasa keringat dingin mengucur deras di punggung mereka. Tetapi walaupun begitu, wajah mereka tetap garang dan rkdsk menunjukkan rasa takut sedikitpun.

__ADS_1


Setelah mematahkan semua senjata lawan, Shin Shui segera menotok jalan darah mereka sehingga keenamnya berubah seperti patung.


"Siapa yang menyuruh kalian dan apa tujuan mencariku?" tanya Shin Shui dengan sorot mata tajam.


__ADS_2