
"Hemm, mudah sekali kau berkata seperti itu. Apakah kau tidak tahu siapa kami heh?" kata seorang tua bertampang garang.
"Siapapun kalian, aku tidak peduli. Maaf, kalian belum pantas untuk memberitahukan hal itu kepadaku," ucap Li Feng sombong.
Sifat gilanya keluar. Masalah memancing amarah, Li Feng memang jagonya. Orang paling sabar sekalipun sanggup dia buat marah jika sifat gilanya sudah keluar. Di dunia ini mungkin hanya kehitung jari orang-orang yang dapat melakukan hal tersebut. Atau bahkan hanya dia sendiri.
Tapu mungkin juga, suatu saat Li Cun juga akan mempunyai sifat gila tersebut. Meskipun tidak akan sehebat Li Feng dalam hal ini.
Mendengar jawaban pemuda yang begitu sombong, keempat orang tua tersebut tentu saja naik pitam saat itu juga. Wajahnya menggambarkan kekesalan. Apalagi si tuan muda, hanya saja dia tahu diri untuk saat ini.
Tetapi walaupun begitu, sebenarnya level pelatihan yang dia miliki justru sudah terbilang tinggi. Seperti yang diceritakan sebelumnya, tuan muda bernama Mo Ki itu telah mencapai tingkatan Pendekar Dewa tahap tiga pertengahan.
"Mulutmu sombong sekali. Biar kucoba sampai di mana kau akan bertingkah," kata seorang tua berpakaian longgar.
Dia mengebutkan tangannya. Dari kebutan itu keluar serangkum angin besar cukup dahsyat.
Tapi Li Feng tetaplah Li Feng.
Hanya dengan lompatan ringan, kebutan hebat tersebut gagal mengenai sasaran.
"Adik Cun, menjauhlah. Biar kakakmu yang tampan memberikan pelajaran dulu kepada orang-orang tidak tahu diri ini," ucap Li Feng yang sudah mengetahui bahwa pertempuran tidak akan terhindarkan lagi.
Li Cun mengangguk meskipun agak kesal dengan kata tampan yang Li Feng lontarkan barusan. Dia menjauhi lapangan luas di pinggir danau tersebut. Sambil memperhatikan enam orang itu, sesekali dia juga melirik ke tempat sekitar barang kali ada sesuatu mencurigakan.
Melihat serangannya gagal, si orang tua tidak panik. Justru serangan tadi sebenarnya hanya untuk mengukur sampai di mana kekuatan lawan. Sebab dia sendiri hanya bisa melihat bahwa pemuda itu baru mencapai Pendekar Dewa tahap dua saja.
Namun, orang tua tersebut tidak percaya. Alasannya karena sebelumnya si oemuda dalam satu kedipan mata mampu menampar rekannya.
"Hehe, ternyata kepandaianmu lumayan juga. Pantas berani jual lagak," ejek rekannya.
"Maaf serendah-rendahnya para orang tua, aku yang muda sudah melakukan hal tidak sopan tadi," kata Li Feng mendadak sopan.
"Hehe, tidak mengapa anak muda. Ternyata kau sudah jeri, lalu sekarang, apakah kau mau ikut dengan kami untuk menghadap ke gubernur?" tanyanya.
__ADS_1
"Tentu saja. Asalkan kalian bersedia memberikan kepala untukku," kata Li Feng tertawa.
Hati keempat pendekar tua itu benar-benar sakit. Mereka mengira bahwa anak muda ini sudah takut karena sifatnya berubah lunak dalam sekejap. Siapa sangka, selanjutnya justru malah semakin menjadi.
"Bangsat. Aku patahkan lehermu,"
"Banyak bicara. Kalau memang mampu lakukanlah. Jangan hanya membual, dasar orang tua bau tanah" jawab Li Feng mengejeknya.
Amarah mereka sudah meluap. Selanjutnya senjata yang mereka bawa sudah dicabut. Tiga memakai senjata, satu orang yaitu si pendekar tua berpakaian longgar tidak menggunakan senjata apapun.
Golok, tombak dan ruyung (double stick) sudah tergenggam di tangan mereka. Selang sesaat, keempat pendekar tua sudah maju menyerang ke arah Li Feng.
"Bagus. Perlihatkan kemampuan kalian kalau memang sanggup mematahkan leherku," seru Li Feng dengan berani.
Tiga senjata sudah melesat ke arahnya mengincar beberapa titik penting dalam tubuh. Satu kebutan dahsyat kembali menerjangnya.
Li Feng tidak suka basa-basi kalau sudah begini keadaannya. Hanya dengan satu kibasan tangan, dua bilah pedang dari Cincin Ruang sudah tergenggam erat di tangan kanan dan kirinya.
"Trangg …"
Benturan lima buah senjata tajam terdengar mengawali pertarungan. Percikan api berpijar di siang bolong. Li Feng segera menarik kembali dua batang pedangnya karena angin kebutan sudah datang.
Dia melompat tinggi untuk menghindari jurus tersebut. Begitu jurus lewat, tubuhnya segera menukik sambil berputar memainkan dua batang pedang.
Gerakannya sangat cepat sehingga dia terlihat seperti putaran angin puyuh. Tapi keempat orang tua tersebut bukanlah pendekar kemarin sore, pengalamannya dalam pertarungan sudah sangat banyak.
Melihat serangan seperti itu, keempatnya segera melompat ke samping.
Sayangnya Li Feng juga bukan pendekar baru di rimba hijau. Begitu serangan gagal, pedangnya segera memburu seorang pendekar tua yang bersenjata golok.
Si orang tua tidak gentar. Dia pun mengayunkan goloknya dengan lihai. Melihat bahwa pemuda itu memiliki kekuatan hebat, maka jurusnya segera dia gelar.
Babatan dan bacokan golok membayangi Li Feng. Setiap terjangan goloknya menimbulkan satu kekuatan dahsyat. Jurus-jurus maut sudah mereka keluarkan.
__ADS_1
Tiga rekannya tidak mau kalah, mereka serempak menyerang dari tiga sisi dengan berbagai jurus yang dikuasai. Pertarungan sengit mulai terjadi. Benturan senjata terus mengiringi jalannya pertarungan.
Jurus demi jurus terlihat beraneka ragam. Suara gemuruh terus terdengar membuat telinga sakit.
Li Feng semakin bersemangat. Gerakan jurus pedangnya semakin mantap dan mengerikan. Kilatan cahaya putih dari pedang kembar tersebut menyelimuti kelima sosok pendekar itu.
Empat lawannya terkejut untuk beberapa saat. Tidak mungkin seorang Pendekar Dewa tahap dua mampu menahan serangan gabungan mereka yant dikeluarkan secara bersamaan.
"Bocah, tunjukan kekuatan aslimu. Jangan disembunyikan seperti pengecut," kata orang tua bersenjatakan tombak.
"Hehe, kalau kalian ingin melihat yang sebenarnya, baik. Aku akan lakukan," ucap Li Feng lalu dia memutarkan tubuhnya.
Begitu selesai berputar, kekuatan yang sangat menekan segera terasa oleh keempat pendekar tua. Hawa pembunuh yang sangat kental dsn memberikan segera mereka rasakan.
Li Feng memang tidak mengeluarkan kekuatan aslinya. Dia hanya memperlihatkan kekuatannya sampai Pendekar Dewa tahap enam akhir.
Tetapi hal ini saja sudah membuat keempat lawannya tergetar hebat. Apalagi kalau dilihat dari semua jurus dan cara bertarungnya, tentu pemuda ini memiliki pengalaman yang luas, pikir mereka.
"Kenapa kalian seperti ketakutan? Hahaha, sayang, semaunya sudah terlambat. Sekali aku bertarung, maka jangan harap bisa lepas sebelum ada luka yang berarti," kata Li Feng dengan dingin.
Empat pendekar tua tersebut merasakan bahwa ucapan pemuda itu ada benarnya. Maka tanpa ragu lagi, dengan kekuatan penuh, mereka mulai menggempur Li Feng kembali.
Pertarungan dengan jurus dahsyat semakin berlangsung seru. Li Feng di keroyok dari segala sisi oleh empat pendekar tua. Jurus mereka semakin mematikan. Gerakan senjatanya semakin tajam.
Sementara itu, di sisi lain, diam-diam di tuan muda Mo Ki pergi dari sana. Entah ke mana tujuannya, yang jelas sebelum pergi, ada senyuman licik terlukis di bibirnya.
"Tarian Pedang Kembar …"
"Wushh …"
Li Feng marah. Jurus dahsyat yang dia pelajari mulai keluar. Tubuhnya bergerak ke sana kemari seperti seorang wanita sedang menari. Seperti penari yang mampu membawa sebuah tarian dengan sangat indah dan menawan.
Kalau tarian di acara-acara tertentu memberikan kebahagiaan, maka tarian yang dilakukan oleh Li Feng ini justru membawa kematian.
__ADS_1