Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Sedikit Kecewa


__ADS_3

Kaisar Wei An mulai curiga kepada sosok berpakaian dan bercadar serba hitam itu. Tetapi dia belum dapat memastikannya dengan jelas.


Siapa orang itu? Mengapa dia tiba-tiba menyerang Istana Kekaisaran? Apakah orang tersebut mempunyai nyawa sepuluh sehingga berani mendatangi Istana?


Kaisar Wei An tidak bisa menjawab semua pertanyaan yang mendadak timbul dalam benaknya. Yang terpenting baginya saat ini adalah dia harus mengalahkan orang tersebut.


Hanya saja yang menjadi pertanyaannya, apakah dia sanggup untuk mengalahkannya?


"Seperti inikah kekuatan Kaisar Wei An yang sekarang? Aku kira lama tidak bertemu kau bertambah kuat. Ternyata aku keliru, kau justru menjadi lemah. Jauh lebih lemah dari apa yang aku bayangkan. Ke mana Kaisar Wei An yang kuat dan selalu gagah perkasa?" tanya Shin Shui sambil memandang tajam ke arahnya.


Pendekar Halilintar merasa sedikit kecewa. Dia tidak pernah menyangka bahwa Kaisar Wei An jadi selemah ini. Dia bertambah yakin bahwa di balik semua ini, ada sebuah kejadian yang membuat orang nomor satu itu berubah.


Tapi, sesuatu apakah itu?


Shin Shui memeras otaknya. Dia sedang mencari jawaban terkait semua kejadian yang sedang berlangsung ini.


Rembulan semakin bergeser ke barat. Suara jangkrik dan decitan kelelawar memecah kesunyian. Meskipun suaranya tidak terbilang keras, namun jika dalam keadaan sunyi seperti sekarang, suara binatang itu bisa terdengar dengan jelas.


Wushh!!!


Kaisar Wei An bergerak lagi. Tombak Dewa Api sudah melancarkan serangan kembali. Delapan tusukan maut ditujukkan ke berbagai macam titik penting di tubuh Shin Shui.


Desiran angin yang tercipta karena kecepatan luncuran tombak membuat kulit terasa seperti terbakar. Panasnya bukan main. Untung bahwa Shin Shui sudah menyalurkan hawa murni ke seluruh tubuhnya sehingga dia mampu menahan hawa panas tersebut.


Tubuhnya berkelit beberapa kali agar terhindar dari ancaman maut. Kedua tangannya kembali bergerak untuk memapak serangan Kaisar Wei An.


Dari kedua telapak tangan Pendekar Halilintar keluar segulung angin yang mampu menolak hawa panas serta serangannya.


Shin Shui memutuskan untuk membalas serangan. Hanya sekejap mata, tubuhnya sudah berada di atas lalu dia meluncur melancarkan dua kali serangan tapak yang dahsyat.

__ADS_1


Suara bergemuruh terdengar seperti deburan ombak yang menerpa batu karang. Dia berputar seperti bor, kecepatannya sulit untuk diikuti mata telanjang.


Tusukan dan sabetan Tombak Dewa Api yang sebelumnya dilancarkan dengan ganas oleh Kaisar Wei An mendadak melambat. Senjata pusaka itu seperti tersedot oleh satu kekuatan yang menghisap segala macam sesuatu.


Prakk!!!


Benturan telapak tangan terjadi. Kejadian ini sungguh cepat dan diluar dugaan semua orang.


Entah bagaimana caranya, tiba-tiba saja Tombak Dewa Api sudah berpindah tangan. Tombak pusaka kelas atas itu sudah berada dalam genggaman Shin Shui.


Kaisar Wei An tercekat. Dia tidak melihat bagaimana lawannya merebut pusaka itu. Orang itu hanya merasakan ada kekuatan hebat yang menerjang ke tangan kanannya. Detik selanjutnya, tahu-tahu Tombak Dewa Api sudah lepas dari genggaman.


Wushh!!! Bukk!!!


Shin Shui melesat sambil melancarkan hantaman dengan telapak tangan kirinya. Serangan itu dilakukan secara mendadak sehingga siapapun tidak akan menyangkanya.


Semua tokoh penjaga yang melihat kejadian ini dibuat sangat terkejut. Mereka mulai melihat gelagat aneh dalam diri Kaisar Wei An.


Orang-orang itu ingin turun tangan, tapi sayangnya hal itu hanya mimpi. Karena jangankan untuk balas menyerang, untuk menggeser posisi saja rasanya sangat sulit sekali. Mereka tidak bisa melakukan apapun. Kekuatan aneh dan dahsyat yang mengekang dirinya belum juga hilang sampai sekarang.


Wushh!!!


Shin Shui meluncur ke arah Kaisar Wei An. Dia langsung menyambarnya seperti seekor burung elang yang menyambar mangsa. Pendekar Halilintar kemudian melesat masuk ke dalam Istana Kekaisaran.


Gerakannya sungguh cepat, seperti halnya sebuah kilat yang menyambar ke atas bukit. Hanya sesaat saja, Shin Shui sudah berada di dalam ruangan khusus pertemuan yang biasa digunakan oleh Kaisar.


Dia menjatuhkan tubuh Kaisar Wei An cukup kasar. Kemarahan dalam benaknya sudah tidak bisa dilukiskan lagi. Tapi bagaimanapun juga, Shin Shui tidak bisa meluapkannya secara langsung.


Semarah apapun dirinya, dia masih ingat dan sadar bahwa orang yang di hadapannya saat ini adalah orang terpenting di Kekaisaran Wei. Keselamatan seluruh rakyat berada di tangannya. Dia juga sosok paling dihormati oleh semua orang.

__ADS_1


Bagaimana mungkin Shin Shui dapat melakukan tindakan kurang ajar terhadapnya? Tentu saja dia tidak bisa melakukannya.


Terkait perlakuannya barusan, Pendekar Halilintar melakukan semua hal itu justru demi keselamatan rakyat. Dia tahu bahwa Kaisar Wei An sedang berada dalam sebuah masalah. Ada hal lain dalam dirinya.


Orang itu seakan tidak sadar atas apa yang telah dilakukannya. Karena alasan itulah, Shin Shui justru berniat menyadarkannya.


Pendekar Halilintar mendadak membuka semua penyamarannya.


Kaisar Wei An terkejut setengah mati. Tetapi dia tidak marah sama sekali. Kaisar justru malah merasa sangat takut. Wajahnya mendadak pucat pasi seperti mayat. Dia perlahan bangun dan bangkit berdiri. Orang itu langsung duduk di meja lalu menyambar guci arak dan langsung ditenggaknya tanpa menuangkan ke dalam cawan lebih dulu.


Shin Shui hanya diam saja. Dia tidak berkata sepatah kata pun. Orang terkuat di Kekaisaran Wei itu ikut duduk di hadapan Kaisar. Dia membiarkan Kaisar Wei An, tanpa melarang ataupun menyuruhnya.


Kaisar Wei An meminum arak tanpa berhenti. Dia seperti orang yang sedang haus. Bukan haus akan minum air, tapi haus akan minum arak. Dia benar-benar seperti setan arak yang belum minum selama setahun.


Shin Shui mulai paham apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dia semakin yakin bahwa Kaisar Wei An sedang menghadapi sebuah masalah besar. Masalah rumit yang tidak mungkin dimengerti oleh orang lain.


Jika bukan setan arak tetapi minum arak dengan rakus, siapapun bakal mengerti bahwa orang itu sedang menghadapi sebuah musibah. Arak adalah pelarian. Bagi sebagian orang, arak adalah teman terenak saat berbagai macam masalah dalam hidup datang mendera.


Selain arak, apalagi yang mampu menghilangkan masalah yang sedang dihadapi?


Setelah satu guci arak mulai habis, Kaisar Wei An baru berhenti. Jubah Dewa Api basah oleh arak yang berceceran. Begitu juga dengan sebagian wajahnya. Seluruh tubuh Kaisar menjadi bau arak.


"Masalah apa yang sebenarnya sedang kau hadapi?" tanya Shin Shui setelah orang di hadapannya mulai tenang.


"Masalah besar. Masalah yang sangat rumit, masalah yang tidak akan dimengerti oleh orang lain, termasuk mungkin kau sendiri. Masalah ini benar-benar masalah paling rumit dalam kehidupan," jawab Kaisar Wei An seenaknya.


Shin Shui sudah paham masalah apa yang sedang dihadapi oleh sosok yang dianggapnya sahabat tersebut.


Jika bukan masalah cinta, memangnya masalah apa lagi yang paling rumit di kehidupan ini?

__ADS_1


__ADS_2