
"Hebat, hebat. Ternyata Pendekar Halilintar sesuai dengan apa yang diceritakan oleh kebanyakan orang," puji Maling Seribu Tangan saat menyadari bahwa Shin Shui tidak terpengaruh dengan suara tawanya.
Dia sudah berhenti tertawa. Dalam hatinya, kakek tua itu cukup dibuat terkejut oleh Shin Shui. Baru kali ini dia menyaksikan ada seorang pendekar yang tahan terhadap suara tawanya. Padahal suara tawa tadi bukan suara tawa sembarangan.
Justru itulah Jurus Tawa Penarik Roh miliknya. Selama ini, setiap orang yang mendengar suara tawa tersebut, tidak ada yang selamat. Semuanya tewas dengan darah yang terus keluar dari seluruh lubang di tubuhnya.
Dia tidak pernah menyangka bahwa pendekar dari Kekaisaran Wei ternyata ada yang sanggup bertahan dari Jurus Tawa Penarik Roh. Padahal dirinya yakin, di tempat ini tidak ada yang sanggup menahannya.
Di sisi lain, Shin Shui sendiri sebenarnya merasa sangat sakit. Terlebih lagi kedua telinganya. Sepasang telinga itu seperti ditusuk oleh ribuan pedang secara serentak. Bahkan rohnya juga terasa ditarik paksa oleh satu kekuatan yang sangat dahsyat.
Untungnya Pendekar Halilintar pernah berlatih tenaga dalam langit bumi yang merupakan tenaga dalam paling murni. Setelah tadi merasa ada yang aneh dalam suara tawa si Maling Seribu Tangan, Shin Shui langsung menyalurkan hawa murni dan tenaga dalamnya ke seluruh tubuh.
Oleh karena alasan itulah dirinya bisa bertahan hingga detik ini.
"Jurus yang terkandung dalam suara tertawamu memang cukup lumayan. Hanya saja kau tidak akan dapat membunuhku jika mengandalkan jurus rendahan seperti itu," kata Shin Shui mengejek Maling Seribu Tangan.
Wajah kakek tua itu menjadi merah padam. Dia menggebrak meja yang ada di pinggirnya hingga membuat meja itu hancur berantakan. Bahkan guci arak yang ada di sana juga langsung hancur berkeping-keping.
"Mulut busuk. Aku harus merobek mulutmu itu,"
"Aku tidak melarangmu. Hanya saja ada satu pertanyaan yang ingin aku ajukan kepadamu," kata Shin Shui dengan tenang.
"Katakan apa yang ingin kau tanyakan,"
"Sebenarnya apa yang kau inginkan sehingga berani berbuat ulah di Kotaraja ini?"
"Aku menginginkan kepalamu dan Cincin Ruang yang ada padamu,"
"Hemm, tapi kau telah melakukan kesalahan besar. Bagaimana jika pihak Istana Kekaisaran melihat cahaya merah tadi? Bukankah itu artinya mereka juga bisa menemukanmu,"
"Tentu saja tidak,"
"Kenapa?"
"Karena keistimewaan cahaya merah tadi adalah tidak bisa terlihat oleh semua orang. Cahaya itu hanya akan terlihat oleh orang yang memang aku tujukan,"
__ADS_1
"Dan kau menujukan cahaya merah itu kepada para warga dan aku seorang?"
"Tepat sekali,"
"Hebat, benar-benar hebat," ujar Shin Shui memuji Maling Sakti.
Pendekar Halilintar baru tahu keistimewaan cahaya merah itu. Pantas saja si Maling Seribu Tangan berani menampakkan dirinya di Kotaraja. Sekarang Shin Shui tahu alasannya.
"Aku memang hebat. Karena itulah aku ingin menantangku mengadu nyawa,"
"Kau bersungguh-sungguh?"
"Aku tidak pernah main-main,"
Wushh!!!
Selesai dia berkata demikian, si Maling Seribu Tangan langsung bergerak sangat cepat ke arah Shin Shui. Dia melemparkan sepuluh batang jarum perak. Cahaya perak segera terlihat, tapi kemudian segera lenyap kembali.
Sepuluh jarum itu telah ditangkap oleh Pendekar Halilintar. Namun sebelum dia melemparkannya kembali, si Maling Seribu Tangan telah tiba dengan serangan utamanya.
Pendekar Halilintar seakan dikurung oleh ribuan tangan dari berbagai penjuru. Pukulan itu datangnya tanpa diduga.
Shin Shui masih diam. Dia hanya bergerak menghindari semua serangan lawan dengan sangat sederhana. Tanpa gaya. Tanpa kembangan. Gerakannya benar-benar sederhana. Tapi di balik kesederhanaan itulah terdapat sebuah hal yang sulit dijelaskan.
Semua serangan Maling Seribu Tangan tidak ada yang berhasil mengenai tubuh Pendekar Halilintar. Orang tua itu seakan hanya memukul tempat kosong saja.
Seumur hidupnya, dia baru mengalami kejadian memalukan ini. Karena rasa malu yang demikian tinggi, dia langsung menggeram marah.
Kekuatannya dikeluarkan hingga ke titik paling tinggi. Si Maling Seribu Tangan menggeram marah, kakek tua itu melompat ke atas lalu melancarkan sebuah jurus yang paling dahsyat.
Ribuan tangan seakan mendadak muncul dari langit. Ribuan tangan itu membawa segumpal hawa kematian yang sangat pekat. Sinar hitam menyelimuti alam semesta.
Suara bergemuruh terdengar jelas sekali hingga membuat sakit telinga yang mendengar.
Duarr!!!
__ADS_1
Empat hantaman telapak tangan dengan telak bersarang di dada Pendekar Halilintar. Shin Shui terlempar cukup jauh ke belakang.
Melihat serangannya berhasil, si Maling Seribu Tangan terlihat sangat gembira. Dia berpikir bahwa serangannya benar-benar sukses. Padahal, saat itu juga Shin Shui sudah melesat kembali tanpa dia sadari sebelumnya.
Selapis kekuatan yang sangat dahsyat dikeluarkan melalui pukulan tangan kanannya. Pukulan itu langsung melesat lebih cepat dari sambaran petir.
Blarr!!!
Si Maling Seribu Tangan terlempar dua puluh langkah ke belakang. Darah segar meleleh keluar dari sudut mulutnya. Matanya kunang-kunang. Dia tidak habis pikir bagaimana Shin Shui dapat melancarkan serangan sedahsyat itu.
Padahal dirinya juga tahu betul bahwa Pendekar Halilintar tidak melakukan persiapan sebelumnya. Biasanya, saat seorang pendekar berniat mengeluarkan jurus yang sangat dahsyat, pendekar itu akan melakukan sebuah persiapan untuk sekedar mengumpulkan kekuatan.
Tapi Pendekar Halilintar sama sekali tidak melakukan itu.
Dia langsung melancarkan pukulan dahsyat begitu saja. Gerakannya terlihat sangat sederhana sekali. Seperti juga gerakan yang sebelumnya dia perlihatkan.
Hanya saja, lagi-lagi di balik kesederhanaan itu terdapat sesuatu diluar nalar manusia.
Si Maling Seribu Tangan bangkit berdiri. Tapi kuda-kudanya tidak sekokoh tadi. Pandangan matanya mulai kabur. Seluruh tenaga dalamnya seakan lenyap tanpa sebab yang jelas.
"Pukulan Dewa Halilintar …"
Gelegar!!!
Shin Shui tiba-tiba muncul tepat di hadapannya. Dia langsung melancarkan satu pukulan keras yang amat dahsyat. Maling Seribu Tangan kembali terlempar sangat jauh sekali. Dia bergulingan puluhan kali lalu akhirnya berhenti setelah menabrak gubuk tua tempat duduknya tadi hingga membuat bangunan bobrok itu roboh.
Debu mengepul tinggi ke atas. Keadaan di sana berubah seratus delapan puluh derajat hanya dalam waktu yang terbilang singkat.
Darah mendadak terlihat mengalir. Bau amisnya tercium sedikit busuk. Tanpa di beritahu pun Shin Shui sudah tahu bahwa si Maling Seribu Tangan telah mampus.
Begitu debu lenyap, Pendekar Halilintar dapat melihat bahwa kakek tua itu tewas dalam posisi tubuh telungkup. Darah segar terus mengalir melalui sudut mulutnya. Matanya masih melotot.
Dia seakan tidak percaya bahwa dirinya dapat terbunuh dalam sebuah pertarungan yang baru berlangsung empat puluhan jurus.
Setelah keadaan Kekaisaran Wei memburuk, Shin Shui memang tidak suka lagi bermain-main dalam setiap pertarungannya. Setiap terjadi pertarungan, Pendekar Halilintar akan berusaha menghabisi musuhnya secepat mungkin.
__ADS_1