
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Han Ciu Ling saat melihat Huang Taiji melamun cukup lama.
Pendekar Pedang Tombak sedikit terkejut. Dia menoleh ke arah wanita itu.
"Aku sedang memikirkan siapa wanita itu sebenarnya. Hemm, tak disangka aku bisa tertipu oleh penyamaran rendahan seperti ini,"
"Jadi kau benar-benar tidak membawa kabur cucuku?"
"Tentu saja tidak. Lagi pula, untuk apa aku membawa kabur cucumu? Apa keuntungannya bagiku? Aku sendiri tidak mengetahui apa-apa di balik semua kejadian ini sebelumnya,"
Keduanya langsung terdiam. Semilir angin berhembus membwa sejuta teka-teki. Masalah baru menghampiri Huang Taiji. Untuk saat ini, dia tidak tahu harus berbuat apa-apa.
Orang tua itu membuka peti mati kembali. Dia melihat luka yang ada pada mayat-mayat tersebut. Setelah diteliti lebih jauh, Huang Taiji menemukan sebuah petunjuk.
Luka yang dialami oleh tiga murid Perguruan Kipas Baja ternyata sama. Mereka terluka di bagian leher. Di sana, Huang Taiji menemukan satu jarum perak dari masing-masing leher murid Perguruan Kipas Baja.
Dia mencabutnya lalu meletakkan jarum-jarum itu di telapak tangan kirinya. Anehnya, tiga jarum tersebut memiliki warna yang berbeda-beda. Satu warna merah darah, satu warna perak, satu lagi warna hitam pekat.
Bentuk ketiga jarum tersebut sangat kecil. Lebih kecil dari pada jarum pada umumnya. Kalau tidak memperhatikan secara teliti, rasanya mustahil untuk bisa melihatnya.
"Kau tahu siapa pemilik ketiga jarum ini?" tanya Huang Taiji ke Han Ciu Ling.
Wanita itu memperhatikan dengan seksama. Sepertinya dia sedang mengingat-ingat siapakah pemilik jarum-jarum tersebut.
"Bukankah ini jarum sutera?" tanya wanita itu.
"Mungkin. Aku kurang paham dalam hal senjata rahasia,"
"Ahh, aku tahu siapa pemiliknya," ucap Han Ciu Ling secara tiba-tiba.
"Siapa?"
"Tiga Wanita Pembawa Maut,"
"Kau yakin?"
"Sangat yakin. Masing-masing dari mereka merupakan seorang ahli dalam senjata rahasia,"
"Tapi kenapa keahliannya harus dalam senjata rahasia yang sama?"
__ADS_1
"Keahlian senjata rahasia mereka memang sama. Namun dalam hal lainnya, jelas berbeda,"
"Kau tahu di mana markas mereka?"
"Aku kurang mengetahuinya,"
"Baiklah. Tapi, apakah Tiga Wanita Pembawa Maut pintar dalam ilmu penyamaran?"
"Menurut kabar yang aku dengar, mereka memang selalu menyamar,"
Huang Taiji tersenyum. Dia sudah menemukan siapa pelaku yang sebenarnya. Hanya saja yang masih menjadi pertanyaan, atas dasar apa mereka membunuh murid Perguruan Kipas Baja? Dan kenapa pula mereka membunuhnya?
"Apakah sebelumnya kau punya masalah dengan mereka?" tanya Huang Taiji.
"Aku rasa belum pernah sama sekali,"
"Kalau begitu pasti ada alasan kuat kenapa mereka melakukan semua hal ini,"
Han Ciu Ling tidak menjawab. Dia hanya diam tanpa kata. Namun dari ekspresi wajahnya, dapat terlihat jelas bahwa wanita itu sangat khawatir sekali. Selain itu, sorot matanya juga menggambarkan bahwa dia menyimpan sebuah rahasia.
Huang Taiji paham terhadap hal-hal seperti ini. Maka tanpa ragu lagi, dia langsung berkata. "Apakah kau mau menceritakan rahasia dari semua kejadian ini? Kalau kau menceritakannya, mungkin aku bisa membantumu,"
Han Ciu Ling tampak ragu sebentar. Tetapi setelah beberapa saat terdiam, akhirnya dia mau bicara juga.
"Jadi maksudmu, tujuan si kakek tua menculik cucumu adalah untuk menyerap tenaga Im dalam tubuhnya?" potong Huang Taiji dengan cepat.
"Tepat sekali. Tapi aku tahu, dia menculiknya bukan untuk dirinya sendiri,"
"Apakah dia disuruh oleh seseorang?"
"Mungkin,"
"Tapi bisa juga memang untuk dirinya sendiri," jawab Huang Taiji membantah dugaan Han Ciu Ling.
"Bisa juga,"
Keduanya menghela nafas dalam-dalam. Sekarang, Huang Taiji tahu alasan apa yang membuat Tiga Wanita Pembawa Maut mencuri cucu Han Ciu Ling.
"Katakan siapa yang mengetahui banyak informasi tentang tiga iblis itu,"
__ADS_1
"Tidak ada yang tahu banyak informasi tentangnya. Tapi setahuku, mereka biasa berdiam diri di Bukit Matahari Terbit,"
"Di mana letak bukit itu?"
"Di Utara. Jaraknya sekitar seribu mil dari sini,"
"Kalau begitu, aku akan ke sana sekarang juga," tukas Huang Taiji penuh semangat.
Dia harus bertindak secepat mungkin. Karena kalau dibiarkan semakin lama, maka keselamatan cucu Han Ciu Ling justru semakin berbahaya.
Tanpa menunggu jawaban dari guru besar itu, Huang Taiji sudah melesat cepat. Dia terbang secepat elang menerkam mangsa. Hanya dalam beberapa saat saja, tubuhnya sudah menghilang dari pandangan.
Bukit Matahari Terbit adalah tempat yang sangat indah. Tapi di balik semua keindahan di sana, siapapun tahu bahwa di bukit tersebut terdapat sesuatu yang mengerikan.
Konon katanya, bukit itu dijaga oleh seekor siluman Ular Berkepala Tiga. Menurut berita yang beredar, siluman ular itu sangat besar. Bahkan katanya seluruh tubuh siluman tersebut bisa melilit Bukit Matahari Terbit itu sendiri.
Huang Taiji terbang sangat cepat menuju ke arah Utara. Jubah putihnya berkibar tertiup angin musim semi. Dia menambah kecepatan terbangnya setelah dari kejauhan terlihat sebuah bukit yang menjulang tinggi.
Tidak berapa lama kemudian, Huang Taiji telah tiba di sana. Saat dia sampai, hari sudah malam. Rembulan nampak pucat dan sinarnya tidak terlalu menerangi malam.
Huang Taiji bergerak sangat cepat menyusuri hutan yang ada di sana.
Suara lolongan serigala terdengar menyeramkan. Decitan kelelawar menggema di angkasa.
Setelah tiba di atas bukit, Huang Taiji segera menelusuri keadaan sekitar. Dia menemukan sebuah goa yang cukup besar. Di lihat dari luar, dapat diduga bahwa goa itu memang sering ditinggali oleh orang.
Bau harum semerbak keluar dari dalam goa.
Huang Taiji masuk ke dalam. Tapi di sana tidak ada seorang manusia pun. Hanya saja memang terdapat beberapa stel pakaian wanita yang menebarkan keharuman.
"Hemm, ternyata mereka benar-benar suka bersarang di goa ini," gumam Huang Taiji sambil mengawasi keadaan di dalam goa.
Wushh!!!
Mendadak tubuhnya melesat keluar goa. Dia berdiam diri di atas dahan pohon. Sebagai pengawal pribadi seorang Dewa, Huang Taiji mempunyai kepekaan yang lebih peka daripada manusia pada umumnya.
Dari jarak yang masih cukup jauh, dirinya merasakan ada pancaran energi yang menrekan tempat sekitar. Siapa pemiliknya memang belum diketahui, tetapi pancaran auranya sudah terasa hingga ke tempat tersebut.
Huang Taiji menunggu dengan sabar. Matanya tetap mengawasi keadaan di sekelilingnya. Dalam keadaan seperti ini, dia harus tetap berkonsentrasi supaya tidak kecolongan.
__ADS_1
Wushh!!! Wushh!!!
Setelah menunggu hampir lima belas menit, terlihat tiga bayangan melesat dari bawah hutan menuju ke atas bukit. Bayangan itu melesat sangat cepat seperti anak panah yang dilepaskan dengan tenaga penuh.