
Sekarang, empat pertarungan seru sudah dimulai. Masing-masing dari kedua belah pihak sudah mengeluarkan kekuatannya hingga titik maksimal. Mereka tahu, bahwa pertarungan ini merupakan penentuan.
Siapa yang menang, maka dia akan hidup. Siapa yang kalah, dia pasti mati.
Empat lawan Huang Taiji sudah mengeluarkan jurus senjatanya yang ampuh. Kilatan pusaka berkelebat sangat cepat di bawah tekanan yang hebat.
Pedang Tombak Surga Neraka juga sudah dikeluarkan olehnya.
Huang Taiji tidak berani bermain-main lagi. Meskipun mereka Pendekar Dewa tahap empat, namun jika semuanya menyerang secara bersamaan, maka tentunya kekuatan mereka pun akan bertambah dahsyat beberapa kali lipat.
Hawa panas dan hawa dingin langsung menyebar ke seluruh arena pertarungannya.
Wushh!!!
Pedang Tombak Surga Neraka bergerak. Sebuah kekuatan besar menekan apa saja yang ada di sana. Huang Taiji melancarkan sebuah tebasan jarak jauh. Sinar kemerahan mencelat keluar menyambar empat lawannya.
Keempat orang tersebut melompat menghindari serangan barusan. Mereka sadar, sinar merah yang keluar itu bukanlah sinar sembarangan. Salah sedikit saja, nyawa mereka bisa melayang.
Wushh!!!
Wuttt!!!
Empat bayangan melesat kembali. Empat serangan juga sudah dilancarkan secara berbarengan. Huang Taiji digempur oleh empat orang sekaligus. Semua serangan yang mereka berikan mengandung tenaga dalam tingkat tinggi.
Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding berada di bawah kurungan serangan lawan. Tubuhnya tertutup oleh berbagai macam sinar.
Tapi dia tidak gentar. Dengan penuh percaya diri, Pedang Tombak Surga Neraka dia mainkan mengikuti irama permainan lawan.
Kakinya tidak berhenti menendang ke arah tubuh lawan. Tapi semuanya dapat ditahan dengan mudah.
Pertarungan keduanya sudah mencapai dua puluh jurus.
Huang Taiji mulai merasa kesal. Pedang Tombak pusaka itu mengeluarkan hawa pembunuhan yang lebih pekat lagi.
"Menggores Langit Menghancurkan Bumi …"
Wushh!!!
Senjata itu menghilang. Tebasan dan tusukan dilancarkan dengan kecepatan yang luar biasa. Sinar merah dan sinar biru melesat tiada hentinya menyerang ke arah empat lawan.
Pedang Tombak Surga Neraka berputar. Putarannya sangat cepat sehingga menerbangkan semua benda yang ada di sekitarnya.
Empat Pendekar Dewa itu mulai merasa kewalahan. Jurus tertinggi mereka layangkan. Sayangnya belum cukup untuk menghalau serbuan serangan dari Huang Taiji.
Crash!!!
Darah menyembur ke segala tempat. Seorang di antara Pendekar Dewa tahap empat, tewas mengenaskan. Kepalanya terpental cukup jauh. Darah terus keluar dari bekas lehernya.
Tiga rekannya merasa bergidik ngeri. Mereka tidak menyangka bahwa orang tua itu ternyata mempunyai sifat kejam.
Wushh!!!
__ADS_1
Huang Taiji bergerak lagi. Dia mencecar seorang lawan hingga posisinya terdesak.
Slebb!!!
Tombak menusuk jantung hingga tembus ke belakang. Mulutnya memuntahkan darah segar. Dia ambruk saat itu juga.
Tinggal dua lawan yang masih tersisa. Tetapi itupun dalam keadaan terdesak hebat. Serangan yang dilancarkan oleh orang tua itu seperti hujan deras yang membasahi bumi.
Bayangan pedang dan tombak seperti ada ribuan. Suara mendengung terdengar menyayat telinga.
Crashh!!!
Slebb!!!
Dua lawan yang tersisa tewas menyusul kedua rekannya. Yang satu tubuhnya terpotong di bagian pinggang. Satu lagi tertusuk di bagian tenggorokannya.
Semua yang tewas mengalami sesuatu yang mengerikan. Mereka tidak pernah menyangka bahwa akhir hidupnya ternyata seperti ini.
Siluman harimau bersayap ungu sedang bertarung sengit melawan dua lawannya. Kedua siluman itu setara dengan Pendekar Dewa tahap enam awal. Kekuatannya jelas jauh lebih tinggi dibanding lawannya.
Setiap cakatan yang mereka lancarkan mampu merobek baja. Setiap terjangannya, mampu meruntuhkan bukit. Suara gerakannya membuat tanah bergetar.
Dua orang Pendekar Dewa tahap satu pertengahan sudah tewas dicakar olehnya beberapa saat yang lalu.
Sekarang yang masih bertahan hanyalah Pendekar Dewa tahap empat. Dia sedang berusaha keras untuk menghindarkan diri amukan dua siluman harimau bersayap ungu.
Sabetan dan tusukan senjata tajam sudah mereka berikan. Berbagai macam sinar melesat dari jarak jauh. Kecepatannya juga terbilang tinggi. Sayangnya, siluman yang sedang mereka hadapi saat ini mempunyai kekuatan yang lebih tinggi lagi.
Mereka sadar bahwa umurnya tidak akan lama lagi. Kematian sudah di depan mata. Tidak ada jalan keluar. Apalagi untuk kabur dari sana.
Jalan satu-satunya hanyalah mengadu jiwa.
Dan mereka nekad menempuh jalan tersebut.
Wushh!!! Wushh!!!
Dua bayangan melesat. Kekuatan besar menekan arena pertarungan.
Dua ekor siluman harimau bersayap ungu juga tahu bahwa dua manusia itu berniat mempertaruhkan nyawanya. Karena alasan tersebut, keduanya tidak main-main lagi.
Dua siluman mengumpulkan kekuatan. Mata mereka melancarkan niat untuk membunuh.
Grrr!!
Wushh!!!
Keduanya juga melesat. Kedua sayap telah mengeras seperti jarum raksasa.
Slebb!!!
Crashh!!!
__ADS_1
Dua Pendekar Dewa tahap empat tewas. Darah muncrat ke tubuh dua siluman.
Grrr!!!
Raungan keras penuh kesedihan terdengar sangat pilu. Kalau mereka bisa bicara, mungkin siluman itu mengatakan "lihatlah kawan, aku berhasil membalaskan dendam kalian."
San Ong dan Ong San hanya mengangguk tersenyum. Mereka juga siluman, sudah pasti paham apa yang diucapkan oleh dua siluman harimau bersayap ungu.
Setelah berhasil membalaskan dendam para siluman, keduanya segera menghampiri San Ong dan Ong San sambil menunjukkan sikap hormatnya.
"Bagus. Kalian sudah berhasil menjalankan kewajiban. Sekarang, lihatlah di sana. Bocah itu sedang bertarung sengit. Dia adalah bocah yang mengemban tugas umat manusia," kata San Ong.
Keduanya segera melirik ke sebelah kanan.
Di sana, Chen Li sedang bertarung beradu jurus dengan kedua lawannya. Seruling giok hijau sudah gencar melancarkan totokan dan sodokan ke tubuh lawan. Terkadang dia menghantam ke arah kepala.
Kalau saja kerjasamanya tidak kompak, Chen Li sangat yakin bahwa dia mampu melawannya tanpa harus mengeluarkan kekuatan dari Mata Dewa Unsur Bumi.
Namun karena keadaannya lain, maka secara terpaksa bocah itu harus mengeluarkan kekuatan istimewa tersebut.
Pedang Hitam dan seruling giok hijau sudah dia masukkan kembali.
Chen Li diam di tengah arena. Lawannya juga terpaku. Mereka menyangka bahwa bocah itu sudah kelelahan. Melihat ini, kegembiraan langsung menyelimuti keduanya.
Wushh!!!
Mereka bergerak bersama.
Namun belum sampai di tempat tujuan, gerakan dua orang itu mendadak tertahan.
Sebuah kekuatan dahsyat dan aneh menyelimuti tempat sekitar.
Grrrr!!
Chen Li menggeram. Kain putih yang menutupi kedua matanya lepas. Sekarang terlihat bola mata aneh yang membawa aura tersendiri.
"Kalian harus mampus!!!"
Wushh!!!
Tangannya di ayunkan dari bawah ke atas. Saat itu juga bumi langsung bergetar. Tanah retak dan berterbangan ke arah keduanya.
Tanah retak itu meluncur deras seperti hujan, tapi tajamnya seperti pedang.
Slebb!!! Slebb!!!
Suara yang sama terdengar tiada henti. Tubuh kedua lawannya bolong ditembus tanah-tanah tadi.
Mereka tewas dengan kondisi yang tidak kalah mengenaskannya dari yang lain.
Hanya dalam beberapa jurus, pertarungan hebat itu telah berhasil diselesaikan Chen Li.
__ADS_1