Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Pendekar Tanpa Perasaan


__ADS_3

Chen Li masih terus memberikan serangan dahsyat kepada puluhan murid itu. Walaupun kekuatan aslinya baru mencapai level Pendekar Langit tahap satu pertengahan, tetapi dia sama sekali tidak menunjukkan rasa takutnya.


Padahal kalau orang lain, sudah pasti lebih memilih untuk bersembunyi daripada harus bertarung melawan puluhan Pendekar Bumi. Walaupun kekuatan mereka di bawah satu tingkatan, tetapi jika jumlahnya puluhan orang, artinya sama saja dengan bunuh diri.


Ditambah pula bahwa musuh berasal dari Kekaisaran lain. Siapapun tidak mau mengambil resiko seperti Chen Li.


Tetapi bocah itu punya pandangan lain. Dia merupakan anak dari Pendekar Halilintar. Seorang pemimpin dunia persilatan dan merupakan pendekar terkuat untuk saat ini.


Sudah pasti Chen Li tidak mau memperlakukan ayahnya. Anak harimau tidak akan melahirkan anak kambing. Begitupun sebaliknya. Dan itu yang terjadi kepada Chen Li.


Keberaniannya mengambil resiko merupakan turunan dari sang ayah. Kalau Shin Shui mengambil resiko tanpa perhitungan, sebaliknya, justru anaknya berani mengambil resiko karena dia sudah berpikir jauh ke depan.


Semuanya sudah dia persiapkan. Pil penambah tenaga dalam sudah tersedia. Senjata pusaka sudah digenggam. Apalagi yang harus dikhawatirkan? Toh kalau dia mendapat musibah, tentu sebisa mungkin ayahnya tidak akan tinggal diam.


Dan lagi, semakin banyaknya pertarungan dan pembunuhan, semakin kental juga aura pembunuh yang akan dia miliki. Semakin banyak bertarung, semakin bertambah pengalaman dan bertambah cepat pula tingkat latihannya.


Mengingat semua ini, semangat Li Kecil bertambah beberapa kali lipat. Sepak terjangnya yang tak kenal lelah membuat siapapun salut pada bocah itu. Keberaniannya berhak mendapatkan acungan jempol.


Tak kurang dari lima belas murid masih mengurungnya. Dilihat sekilas, kelima belas itu setara dengan Pendekar Bumi tahap lima akhir.


Chen Li sadar bahwa pertarungan ini bakal lebih menantang lagi. Sebab sekarang dia tidak mendapatkan bantuan tenaga dari ayahnya. Tapi itu bukanlah masalah. Justru karena alasan itulah dia berani bertekad.


Pedang Awan sudah dia genggam erat. Tubuhnya melesat memberikan serangan ke segala arah. Dari pedang itu keluar sinar putih menyambar kelima belas lawan.


Tetapi tampaknya mereka sedang memainkan sebuah taktik. Sehingga mereka saling melindungi satu sama lainnya. Serangan pertama Chen Li gagal.


Sebagai gantinya, dia digempur oleh kelima belas murid dari segala penjuru. Berbagai macam senjata tajam siap mencabik-cabik tubuhnya. Jurus mereka baginya lumayan menakutkan.


Tapi lagi-lagi Chen Li tidak gentar. Sifat gila ayahnya sudah mendarah juga kepada anak itu.


"Hehe, bagus. Aku ingin lihat sampai di mana kalian sanggup melawanku," kata Chen Li.


Tangan kanannya kemudian mencabut suling giok hijau. Di kedua tangannya sudah ada dua senjata pusaka. Kejadian berikutnya pasti sudah terbaca.

__ADS_1


Tepat, dia akan mencoba hal gila lainnya. Anak itu ingin melancarkan serangan dengan dua jurus dan dua senjata berbeda sekaligus.


Hal seperti ini memang bisa dilakukan, dengan catatan orang itu sudah mencapai tingkatan tinggi. Sedangkan Chen Li sendiri masih termasuk dasar.


Benar-benar gila!


"Mari anak tikus, kita mulai lagi," ucapnya dengan nada dingin.


"Menebarkan Cahaya Kehidupan …"


"Menggempur Harimau di Hutan …"


"Wushh …"


Chen Li bergerak cepat. Dia benar-benar berhasil melancarkan dua serangan dalam sekali gebrakan. Hal ini membuat setiap orang yang melihat terkejut.


"Pahlawan, anakmu benar-benar hebat. Dia mampu melancarkan dua jurus berbeda dalam sekali serang. Padahal usianya masih kecil," kata Hwe Koan si Golok Hitam Batu Baja memuji Chen Li di sela pertarungan dahsyatnya.


"Hahaha, biarkan saja. Anakku memang sudah gila," jawab Shin Shui dengan tertawa nyaring.


Kedua pendekar itu bicara sambil bertarung sengit. Walaupun begitu, mereka ternyata mampu melakukannya dan sama sekali tidak terpecah konsentrasinya.


Tiga pihak sedang bertempur di bawah gelapnya malam. Di sisi lain, dari ketujuh pendekar sudah tewas dua. Kini yang tersisa masih lima orang pendekar.


Walaupun dua orang tewas, tapi dua pendekar yang membunuhnya pun mengalami luka berat.


Chen Li menggempur lawan tiada hentinya. Dari lima belas anak murid, kini hanya tersisa sepuluh murid saja. Semakin berjalannya waktu, serangannya semakin hebat dan membuat para murid kelimpungan.


Taktik bertarung yang mereka gunakan sudah tercerai berai. Hal ini menambah semangat Chen Li. Karena terpecahnya taktik itu, dia menjadi lebih mudah untuk membantai musuhnya.


Setiap ayunan pedangnya membawa kabar kematian. Setiap totokan sulingnya membawa tenaga hebat. Sepuluh anak murid dibuat tak berdaya.


Mereka hanya mampu sesekali memberikan serangan balasan. Jurus demi jurus telah keluar. Dalam waktu singkat, lima orang murid sudah terkapar oleh Chen Li. Lima orang yang tersisa semakin gentar.

__ADS_1


Entah suatau kebetulan atau bukan, tetapi bagi orang yang mengerti, bocah itu seperti mendapatkan bantuan dari sesuatu yang tak terlihat.


Mungkin hal tersebut memang benar. Karena tanpa Chen Li sadari, semakin dia bahaya, bocah itu merasa semakin berani. Bisa jadi hal ini yang membawa keberuntungan baginya.


Tapi jangan di artikan bahwa dia tidak akan kalah. Sebab diapun manusia, bahkan seorang bocah kecil.


Bagi para murid, bocah kecil itu tak berbeda jauh dengan monster. Saat dia membunuh, seperti tidak ada rasa penyesalan. Tatapannya dingin seperti gunung es. Gerakannya gesit seperti bayangan.


Dari jauh Hwe Koan memperhatikan pertarungan Chen Li secara diam-diam. Dalam hati, dia benar-benar memuji anak itu.


"Pendekar Tanpa Perasaan …"


"Ya, julukan itu pantas untuk tuan muda. Akan aku usulkan nanti hal ini," gumamnya sambil tersenyum.


Tepat pada jurus kedua puluh, Chen Li sudah melibas habis anak murid. Tak ada yang tersisa dari mereka. Semuanya tewas oleh bocah itu. Baik yang dibunuh menggunakan pedang, maupun yang di hantam oleh suling giok hijau.


Chen Li hanya menderita beberapa luka ringan dan beberapa luka lumayan berat. Tetapi dia sama sekali tidak menujukan rasa sakit. Bahkan bocah itu tersenyum puas melihat hasilnya.


Bagi Chen Li, luka itu memang pantas sebagai bayaran atas apa yang telah dia lakukan. Kini dirinya sudah bergabung bersama dua orang lain yang sudah menyelesaikan pertarungan.


Waktu berlalu dengan cepat. Benturan keras baik dari senjata ataupun jurus dahsyat kerap kali terdengar. Cahaya dari berbagai macam jurus sering kali menyinari gelap malam.


Lima pendekar yang tadi masih bertarung, kini tinggal dua orang saja. Tiga lainnya sudah menyelesaikan pertarungan hebat. Pihak pendekar Kekaisaran Wei sejauh ini telah memenangkan enam pertarungan.


Walaupun dari mereka pasti mendapatkan luka-luka, tapi semuanya berpikiran sama seperti Chen Li.


Luka itu memang bayaran yang pantas terhadap apa yang sudah mereka lakukan.


Dua pendekar bertarung sengit melawan dua anak buah dari Ong Tiong dan Wong Qing. Mereka menggela jurus-jurus dahsyat dengan diselingi benturan senjata.


Chen Li menyaksikan pertarungan ini dengan perasaan bangga. Bangga karena dia bisa menyaksikan berbagai macam jurus dari berbagai aliran.


Dua pendekar itu bersenjatakan tombak dan kapak dua mata. Mereka menyerang dengan jurusnya masing-masing. Pertarungan tersebut sudah hampir berakhir. Menjelang jurus kelima puluh empat, dua orang anak buah Ong Tiong dan Wong Qing berhasil dikalahkan.

__ADS_1


Keduanya tewas di ujung senjata dua pendekar Kekaisaran Wei. Pertarungan sudah berhenti, mereka pun segera bergabung dengan yang lainnya.


Yang masih bertarung sengit adalah Shin Shui melawan Ong Tiong dan Hwe Koan melawan Wong Qing.


__ADS_2