
Seketika, semua murid yang sedang berlatih, langsung menghentikan latihannya. Yang sedang mengerjakan kegiatan lain, langsung menghentikan kegiatannya.
Semuanya menyambut Shin Shui.
Tak terkecuali Yun Mei dan putera kesayangannya, Shin Chen Li.
Bagaikan seorang raja besar, Shin Shui berjalan dengan langkah berwibawa memasuki Sekte Bukit Halilintar.
Baru saja ia mau memasuki ruangan para tetua, tiba-tiba Chen Li sudah berlari menghampirinya.
"Ayah … ayah … kau pergi lama sekali. Li'er rindu ayah. Aku mau ayah temani Li'er latihan," kata Chen Li sedikit merengek manja.
Para tetua yang ada di ruangan tersebut hanya bisa tersenyum melihat tingkah Chen Li. Tak ada yang berani memarahinya, lagi pula seorang anak Kepala Tetua sekte besar, mempunyai status yang berbeda dengan yang lainnya.
Selain itu, siapa juga yang akan tega memarahi anak selucu dan setampan Chen Li? Bahkan mungkin mereka lebih memilih untuk memarahi diri sendiri daripada memarahi anak itu.
Yun Mei yang juga ada di ruangan para tetua, merasa tidak enak terhadap Shin Shui, meskipun pria itu suaminya.
"Li'er, kau jangan seperti itu. Kasihan ayahmu baru pulang. Ayo sama ibu saja berlatih," kata Yun Mei sambil mengulurkan tangan.
Tapi Chen Li malah terlihat tidak senang, dia tetap menginginkan Shin Shui yang menemani latihannya.
Pada akhirnya Shin Shui pun menyahuti anaknya itu. Pertama yang ada di wajah Shun Shhu adalah rasa kaget. Sebab saat ini, Chen Li seperti sudah bisa melakukan semuanya dengan mata tertutup.
Kecerdasan anaknya memang patut di acungi jempol. Anak sekecil itu, bisa cepat paham tentang perasaan.
"Baiklah, baiklah. Mari kita pergi latihan," kata Shin Shui lalu keluar ruangan.
Yun Mei dan para tetua hanya bisa memandangi kepergian ayah dan anak itu dengan geleng-geleng kepala.
Saat ini Shin Shui dan Chen Li sudah berada di tempat biasa anaknya berlatih. Yaitu di sebuah taman di bawah pohon sakura. Tempat favoritnya.
"Li'er, kau akan berlatih apa?"
"Li'er akan berlatih pelajaran dasar yang ayah ajarkan. Tujuh Langkah Halilintar," kata Chen Li lalu berlari ke tengah-tengah.
__ADS_1
"Baiklah, coba sekarang kau perlihatkan hasil latihanmu selama ini," kata Shin Shui menyuruh Chen Li untuk memulai latihannya.
Untuk diketahui, serangkaian jurus Tujuh Langkah Halilintar adalah jurus-jurus dasar yang ada di Sekte Bukit Halilintar. Shin Shui menciptakan jurus ini kurang lebih setahun yang lalu.
Dan terbukti, jurus ini walaupun hanya sampai tujuh tahapan saja, tapi kekuatan dan kehebatannya tidak diragukan lagi. Bahkan diakui dunia persilatan sebagai salah satu jurus dasar terkuat yang menempati posisi pertama.
Semua murid Sekte Bukit Halilintar yang berada pada tahapan Pendekar Bumi, pasti akan di ajarkan jurus ini. Kalau sudah mencapai tahapan Pendekar Langit, mereka akan diberikan serangkaian jurus Tapak Bumi, jika berada di tahapan Pendekar Surgawi, mereka akan di ajarkan serangkaian jurus Penghancur Kegelapan.
Kalau sudah mencapai tahapan Pendekar Dewa, barulah pada murid akan di berikan jurus-jurus tertentu yang lebih dahsyat lagi, bahkan pihak Sekte Bukit Halilintar akan memberikan juga jurus-jurus hebat lainnya.
Semua jurus dasar itu diciptakan oleh Shin Shui sendiri setelah melakukan percobaan mendalam. Setiap dasar mempunyai kelebihan tersendiri. Semua jurus-jurus itu sebenarnya berisi serangkaian jurus dari kitab-kitab tingkat tinggi yang sudah dia pelajari.
Hanya saja ia ubah sedikit sehingga menyesuaikan tingkat level si pengguna.
Saat ini Chen Li masih terus memainkan jurus-jurus Tujuh Langkah Halilintar. Shin Shui masih terus memandangi anaknya dengan penuh perhatian.
Kalau ada gerakan yang salah dan kurang pas, dia akan memberitahukan kepada Chen Li lalu menyuruhnya untuk mengulang kembali.
Setelah tidak ada kesalahan, Shin Shui lalu memanggil Chen Li.
Dia sudah pengalaman dalam seni beladiri dan kultivasi. Karena itu, Shin Shui bisa melihat bakat kelebihan Chen Li sekaligus kekurangannya.
Justru dalam seruling itulah Chen Li memiliki bakat yang tinggi. Selain itu, Shin Shui juga melihat bahwa seruling memang cocok bagi anaknya. Karena dengan seruling, Chen Li bisa mengungkapkan semua perasaannya.
Hanya orang berperasaanlah yang bisa memainkan seruling dengan sangat merdu.
Chen Li saat ini sedang duduk di samping Shin Shui. Anak itu sedang meniup seruling bernada gembira. Suaranya saat meniup seruling memang selalu merdu.
Kasarnya, alam semesta pun akan menikmati setiap nyanyian seruling yang Chen Li mainkan.
"Li'er, mulai besok lebih baik kau jangan berlatih dasar-dasar Sekte Bukit Halilintar lagi. Kau tidak cocok," kata Shin Shui.
Mendengar ucapan ayahnya, Chen Li langsung berhenti meniup serulingnya. Kemudian dia memandang Shin Shui keheranan.
"Memangnya kenapa ayah?"
__ADS_1
"Kau tidak cocok Li'er,"
"Terus Li'er harus berlatih apa?"
"Ayah akan memberikan sebuah kitab untukmu. Ini sebagai hadiah dari ayah karena kau rajin berlatih dan tidak nakal lagi," kata Shin Shui sambil tersenyum.
"Wahhh … hadiah apa itu ayah?" tanya Chen Li penasaran.
Kemudian Shin Shui segera mengambil sesuatu dari Cincin Ruang miliknya. Shin Shui mengambilkan Chen Li satu stel pakaian serba putih lengkah dengan jubahnya. Tak ketinggalan, sebuah penutup mata dari kain sutera putih ia berikan juga.
Di dalam lipatan pakaian itu, terdapat juga sebuah kitab pusaka.
Chen Li menerima hadiah itu dengan hati riang gembira. Kemudian ia segera pergi sebentar untuk mengganti pakaian.
Begitu selesai, Shin Shui sendiri terkejut melihat anaknya. Dia seolah berubah menjadi seorang desa kecil yang sangat tampan dan gagah. Apalagi dia berjalan sambil terus meniup seruling.
Tentu saja alam semesta kembali tenang. Mereka merasa gembira karena memang Chen Li memainkan lagi bahagia.
"Ayah, bagaimana penampilanku?" tanya Chen Li sambil tersenyum.
"Ka sungguh tampan Li'er. Mirip seperti ayah dulu," kata Shin Shui menggoda.
"Tentu saja. Ayahnya tampan seperti dewa dan ibunya cantik seperti bidadari. Sudah pasti anaknya mewarisi ketampanan dan kecantikan itu … hehehe," kata Chen Li tertawa lucu hingga pipinya sedikit memerah.
"Hahaha … anak pintar. Ucapanmu mungkin ada benarnya juga," sahut Shin Shui sambil tersenyum.
"Li'er, coba kau baca kitab apa yang ayah berikan untukmu," pinta Shin Shui.
"Baiklah," Chen Li lalu mengambil kitab yang dipegang Shin Shui. Kemudian ia mencoba untuk membacanya dengan perasaan.
"Kitab Seruling Pencabut Nyawa …"
"Bagus, akhirnya kau bisa membaca kitab itu. Berarti memang jodoh," ucap Shin Shui.
"Ayah, nama kitab ini sungguh mengerikan. Apakah sesuai dengan ajarannya?" tanya Chen Li.
__ADS_1
"Tentu saja. Ayah pernah membaca riwayat kitab ini, dan menurut yang ayah baca, ribuan tahun lalu, kitab ini menempati posisi kedua dalam rimba persilatan. Kakek gurumu mempunyai kitab ini, tapi entah dari mana dia mendapatkannya," kata Shin Shui menerangkan.
"Wahh … kakek guru hebat," kata Chen Li terkagum-kagum.