Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Pertarungan Dua Bocah Luar Biasa


__ADS_3

"Hahaha, ternyata kau merupakan bocah kecil yang sombong," kata si Tuan muda sambil tertawa mengejek kepada Chen Li.


Suara tawanya mengandung ejekan. Terdengar angkuh dan sangat sombong.


Chen Li tersenyum dingin. Untuk menghadapi manusia seperti si Tuan muda itu, dia tidak akan memakai tatakrama ataupun sopan santun. Apalagi usianya tidak berbeda jauh dengan dirinya sendiri.


"Kau bilang bocah kepadaku? Hemm, lantas apakah kau sendiri sudah tua?" kata Chen Li balas mengejek si Tuan muda.


"Sialan, lancang sekali mulutmu bocah. Kalau tidak aku robek, sepertinya kau akan terus seperti itu," bentak salah satu di antara lima orang tadi.


Dia segera mencabut senjata dan sudah siap menerjang melayangkan serangan. Tapi sebelum hal itu terjadi, si Tuan muda lebih dahulu mencegahnya.


"Tahan!!! Menghadapi bocah seperti dia, biar aku saja yang melayaninya. Kebetulan sekali tanganku sudah sangat gatal,"


"Ta-tapi Tuan muda …"


"Aku tidak suka jika ucapanku dibantah," potong si Tuan muda.


Orang tua itu langsung membungkam mulutnya seribu bahasa. Begitu juga dengan empat orang lainnya. Mereka tidak ingin kena marah tuan 'utamanya', karena itulah, apapun yang dikatakan si Tuan muda, lima orang tersebut tidak akan membantahnya.


Mereka selalu nurut. Walaupun di suruh untuk terjun ke lautan api, lima orang itu pasti akan menurutinya.


Sejauh ini, Huang Taiji dan Huan Ni Mo tidak bicara sepatah katapun. Kedua orang tua itu ingin melihat sampai di mana masalah ini akan berlangsung.


"Kau ingin bertarung denganku?" tanya si Tuan muda kepada Chen Li.


"Kalau memang itu yang kau inginkan, maka aku tidak bisa menolaknya,"


"Bagus. Jangan pernah menyesali ucapan yang keluar dari mulutmu,"


"Aku tidak pernah menyesal,"


Angin berhembus sangat lirih. Panas terik matahari tidak terlalu menyorot sebab sedikit terhalang oleh dedaunan yang rimbun.


Dua orang bocah kecil berusia belasan tahun sudah saling berhadapan. Dua pasang mata saling tatap. Seolah mereka itu merupakan pendekar kelas atas yang sedang mengukur sampai di mana kekuatan lawannya masing-masing.


Lima pengawal si Tuan muda, Huang Taiji serta Huan Ni Mo, semuanya mundur beberapa langkah ke belakang. Mereka tidak ingin ikut campur. Sebagai pendekar yang selalu memegang teguh sebuah janji, maka orang-orang tersebut tidak akan melakukan apapun. Mereka tidak akan ikut campur dalam pertarungan yang bakal segera berlangsung itu.


Wushh!!!

__ADS_1


Si Tuan muda bergerak lebih dulu. Tubuhnya melesat ke depan memberikan pukulan jarak jauh. Dua sinar merah pekat meluncur ke arah Chen Li. Belum tiba pukulannya, tapi hawa panasnya sudah menerjang lebih dulu.


Wushh!!!


Chen Li tidak tinggal diam. Tangan kanannya mengibas sehingga menghasilkan segulung angin dahsyat. Tenaga dalam transparan melesat ke depan menangkis dua pukulan jarak jauh si Tuan muda.


Blarrr!!!


Benturan pertama terjadi. Debu mengepul tinggi. Dua bayangan melesat kembali ke tengah arena pertarungan.


Suara beradunya pukulan dan tendangan mulai terdengar. Begitu debu tersebut lenyap, dua orang bocah kecil sedang bertarung sengit. Pukulan dan tendangan mereka layangkan tanpa henti.


Chen Li sudah mengeluarkan seluruh kekuatan tenaga dalam langit bumi yang merupakan warisan dari ayahnya, Pendekar Halilintar. Hal itu menyebabkan serangan yang dia lancarkan jauh lebih dahsyat dan lebih berbahaya dari pada si Tuan muda sendiri.


Gulungan sinar bersatu menyelimuti dua tubuh cilik itu. Bentakan nyaring keluar dari masing-masing mulut mereka.


Chen Li melompat ke belakang mengambil ancang-ancang. Begitu mendapatkan posisi yang baik, bocah itu segera melesat kembali sambil melancarkan serangan pukulan beruntun.


Hawa kematian mendadak keluar dari tubuhnya. Tubuh itu sudah diselimuti oleh aura putih yang tipis. Mirip seperti asap.


Gerakannya bertambah cepat dan dahsyat.


Tangan kanannya memukul keras ke depan. Tangan kirinya menangkis serangan si Tuan muda.


Walaupun Pendekar Tanpa Perasaan sudah mengeluarkan seluruh kekuatannya, tapi ternyata si Tuan muda belum bisa dikalahkan.


Kekuatannya sangat asing. Jurus-jurus yang dia lancarkan juga terbilang aneh. Terlebih lagi, tenaga dalam yang dimilikinya sangat berbeda dari pada kebanyakan para pendekar.


Wushh!!!


Si Tuan muda mendadak menghilang dari pandangan semua orang. Secara tiba-tiba, bocah itu sudah ada di belakang Chen Li.


Bukk!!!


Lima kali pukulan beruntun yang membawa hawa panas mengenai punggung anak dari Pendekar Halilintar itu.


Jika orang lain yang menjadi sasarannya, sudah pasti orang itu akan meringis menahan sakit. Bahkan bukan tidak mungkin tubuhnya langsung terluka dalam.


Tapi Chen Li tidak. Justru dia malah tersenyum. Senyuman yang dingin. Menakutkan, sekaligus membawa sebuah ancaman. Siapapun yang melihat senyuman itu, pasti bakal merasakan hatinya bergidik ngeri.

__ADS_1


Begitu juga dengan si Tuan muda sendiri.


Nyalinya sempat dibuat ciut untuk beberapa saat. Baru kali ini dia melihat senyuman yang begitu menyeramkan.


Sebuah hawa kematian pekat tiba-tiba memenuhi seisi hutan tersebut. Angin berdesir dengan kencang membuat patah beberapa dahan pohon.


Kain sutera yang mengikat kedua mata Pendekar Tanpa Perasaan mendadak terlepas. Saat itu dia sedikit tertunduk. Begitu kain sutera itu lepas, Chen Li mengangkat kepalanya.


Dua mata mengerikan terlihat. Tepat pada saat matanya terbuka, kekuatan dahsyat menyambar si Tuan muda sehingga dia terdorong dua langkah ke belakang.


Wushh!!!


Pendekar Tanpa Perasaan mendadak melesat ke depan. Kecepatannya sulit untuk diikuti mata telanjang. Hanya sekejap, dia telah tiba di hadapan lawan.


Tangan kanannya mengibas. Segulung angin dahsyat menerjang si Tuan muda. Bocah itu terpental lima langkah ke belakang. Belum sempat melancarkan serangan balasan, Chen Li lebih dahulu bergerak.


Dia seperti seekor harimau yang menerkam mangsanya. Dua tangan melayangkan serentetan pukulan berbahaya. Dua kakinya menendang secara bergantian. Di setiap serangannya, terkandung sebuah kekuatan yang mengerikan.


Sekarang posisi berbalik. Si Tuan muda menjadi bulan-bulanan kemarahan Pendekar Tanpa Perasaan. Pukulan dan tendangan sudah bersarang di seluruh tubuhnya.


Darah mengucur dari beberapa anggota tubuh. Posisi si Tuan muda mulai membuat khawatir lima orang pengawalnya.


Dia terus diserang oleh Chen Li tanpa mampu memberikan serangan balasan sedikitpun.


Ggrhhh!!!


Blarrr!!!


Ledakan terdengar. Tanah berhamburan menghujani tubuh si Tuan muda. Tubuhnya digulung oleh hujan tanah yang melesat cepat dan sangat tajam itu.


Teriakan kesakitan keluar dari mulutnya. Dia mengerang lalu menggertak giginya. Sebisa mungkin si Tuan muda tetap berusaha untuk bangkit kembali.


Wushh!!!


Sebuah benda hitam melesat ke atas. Benda itu merupakan sebatang tongkat dan memiliki panjang sekitar satu tombak. Namun begitu sampai di atas, tongkat tersebut mendadak berubah menjadi seekor ular hitam yang cukup besar.


Sssttt!!!


Lidahnya terjulur ke depan. Suara desisannya membuat bulu kuduk berdiri. Ular tersebut kemudian melesat ke arah Chen Li.

__ADS_1


__ADS_2