
Setelah menusukkan dua belas batang jarum emas tadi, Huang Taiji lalu menyalurkan tenaga dalam miliknya ke tubuh Huan Ni Mo. Warna putih yang sama seperti sebelumnya mulai memasuki tubuh wanita itu.
Keringat dingin mengucur deras. Proses penyembuhan Huan Ni Mo dua kali lebih berat dari pada proses penyembuhan terhadap Chen Li.
Sepuluh menit sudah berlalu kembali. Seluruh tubuh Huang Taiji telah dibasahi oleh keringat dingin.
Di saat seperti itu, mendadak dirinya mendengar ada suara langkah kaki dari belakang. Suara itu sangat ringan seperti kapas. Jika orang lain, mustahil bisa mendengarnya. Tapi Huang Taiji adalah pengecualian. Dia dapat mendengar dengan jelas suara langkah kaki tersebut.
Wushh!!!
Segulung angin dingin menerpa dan berhenti tepat di belakang tubuhnya. Orang yang mempunyai langkah ringan itu berhenti tepat di belakangnya. Namun dia tidak menyerang, justru orang itu hanya berdiri tenang sambil melihat proses penyembuhan yang sedang dilakukan oleh Huang Taiji.
Pendekar Pedang Tombak tidak bicara. Dia juga tidak membalikkan badannya. Sebab jika sedang mengobati seperti ini, konsentrasinya harus benar-benar fokus. Tidak boleh terbagi sama sekali.
Setelah hampir tiga puluh menit mengobati Huan Ni Mo, perjuangan Huang Taiji menunjukkan hasil. Wanita itu mulai mengeluh pelan. Mendadak dia memiringkan kepalanya.
Beberapa gumpal darah hitam yang kental keluar dari mulutnya. Bau busuk langsung memenuhi dalam goa.
Huan Ni Mo pingsan kembali setelah memuntahkan darah yang bercampur racun tersebut. Huang Taiji kemudian mencabut dua belas batang jarum emas yang sebelumnya dia tusukkan.
Orang tua itu segera memberikan kembali Pil Kesempurnaan kepada Huan Ni Mo. Setelah itu, dia kemudian menghela nafas.
Akhirnya proses penyembuhan sudah selesai. Dua orang yang hampir meregang nyawa telah dia selamatkan. Sekarang tinggal menunggu mereka sadar sendiri.
Huang Taiji membalikkan badannya. Di depannya, seorang tua berpakaian compang-camping sedang duduk sambil tersenyum seorang diri. Di tangan kirinya memegang sebatang tongkat bambu hijau. Di tengah batang tongkat itu ada buli-buli arak yang ditalikan ke tongkat.
Orangnya sudah tua. Usianya mungkin sekitar enam puluh atau tujuh puluh tahunan. Rambutnya yang sudah memutih diikat dengan sutera putih kumal. Postur tubuhnya kurus kering tapi tampak gagah.
Hanya sekali melihat saja, siapapun pasti sudah mengetahui namanya. Dia bukanlah kakek tua sembarangan. Orang itu biasa dikenal dengan sebutan Pengemis Sakti Bertangan Enam. Dia merupakan seorang tokoh tua dari Partai Pengemis.
__ADS_1
Partai Pengemis adalah perkumpulan para pengemis yang ada di seluruh wilayah Kekaisaran Wei. Setiap pengemis yang sering berkeliaran, mereka pasti merupakan anggota Partai Pengemis.
Sudah sejak puluhan tahun lalu, perkumpulan ini selalu menjadi perkumpulan terbesar yang ada di Kekaisaran Wei. Markas cabangnya sudah tidak terhitung lagi.
Meskipun begitu, Partai Pengemis merupakan golongan tengah atau merdeka. Mereka tidak terlalu mau ikut campur dengan segala macam urusan pemerintahan.
Orang-orang yang tergabung di dalamnya lebih senang melakukan apa yang mereka ingin lakukan. Mereka tidak ingin mencampuri segala macam urusan yang ada.
"Suatu kehormatan besar bagiku bisa berjumpa dengan Tuan Ang Mo Bian si Pengemis Sakti Bertangan Enam. Maafkan jika aku telah lancang berani memasuki kediamanmu," kata Huang Taiji penuh rasa hormat.
Ang Mo Bian si kakek tua itu tertawa lantang. Dia memang memiliki sifat yang ramah, siapapun pasti akan senang jika berteman dengannya. Begitu juga dengan Huang Taiji, walaupun dirinya bukan merupakan teman ataupun sahabat dekat, tapi tetap dia merasa gembira bisa berjumpa dengannya tanpa disengaja.
"Hahaha, Tuan Huang memang selalu merendah. Aku sendiri merasa sangat tersanjung bisa bertatap muka denganmu di tempat seperti ini. Aku merasa seperti orang paling beruntung di dunia ini karena bisa bertemu denganmu," jawab kakek tua itu sambil tertawa.
Dia membuka tutup buli-buli arak lalu menenggak araknya. Ang Mo Bian paling tidak suka terhadap tatakrama. Karena itulah, mau di mana pun, mau berhadapan dengan siapapun, dia akan tetap seperti itu.
Siapapun, tidak akan ada yang bisa mengubah kepribadiannya.
"Untuk apa marah? Justru aku sangat senang sekali. Sudah pasti ada arak yang harum bukan?" tanyanya tertawa kembali.
Huang Taiji juga tertawa. Dia sudah paham betul tabiat si kakek tua yang aneh ini. Tanpa banyak bicara, dia segera mengibaskan tangan kanannya. Empat guci arak yang harum dan enak sudah muncul di hadapan keduanya. Tidak lupa juga dengan beberapa porsi daging yang lezat.
"Hahaha, kau memang selalu mengerti tentang orang lain. Terimakasih, aku tidak akan sungkan lagi,"
Saat perkataannya selesai, kedua tangannya langsung bergerak dengan cepat. Tangan kiri meraih satu guci arak. Tangan kanannya mengambil daging rusa panggang yang lezat itu.
Dia minum dan makan dengan lahap.
"Kenapa kau hanya melihat? Mari kita makan dan minum bersama," katanya dengan mulut yang masih dipenuhi dengan makanan itu. Suaranya tidak terdengar jelas, tapi Huang Taiji paham akan maksudnya.
__ADS_1
Tanpa menjawab lagi, Huang Taiji juga langsung menyambar guci arak beserta dagingnya.
Jika dua orang tua yang sepaham sudah berkumpul bersama, bisa dipastikan tidak akan ada lagi sesuatu yang dapat mengganggu mereka. Apalagi jika di hadapannya ada arak. Lengkap sudah.
"Tuan Huang, bagaimana kabar Pendekar Halilintar?"
"Dia baik-baik saja. Hanya saja pikirannya tidak baik, karena banyak masalah yang sedang terjadi saat ini,"
"Hahaha, aku tahu. Tapi aku juga yakin bahwa dia mampu menghadapinya. Aii, sudah lama sekali aku tidak berjumpa dengan bocah tengik itu. Ngomong-ngomong, apakah bocah itu adalah anaknya?" tanya Ang Mo Bian sambil melirik kepada Chen Li.
"Benar. Dia anak dari Pendekar Halilintar,"
"Aii, wajahnya benar-benar tampan. Siapa yang telah melukai dirinya?"
"Empat Ahli. Mereka adalah tokoh dari Kekaisaran tetangga,"
"Di mana mereka? Biar aku remukkan tulangnya," ujar Ang Mo Bian geram.
Kakek tua itu adalah teman akrab Shin Shui. Beberapa kali dia pernah menerima kebaikan Pendekar Halilintar, sehingga saat sekarang menyaksikan anaknya terluka parah, orang tua itu langsung merasa marah.
"Tuan Ang tenang saja. Mereka sudah mampus di tanganku,"
"Ternyata kau benar-benar luar biasa," pujinya tulus lalu menenggak arak kembali.
Nama Ang Mo Bian sudah terkenal ke seluruh penjuru. Belum lagi sepak terjangnya yang angin-anginan. Mungkin di Kekaisaran Wei ini, hanya kakek tua itu sendiri yang mempunyai sifat paling aneh.
Meskipun tidak termasuk ke dalam sepuluh tokoh terkuat di Kekaisaran Wei, tapi menurut berita yang beredar, Pengemis Sakti Bertangan Enam itu dikabarkan mempunyai kekuatan yang sangat dahsyat.
Bahkan katanya kekuatan kakek tua itu hampir setara dengan Raja Neraka Tanpa Ampun yang merupakan Kepala Tetua Sekte Tangan Dewq Kegelapan.
__ADS_1
"Tuan Ang terlalu memujiku. Ngomong-ngomong, kenapa kau bisa tinggal di goa ini?" tanya Huang Taiji penasaran.