
Kwee Moi bertambah marah. Dia sangat marah sekali mendengar perkataan Shin Shui barusan.
Padahal, Pendekar Halilintar itu tidak ada maksud untuk menghina ataupun sejenisnya. Tetapi anggapan Kwee Moi, Shin Shui telah menghinanya. Hasil latihan selama ini, di anggap masih kurang untuk dapat bertarung dengannya.
Orang yang sedang dikuasai amarah memang selalu seperti itu. Orang lain maksud baik, dia menerimanya buruk. Begitupun sebaliknya.
Kwee Moi bangkit berdiri dengan kedua tangan mengepal. Urat-urat tampak jelas. Tanda bahwa dia tidak main-main lagi. Wanita itu nampaknya benar-benar ingin mengadu nyawa dengan Shin Shui.
"Keparat kau Shin Shui. Mentang-mentang kau telah berhasil membunuh dua puluh rekanku. Jangan berlagak sombong, mampus kau …" bentaknya lalu maju menerjang lagi.
Dua wanita bercadar yang sedari tadi hanya diam, kini mereka ikut bergerak juga. Tubuhnya melesat seperti burung pemangsa.
Arah sasarannya sama seperti Kwee Moi. Yaitu Shin Shui.
Sayangnya sebelum dua wanita tersebut mencapai sasaran, sambaran angin tajam dari sisi kanan dan sisi kiri menerjang keduanya.
San Ong dan Ong San.
Dua siluman kera putih kakak beradik itu secara mendadak menghantamkan pukulan ke depan. Segulung angin dahsyat menerjang dua wanita bercadar.
Dua wanita tersebut terkejut. Buru-buru mereka menarik serangannya kembali lalu mundur empat langkah.
Serangan pukulan dua kera bersaudara terus melesat ke depan menghantam dua batang pohon berukuran besar.
"Blarr …"
Dua pohon yang menjadi sasaran hancur berkeping-keping. Daunnya hangus terbakar. Tak ada lagi yang utuh dari pohon tersebut.
Kedua wanita tadi hanya bengong melihat kemampuan dua ekor siluman yang kini ada di hadapannya tersebut.
"Kita harus serius. Karena kalau tidak, nyawa kita menjadi taruhannya. Dua kera itu bukan siluman biasa, kedua siluman itu mempunyai kekuatan mengerikan. Kau sendiri tadi sudah menyaksikannya," kata seorang wanita bercadar kepada rekan di sampingnya.
"Apa yang kau katakan benar. Lebih baik kita keluarkan seluruh kemampuan sekarang juga," jawab wanita bercadar satunya lagi.
Selesai berucap demikian, dua orang wanita tersebut segera mengeluarkan seluruh kekuatan yang mereka miliki. Tubuhnya mendadak diselimuti oleh aura berwarna hijau muda.
Nampak indah. Tapi juga nampak menyeramkan.
__ADS_1
Secepat kilat dua wanita tersebut menerjang San Ong dan Ong San. Dua buah pukulan jarak jauh dilancarkan oleh mereka masing-masing.
Dua siluman kera tersebut masih nampak tenang. Mereka sudah tahu bahwa dua wanita ini, kekuatannya tidak jauh berbeda dengan lawan-lawan mereka sebelumnya. Paling hanya merupakan Pendekar Dewa tahap tiga.
Empat buah sinar hijau sedikit lagi hampir tiba ke harapan dua siluman kera. Di belakang sinar tersebut ada dua sosok yang mengikutinya sambil melancarkan serangan lain.
"Blarrr …"
Empat sinar tersebut berbenturan secara tiba-tiba. Nampaknya sinar itu dibenturkan oleh dua siluman kera bersaudara.
Mereka tertawa lalu berjingkrak sambil menghindari pukulan beruntun dari dua lawan.
Di tengah pertarungan tersebut, dua wanita itu sungguh tidak habis pikir. Serangan mereka yang sudah terbilang kelas atas, ternyata dapat dimentahkan dengan mudah oleh dua ekor siluman.
Bahkan yang lebih parah, jurus mereka dibenturkan dengan mudahnya.
San Ong dan Ong San tidak mau membuang tenaga secara percuma. Kedua siluman tersebut langsung melancarkan hujan pukulan dan tendangan kepada dua wanita bercadar.
Setiap pukulannya membawa angin berhawa panas. Gelombang energi menyapu arena pertarungan. Pukulan semakin dahsyat dilancarkan.
Keempatnya sudah bertarung selama dua puluh lima jurus. Posisi dua wanita bercadar semakin terdesak hebat. Keduanya merasa semakin tidak berdaya di bawah tekanan siluman kera.
Serangan dahsyat sudah siap. Tinggal di hentakkan ke depan, jurus pamungkas mereka akan melesat ke arah lawan.
Tapi sayangnya, hal tersebut hanyalah angan-angan semata. Karena sebelum niat mereka terkabul, dua siluman kera itu sudah melancarkan jurus dahsyat mendahului keduanya.
Sinar merah tembaga terlihat lagi. Dua sinar melesat secepat terjangan badai di tengah laut. Seperti ombak yang menghantam batu karang.
Sangat ganas. Dan tentunya sangat mematikan.
"Blarrr …"
Dua wanita bercadar tidak sempat menghindar. Tubuh keduanya terdorong hingga puluhan langkah. Begitu berhenti, nyawanya sudah melayang dari raga.
Berbarengan dengan dua pertarungan tersebut, pertarungan Pendekar Halilintar melawan gadis cantik di masa lalunya sudah mencapai akhir.
Mereka telah bertarung sebanyak dua puluh jurus. Pendekar Halilintar saat ini berada dalam posisi menyerang.
__ADS_1
Gempuran tapak berkekuatan dahsyat sudah dia lancarkan. Tanah banyak berlubang akibat jurus yang tidak mengenai sasaran.
"Tapak Kemarahan Budha …"
"Wushh …"
Dua gulueny angin dahsyat membentuk tapak menerjang Kwee Moi. Serangan tersebut melesat dengan kecepatan tinggi. Bebatuan terbawa dan ikut menggulung bersama daun-daun kering.
Kwee Moi tidak mau pasrah dalam keadaan seperti itu. Walaupun dia sadar sulit untuk meriah kemenangan, setidaknya dia telah berusaha semaksimal mungkin.
Wanita tersebut berteriak nyaring lalu mencelat ke atas. Kedua tangannya mengibas sehingga keluar enam sinar hitam yang mengerikan.
Suara bergemuruh dan jeritan menakutkan terdengar menggema di malam yang gelap.
Enam sinar tadi melesat ke arah datangnya jurus Shin Shui.
"Blarr …"
Benturan jurus kelas atas terjadi lagi. Kedua pendekar tersebut terdorong ke belakang. Shin Shui masih berdiri, hanya tangannya saja yang terasa sedikit kesemutan. Itupun hanya berlaku sebentar.
Sedangkan Kwee Moi, dia jatuh hingga bergulingan lalu menabrak pohon. Mulutnya mengeluarkan darah cukup banyak. Darah dalam tubuhnya bergolak akibat hantaman jurus dahsyat barusan.
Dia tidak dapat bangun kembali sebab semua tubuhnya terasa sangat lemah. Jangankan untuk bertarung, untung berdiri pun tidak bisa. Dia hanya tergelatak tanpa daya di atas tanah.
Shin Shui menghampiri wanita tersebut dengan tenang. Nafasnya masih teratur. Wajahnya masih dingin. Sama sekali tidak terlihat bahwa dirinya telah melewati pertarungan dasyat beberapa saat lalu.
"Aku harap kau tidak meneruskan dendammu itu. Sebab sampai kapanpun, perasaan dendam hanya akan mendatangkan kerugian. Kau akan terus menderita jika selalu menuruti dendam," kata Shin Shui tenang.
Dia tidak ingin membunuh Kwee Moi. Bukan karena tidak mampu, kalau dia mau, bahkan hanya dengan satu pukulan saja, wanita tersebut bisa tewas saat ini juga.
Tapi dia tidak mau. Bagaimanapun juga, Kwee Moi adalah wanita di masa lalunya. Meskipun belum pernah menjalin perasaan, setidaknya Shin Shui tahu bagaimana perasaan wanita itu sendiri.
"Kenapa kau tidak mau membunuhku? Apakah aku belum pantas mati di tanganmu?" tanya Kwee Moi masih dengan perasaan benci.
"Aku tidak mau membunuhmu karena kau bukan musuhku. Tidak ada kata pantas atau tidak pantas. Yang ada hanyalah mau atau tidak. Dan aku memilih untuk tidak. Aku harap kau bisa hidup menjadi lebih baik lagi ketika mendapatkan kesempatan," ucap Shin Shui sambil berjalan menghampiri dua sahabatnya.
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut gadis itu. Dia hanya melamun memandangi awan yang kelam dengan sinar rembulan yang redup.
__ADS_1
Shin Shui bersama San Ong dan Ong San langsung melesat menembus kegelapan. Mereka bertiga ingin langsung menuju tujuan utamanya.