Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Perang Besar XV


__ADS_3

Grrr!!! Roarr!!!


Shin Shui dan naga halilintar menggeram sangat keras secara bersamaan. Keduanya mendadak mengeluarkan satu kekuatan yang sangat dahsyat. Mereka mengamuk, mereka sangat marah kepada tujuh tokoh kelas atas tersebut.


Wushh!!! Wushh!!!


Pendekar Halilintar menerjang kembali dengan jurus Pedang Cahaya. Gerakannya lebih cepat dari pada biasanya. Shin Shui sudah mengeluarkan kekuatannya hingga ke tiitk tertinggi. Karena itulah, keganasan dan kedahsyatan jurusnya tidak diragukan lagi.


Naga halilintar tidak mau kalah. Dia mengibaskan ekornya lebih kuat beberapa kali dari biasanya. Mulutnya mengeluarkan semburan api yang bercampur kilatan halilintar.


Keduanya menyerang tujuh tokoh kelas atas tersebut. Sepak terjang mereka semakin lama semakin mengerikan. Ketujuh lawannya merasa ngeri, mereka tidak pernah menyangka bahwa Pendekar Halilintar dan sang naga mempunyai kekuatan sedahsyat ini.


Ledakan dahsyat terus terdengar. Kekuatan mengerikan terus dikeluarkan seiring berjalannya pertarungan mereka.


Tujuh tokoh yang menjadi lawan Shin Shui mendadak berteriak dengan keras. Tujuh jurus dahsyat yang dimiliki masing-masing tokoh itu telah dilancarkan secara bersamaan.


Shin Shui tersenyum. Senyuman dingin yang sangat menyeramkan. Lebih mengerikan dari hantu gentayangan. Lebih menakutkan dari kematian.


Wushh!!!


Cahaya biru berkelebat dengan cepat. Satu gulung kekuatan dahsyat menerjang ke depan.


Crashh!!!


Darah menyembur. Satu tokoh telah berhasil ditebas kepalanya oleh Pendekar Halilintar. Shin Shui tidak mau berhenti, dia bersama naga halilintar terus melancarkan serangan selanjutnya.


Naga itu mengeluarkan serangan untuk membuyarkan konsentrasi setiap lawan Shin Shui. Sedangkan pemiliknya sendiri melancarkan jurus terdahsyat.


Jurus Pedang Cahaya.


Jurus itu keluar lagi. Jurus itu terlihat lagi.


Slebb!!!


Ujung Pedang Halilintar menusuk tenggorokan lawan dengan telak. Satu nyawa kembali melayang secara gampang. Tinggal lima lawan yang tersisa, sekarang kelimanya merasa ngeri kepada Shin Shui.


Sepak terjangnya yang sulit dibayangkan telah mendatangkan ketakutan tersendiri bagi lawannya.

__ADS_1


Shin Shui tidak pernah berhenti. Saat dia sudah mengeluarkan jurus Pedang Cahaya, Pendekar Halilintar pasti tidak akan berhenti bergerak sebelum semua sasarannya mampus.


Dia terus melancarkan tusukan dan tebasan yang sangat cepat. Lebih cepat dari rajawali yang memangsa buruan. Lebih cepat dari sambaran kilat yang menyambar bumi.


Crashh!!! Crashh!!! Crashh!!!


Tiga kepala terlempar cukup jauh ke belakang. Mereka langsung tewas saat itu juga. Dua tokoh yang masih hidup mendadak berhenti bergerak.


Keduanya terpaku di tempatnya masing-masing. Mereka tidak tahu harus melakukan apa lagi.


Lima rekannya telah tewas, itu artinya, kematian juga akan segera menghampiri dua tokoh tersebut.


Manusia mana yang tidak merasa bergidik jika kematian sudah di depan mata?


Meskipun mereka tokoh kelas atas di negerinya masing-masing, namun keduanya masih manusia. Manusia yang mempunnyai rasa takut.


Crashh!!! Slebb!!! Roarrr!!!


Dua nyawa kembali melayang secara bersamaan. Shin Shui sudah menyelesaikan pertarungan hebatnya hanya dalam waktu yang terbilang singkat.


Naga halilintar tidak berdiam. Dia langsung menelan habis tujuh tokoh yang menjadi lawan Pendekar Halilintar.


Tiga buah bola berwarna biru berukuran besar disemburkan lewat mulut naga halilintar.


Ribuan nyawa pasukan musuh melayang. Mereka terlempar, bahkan sebagian ada yang hancur menjadi serpihan-serpihan kecil.


Shin Shui berniat untuk mencari lawan berikutnya. Namun sebelum itu, sepuluh orang musuh kuat telah kembali mengepung dirinya.


###


Kakek Sakti Manusia Dewa masih berada di tengah-tengah lautan manusia. Orang tua yang dianggap sebagai Dewa itu terus melancarkan serangan dahsyat kepada pasukan musuh.


Puluhan ribu nyawa telah dibuat melayang olehnya hanya dengan kibasan tangan saja.


Pada saat demikian, tiga puluh tokoh kelas atas dari Kekaisaran Tang dan Kekaisaran Sung datang mengepung kakek tua yang sakti itu.


"Hemm, tua bangka yang tidak tahu diri. Coba lihat umurmu, sebentar lagi kau akan terkubur di dalam tanah. Harusnya kau menyepi dan memperbaiki diri, bukan malah turun tangan ke medan peperangan," kata salah seorang tokoh di antara mereka kepada Kakek Sakti Manusia Dewa.

__ADS_1


Orang itu tersenyum sinis. Seolah dia telah yakin bahwa kakek tua di hadapannya bisa dikalahkan dengan mudah. Dua puluh sembilan tokoh lainnya melakukan hal yang sama. Sebagai dari mereka juga tersenyum sinis, ada pula yang mengangguk tanda setuju dengan ucapan rekannya tersebut.


Respon Kakek Sakti Manusia Dewa justru sebaliknya. Kakek tua itu malah tersenyum hangat. Kedua tangannya di taruh di belakang, bibirnya mengulum senyum, sorot matanya lembut dan menenangkan.


"Apa yang kau katakan memang benar dan sangat beralasan. Namun, apa yang aku lakukan sekarang juga merupakan hal yang sama. Aku melakukan semua ini karena mempunyai alasan kuat. Kalau aku tidak turun tangan ke medan perang, bagaimana aku mempertanggungjawabkan semuanya jika bertemu dengan para leluhur Kekaisaran Wei sebelumku? Bagaimana bisa aku tetap menyepi saat situasi di tanah air kacau balau?"


Ucapan Kakek Sakti Manusia Dewa sangat perlahan. Bahkan ucapannya dikatakan dengan tenang dan penuh penghayatan. Seolah dia sedang membayangkan suatu kejadian yang tidak mungkin diketahui oleh orang lain.


"Semua orang tua ternyata mempunyai kebisaan yang sama. Mereka selalu membantah dan selalu ingin melakukan apa yang ingin dilakukan olehnya,"


"Bukan cuma yang tua. Bahkan yang muda juga sama," jawab Kakek Sakti Manusia Dewa.


"Terserah apa katamu. Yang jelas, jika kau tidak mau menuruti perkataanku, itu artinya kau sudah tidak sayang nyawamu,"


"Lalu?"


"Lalu kau harus mampus sekarang juga,"


Wushh!!!


Orang tersebut langsung melancarkan satu serangan jarak jauh yang amat dahsyat. Satu sinar merah meluncur dera seperti sebuah meteor yang jatuh ke bumi.


Hawa panas menyeruak. Sinar merah semakin menekan keadaan di sekitar. Kejadian ini berlangsung sangat cepat. Tidak sebanding dengan menulisnya yang membutuhkan waktu lebih lama.


Blarr!!!


Kakek Sakti Manusia Dewa mengangkat jari telunjuk lalu mengarahkannya kepada sinar merah tersebut. Ledakan besar langsung terjadi.


Orang yang tadi memberikan serangan kepadanya, tiba-tiba terlempar jauh ke belakang. Orang tersebut langsung tewas saat itu juga.


Semua tokoh yang mengepung Kakek Sakti Manusia Dewa terkejut setengah mati. Mereka tidak melihat apa yang sudah terjadi. Mereka tidak menyaksikan bagaimana kakek tua itu membunuhnya.


Semua tokoh itu tidak ada yang percaya. Bagaimana tidak? Seorang tokoh kelas atas, tewas hanya dengan menggunakan jari telunjuk. Siapa yang akan percaya dengan kejadian ini?


Orang tersebut tewas mengenaskan. Tubuhnya terpotong-potong menjadi beberapa bagian. Dia tewas tanpa sempat mengeluarkan suara apapun.


Kakek Sakti Manusia Dewa masih berdiri di tempatnya. Dia sama sekali tidak bergeming walau sedikitpun. Dia masih berdiri di tempat tersebut. Bibirnya masih tersenyum, tatapan matanya masih hangat.

__ADS_1


"Siapa yang ingin menjadi giliran selanjutnya?" tanya Kakek Sakti Manusia Dewa sambil memandangi dua puluh sembilan tokoh yang masih berada di sana.


__ADS_2