Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Mengobati Luka Huan Ni Mo


__ADS_3

Huang Taiji juga menghela nafas dalam-dalam. Wajahnya terlihat tua beberapa tahun.


"Itu sudah pasti Li'er. Tapi bagaimanapun juga, kita tetap harus menghadapinya. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan menghadapi mereka?"


"Li'er paham Paman. Sebisa mungkin, aku akan membantu,"


Huang Taiji hanya tersenyum simpul. Sekarang dia sudah bersiap-siap untuk mengobati Huan Ni Mo.


Kondisi tokoh wanita itu semakin mengkhawatirkan. Wajahnya telah pucat pasi. Bahkan sedikit membiru. Begitu juga dengan bagian tubuh yang lainnya. Luka luarnya memang tidak masalah. Namun luka dalamnya itu yang sangat bermasalah.


"Li'er, kau keluar dulu. Jaga pintu kamar dari luar supaya jangan ada yang berani masuk. Apapun yang terjadi, jangan biarkan siapapun masuk. Termasuk kau sendiri, sebelum Paman keluar, kau jangan mencoba masuk," kata Huang Taiji dengan wajah serius.


"Baik Paman. Li'er mengerti," jawab bocah itu.


Tanpa menunda waktu lagi, Chen Li langsung keluar dari kamar tersebut. Dia berdiri tepat di depan pintu kamarnya. Persis seperti seorang keamanan yang menunggu wilayahnya.


Chen Li sudah tahu kenapa pamannya melarang dia masuk. Hal ini sudah lumrah terjadi dalam dunia pertabiban.


Jika seorang tabib sedang mengobati pasien, diwajibkan agar tidak ada yang mengganggunya. Apalagi jika pengobatan tersebut menggunakan juga tenaga dalam. Terganggu sedikit atau pikiran melayang ke mana saja, maka nyawanya akan menjadi jaminan. Kalau bukan seorang di antara pasien dan tabib itu yang mati, maka bisa dipastikan justru keduanya akan tewas.


Tapi yang sebenarnya terjadi sekarang bukanlah karena alasan di atas. Huang Taiji menyuruh Chen Li keluar justru karena dia tidak mau bocah itu mengetahui siapa dia sebenarnya.


Karena menurut Huang Taiji, luka yang diderita oleh Huan Ni Mo si Wanita Tombak Asmara ini sudah sangat kelewat parah. Mustahil ada seorang tabib yang dapat menolongnya.


Oleh karena itulah, Huang Taiji berniat untuk mengeluarkan kekuatannya sebagai pengawal pribadi Dewa Lima Unsur.


Tangan kanannya mengibas pelan. Puluhan jarum perak mendadak muncul di depannya di atas sebuah kain putih.


Orang tua itu mengambil jarum satu-persatu lalu dia segera menusukkan ke titik tujuh puluh dua jalan darah yang ada di tubuh. Gerakannya sangat cepat sekali. Bahkan mungkin lebih cepat daripada gerakan seorang tabib pengalaman.


Terpaksa Huang Taiji membuka sebagian pakaian Huan Ni Mo. Karena kalau tidak dibuka seperti itu, tentu dia akan kesulitan untuk menusuk jalan darahnya.


Hanya sekejap mata, puluhan jarum perak itu sudah menancap di titik yang telah ditentukan.

__ADS_1


Huang Taiji segera menyalurkan tenaga dalamnya ke tubuh Huan Ni Mo. Dari balik telapak tangannya terlihat ada sinar putih yang secara perlahan memasuki tubuh wanita tersebut.


Lima belas kemudian, terlihat ada gerakan kecil. Kaki Huan Ni Mo berkutik, Huang Taiji segera mencabut satu jarum peraknya. Dia terus menyalurkan tenaga dalam selama proses pengobatan tersebut.


Setiap kali ada bagian tubuh yang menunjukkan reaksi, maka orang tua itu akan mencabut jarum perak yang ada di dekat titik tersebut.


Keringat sudah membasahi keningnya. Tenaga dalam yang dia keluarkan juga sudah cukup banyak. Setelah hampir satu jam kemudian, Huan Ni Mo terbatuk dan tiba-tiba dia memuntahkan darah kehitaman yang tidak sedikit jumlahnya.


Huang Taiji tersenyum cerah. Dia semakin bersemangat lagi. Beberapa kali tokoh wanita itu memuntahkan darah yang sama. Hingga pada akhirnya dia memuntahkan darah merah segar.


Kalau sudah keluar tanda seperti itu, berarti racun dalam tubuhnya sudah terkuras banyak. Dan luka dalamnya berangsur membaik meskipun secara perlahan-lahan.


Huang Taiji sangat gembira. Pada akhirnya dia berhasil menyelamatkan nyawa manusia. Nyawa yang tadinya hampir melayang, sekarang telah kembali lagi lewat perantara dirinya.


Setelah tujuh puluh dua batang jarum perak dicabut, Huang Taiji kemudian memberikan tiga buah butir pil berwarna merah darah. Dia langsung memasukannya ke mulut Huan Ni Mo.


Selama proses pengobatan tersebut, di ruangan kamar itu diselimuti sebuah aura yang sangat aneh. Bahkan terasa sangat menekan sekali.


Aura itu bukanlah aura biasa yang sama seperti manusia umumnya. Bahkan Shin Shui sendiri tidak mempunyai aura seperti itu.


Tepat, Chen Li. Kelak jika Mata Dewa sudah terbuka lebih dari tiga unsur, maka bocah itu akan memiliki aura sama yang dikeluarkan oleh Huang Taiji barusan.


Hanya Chen Li manusia satu-satunya yang diberkati keistimewaan seperti ini. Kekuatan para Dewa.


Beberapa saat kemudian, setelah semua proses pengobatan selesai, Huang Taiji segera keluar ruangan.


"Apakah sudah selesai Paman?" tanya Chen Li seketika ketika melihat Huang Taiji keluar.


"Sudah," jawabnya sambil tersenyum.


"Bagaimana sekatang? Apakah dia berhasil diselamatkan?"


"Kau jangan khawatir Li'er. Huan Ni Mo tidak akan mati sekarang,"

__ADS_1


"Aii, syukurlah. Aku merasa sangat senang sekali,"


"Sekarang kau tunggu dia di kamar, aku akan memesan bubur untuknya. Sekaligus aku juga ingin istirahat sebentar," kata Huang Taiji sambil menepuk pundak Chen Li.


Dia kemudian turun ke bawah lalu memesan bubur sekaligus minta di antarkan. Tak lupa juga dia memesan seguci arak untuk dirinya sendiri.


Arak sudah ditangan, sekarang waktunya untuk keluar mencari angin.


Orang tua itu segera keluar ruangan. Dia melompat ke sebuah pohon dan meneguk araknya di sana.


Mentari sudah meninggi. Burung-burung telah berterbangan ke sana kemari. Angin semilir meniup lembut jubah putihnya.


Dia bertengger seperti burung elang. Walaupun terlihat santai, tetapi matanya sangat waspada. Dia mengawasi keadaan sekitar tempat tersebut. Dirinya merasa ada kehadiran orang-orang sesat.


Dugaannya tidak salah. Tidak berapa lama kemudian, muncul serombongan orang berkuda. Jumlahnya tak kurang dari dua puluh orang.


Mereka sedang mengejar-ngejar seorang kakek tua yang menggendong seorang gadis kecil.


"Siapa orang yang mereka kejar itu?" tanyanya entah kepada siapa sambil memicingkan mata.


Karena merasa penasaran, dia langsung melompat dari dahan pohon tersebut. Orang-orang berkuda semakin mempercepat lari kudanya. Si kakek tua yang menggendong gadis kecil juga mempercepat larinya.


Begitu mereka tiba di tengah hutan, kakek tua itu menghentikan langkahnya.


"Berhenti!!!" tepat sebelum si kakek tua menghentikan langkah, seorang di antara mereka telah berteriak lantang.


"Hehehe, di sini tidak ada siapa-siapa, sekarang aku bebas bertindak sesuka hati," ucap si kakek tua sambil tertawa terbahak-bahak.


Gadis kecil yang ada di gendongannya dia turunkan. Usia gadis itu tak lebih dari tiga belas tahun. Namun meskipun begitu, dia terlihat sangat cantik sekali.


Huang Taiji masih mencoba mencerna keadaan. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.


Seorang di antara penunggang kuda melompat lalu mencabut pedang dan ditusukkan ke arah kakek tua tadi.

__ADS_1


"Hemm, permainan yang bagus. Sayangnya mataku sangat jeli," gumam Huang Taiji.


__ADS_2