
Tiga orang rekannya terkejut dengan apa yang terjadi kepada seorang rekan mereka. Padahal semua melihat bahwa bocah itu sama sekali tidak bergerak kecuali hanya mengibaskan tangan.
Tak disangka hanya dengan satu kibasan tangan saja, ternyata seorang rekannya langsung terjengkang dan terjerembab.
Mereka segera menyusul rekannya keluar. Chen Li juga keluar sambil berjalan santai. Melawan empat orang seperti mereka bukanlah perkara sulit.
Apalagi dia sudah bisa mengukur kekuatan lawan. Keempatnya paling tidak hanya merupakan Pendekar Langit tahap empat.
Dengan kekuatan Mata Dewa Unsur Bumi atau juga dengan tenaga dalam langit bumi, bukanlah perkasa sulit untuk bisa membunuhnya.
"Aku beritahukan kepada kalian, bahwa kalian bukanlah lawanku," kata Chen Li sambil menaruh dua tangannya di belakang.
"Bocah sombong. Kau pikir kau siapa?"
"Aku? Kalian sungguh ingin tahu siapa namaku?"
"Sebutkan,"
"Hemm, orang-orang biasanya memanggilku Pendekar Tanpa Perasaan,"
Bagaikan petir menyambar kepala mereka. Tidak ada yang tidak terkejut. Semuanya merasa terkejut.
Nama Pendekar Tanpa Perasan ternyata sudah mulai menyebar. Apalagi beberapa waktu belakang ini Chen Li sudah sering tampil sebagai naga muda di dunia persilatan. Mungkin sebentar lagi para naga muda lainnya juga akan turut tampil membela tanah air mereka.
Keempat orang tersebut tanpa berkata lagi langsung melarikan diri dari sana. Chen Li sengaja tidak membunuh mereka karena dia ingin menghabiskan semuanya tanpa sisa.
Tapi nanti, setelah semuanya sudah jelas.
Dia kembali ke restoran. Orang-orang yang ada di dalam sana nampak ketakutan dengan kekuatan yang dipancarkan oleh Huang Taiji.
"Bagaimana?"
"Li'er membiarkan mereka pergi. Kita juga harus segera pergi Paman, sebab mereka akan kembali ke sini. Kita harus mencari tempat untuk menyusun rencana selanjutnya. Setelah tahu semua kejadian sebenarnya, kita akan segera bergerak," kata Chen Li penuh keyakinan.
"Baik, Paman sependapat denganmu. Kalau begitu, sekarang kita pergi,"
Mereka segera naik ke atas untuk membawa Moi Xiuhan. Setelah membayar semua biaya, ketiga orang tersebut langsung pergi dari sana.
__ADS_1
Huang Taiji Lu menggendong Moi Xiuhan. Mereka membawanya ke sebuah goa yang ada di hutan. Pada zaman ini, mencari goa bukanlah perkara sulit. Sebab hutan masih sangat banyak. Sehingga alam juga masih terjaga dengan baik.
Setelah menempuh jarak beberapa waktu, ketiganya telah memasuki hutan dan menemukan goa cukup besar. Huang Taiji Lu membuat obor sebagai penerangan.
Setelah tiga hari kemudian, keadaan Moi Xiuhan semakin membaik. Dia telah pulih seperti sedia kala. Pengobatan yang selalu dilakukan oleh Huang Taiji memang luar biasa.
Luka parah yang dialami Moi Xiuhan saja bisa sembuh hanya dalam waktu yang terbilang singkat.
Saat ini waktu menunjukkan sore hari. Suasana di sana nampak tenang dengan keramaian suara burung yang kembali ke sarang mereka. Suara air mengalir membuat nyaman perasaan.
Ketiga orang tersebut sedang duduk di depan goa yang selama beberapa hari ini menjadi tempat tinggal sementara mereka. Di hadapannya ada tiga ekor ayam hutan yang sedang dibakar.
Sambil menunggu ayam matang, Chen Li mengajak Moi Xiuhan untuk bercerita. Karena beberapa hari belakang di rawat terus, maka gadis muda itu sudah tidak merasa malu seperti semula lagi.
"Nona Xiuhan, apakah kau bisa menceritakan kejadian yang telah menimpa dirimu?" tanya Chen Li sambil membeli-balikan ayam bakarnya.
"Boleh, baiklah aku akan menceritakannya,"
"Semingguan yang lalu, aku diperintahkan oleh Nenek Ye untuk menjalankan misi bersama empat orang murid senior lainnya. Misi ini bisa dibilang rahasia, sebab gerakan musuh juga rahasia. Walikota Xing Juan itu palsu. Yang asli sudah meninggal beberapa waktu lalu. Kami tahu karena sudah menyelidikinya. Mereka sebenarnya penjajah yang menyamar menjadi bangsa pribumi. Dan kejadian ini bukan hanya menimpa Walikota saja, keluarga bangsawan Zhu juga mengalami hal yang sama,"
"Keluarga itu sudah dibunuh oleh para penjajah. Dan yang sekarang ada di sana adalah penjajah yang menyamar. Kami membagi dua kelompok untuk menyelidiki hal ini lebih dalam. Siapa sangka aku malah tertawan. Murid senior yang bersamaku juga tertawan, hanya saja mereka di tawan di kediaman keluarga bangsawan Zhu,"
"Memang bohong. Itu semua hanya akal busuk mereka supaya membuat warga percaya,"
"Jadi setelah ditawan itu, kau mendapatkan siksaan?"
"Aku rasa kau tahu sendiri,"
"Berarti rekanmu juga mengalami hal yang sama?"
"Mungkin begitu,"
"Hemm, aku mengerti sekarang. Berarti saat kau di tiang salib itu hanya merupakan akal mereka untuk memancing kepercayaan warga. Selain itu, mereka juga menakuti warga supaya tidak ada yang berani melawan. Dan kau sebagai contohnya," kata Chen Li mencoba menebak rencana musuh.
"Betul. Memang begitulah rencana mereka,"
"Hemm, mengorbankan satu ikan demi mendapat ikan banyak. Cukup cerdas juga," kata Huang Taiji memuji rencana musuh.
__ADS_1
Sekarang Chen Li mengerti bagaimana duduk perkaranya. Ternyata kabar bahwa musuh menyamar menjadi pribumi memang benar adanya. Mungkin tentara pemerintahan yang sempat dia lihat di sana juga merupakan musuh yang menyamar. Sedangkan aslinya bisa saja sudah tewas.
"Paman, kapan kita akan bergerak" tanya Chen Li.
"Hemm, Xiuhan'er, apakah kondisimu sudah kembali normal?"
"Sudah Tuan. Aku sudah seperti sedia kala,"
"Bagus. Kalau begitu malam nanti kita akan bergerak,"
"Siapa target pertama kita?"
"Keluarga bangsawan Zhu palsu. Kita harus bisa membebaskan rekan Xiuhan'er yang lainnya. Sebab kalau tidak, bisa saja mereka akan dijadikan sandera supaya kita menyerah," ucap Huang Taiji.
"Kalau begitu baiklah. Sekarang kita persiapkan dulu semuanya," ujar Chen Li.
Mereka kemudian makan karena ayam hutan bakarnya sudah matang. Sambil menunggu malam tiba, ketiganya mempersiapkan diri terlebih dahulu.
Malam hari telah tiba.
Kebetulan malam ini terang bulan. Bintang gemerlapan di angkasa raya. Suasana seperti ini cocok untuk melakukan operasi.
Angin berhembus lirih menggoyangkan dedaunan.
Tiga bayangan bergerak seperti sukma gentayangan. Tiga bayangan menembus gelapnya hutan dengan gerakan cukup cepat.
Chen Li dan Moi Xiuhan berada di depan. Huang Taiji Lu berada di belakang.
Mereka akan pergi untuk menuju ke kediaman keluarga bangsawan Zhu.
Jarak ke sana tidak seberapa jauh. Sehingga hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas menit saja, tiga orang itu sudah sampai di tempat tujuan.
Sekarang mereka sedang berdiri di satu dahan pohon besar. Di depannya sekitar jarak sepuluh tombak, berdiri sebuah rumah mewah yang besar. Halaman rumah itu sangat luas.
Lampu terang benderang. Penjaga berdiri di setiap sudut rumah. Huang Taiji Lu mengamati keadaan sekitar lebih dahulu. Para penjaga itu setidaknya setara dengan Pendekar Langit tahap tiga. Jumlahnya jika dihitung dari semua sudut, ada sekitar sepuluh penjaga.
"Li'er, Xiuhan'er, apakah kalian sudah siap?"
__ADS_1
"Siap," jawab mereka secara bersamaan.