Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 100


__ADS_3

"Agnes aku nitip istriku ya?"


"Baiklah tuan muda."


"Aku sudah berikan apa yang kau minta tadi pagi, pak Surya sudah memberikannya padamu kan?"


"Sudah tuan. Saat ini saya bawa untuk berjaga-jaga."


"Baguslah. Kamu memang bisa diandalkan. Aku pergi dulu ya sayang. Assalamualaikum."


"Waalaikum salam mas." Ucap Ani dengan syum yang mengembang dibibirnya. "Agnes apa yang diberikan sama mas Ardan?"


"Sesuatu untuk melindungi kita nona. Berjaga-jaga bisa saja kejadian kemarin benar-benar terjadi." Ujar Agnes menjelaskan. Ani menganggukkan kepalanya. "Saya akan disini menunggu nona Monica datang."


"Sudahlah masuklah kekelasmu nanti kamu malah terlambat masuk kelas. Aku bakalan gak enak nanti sama kamu." Sahut Ani.


"Tapi nona saya takut kalau terjadi apa-apa dengan nona aku yang bakal habis sama tuan muda."


"Apanya? Disini ramai. Gak bakalan deh mereka nekat. Sana masuk ke kelasmu supaya kamu gak telat."


"Baiklah nona. Jika ada apa-apa nanti telfon saya saja. Saya akan langsung kemari."


"Iya tentu saja. Tapi gak bakalan terjadi toh disini ramai. Gila apa, masa iya mereka nekat kemari. Sana."

__ADS_1


"Saya hanya memastikan keamanan nona karena itu tugas saya."


"Iya sudah sana." Agnes mengangguk, kemudian berlalu kekelasnya. Ani termenung mencoba meresapi kata-kata Agnes.


Melindungiku? Jadi tugasnya melindungiku? Mas Ardan bilang kemarin semua sudah diurus. Apa ini juga berkaitan dengan Agnes. Yah memang gadis itu terlihat seperti gadis tangguh. Tapi apa mas Ardan memberikan pekerjaan berbahaya untuk Agnes? Ah sudahlah.


Saat akan beranjak memasuki kelasnya, terlihat Jessica dan gengnya bergerombol. Berbisik-bisik sambil menatapnya. Namun, Ani mengabaikannya. Toh terserah mereka mau bisik-bisik tentang apa. Saat baru melangkahkan kakinya beberapa langkah. Ani kembali menghentikan langkahnya.


"Wah.... Gak nyangka ya. Kamu punya sugar Daddy? Gila pantesan mobilmu Gonta ganti." Ledek Jessica.


"Nah betul itu. Kemarin satunya merebut kekasih Jessi sekarang malah yang ini ni gila muka polos-polos malah nyeremin ya ketimbang kita."


Ani menghentikan langkahnya. Menatap satu-persatu orang-orang yang tengah berbisik-bisik tersebut. Berbisik? Oh tidak mereka setengah berteriak !! Itu artinya mereka sengaja supaya Ani mendengarnya. Ani menatap mereka dengan geram.


"Kenapa? Ngerasa? Aduh awalnya aku gak percaya loh. Gosip itu. Katanya elo simpenan om-om. Gak taunya , hahahahaha beneran deh."


Mereka semua tertawa. Ani menghampiri mereka dengan geram. Kali ini emosinya tersulut.


"Kenapa? Mau marah. Yaelah silahkan. Toh kalau marah berarti beneran kan?"


Ani mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ingin sekali menampar mereka namun dia urungkan. Toh yang penting om om itu suaminya. Dan Ani sendiri adalah istrinya yang sah secara hukum dan agama !!


"Kalau tidak tau yang sebenarnya mendingan diem deh. Nanti kecewa. Karena tidak sesuai dengan apa yang kalian pikirkan. Ya silahkan mau menggosip apapun itu hak kalian. Tapi aku juga punya hak untuk membela diriku sendiri. Mau laporin? Sana lapor dekan bilangin aku punya sugar Daddy. Aku selingkuhan. Sana bilangin."

__ADS_1


Mereka semua terdiam. Jessica melotot tak percaya, Ani berani membalas perkataannya. Kemudian Ani berbalik hendak meninggalkan kumpulan Jessica namun tiba-tiba....


"Ya kali palingan dekan itu sendiri juga pernah tidur sama elo." Kata-kata Jessica kali ini adalah kata-kata paling menjijikkan yang dibenci oleh Ani.


Tap ...tap ...tap... Dengan perlahan Ani mendekati Jessica. Wajahnya datar. Namun matanya menampakkan kilatan amarah. Amarah yang sedari tadi sudah ditahan. Kini membuncah dan....


Plakkkk. Tamparan keras mengenai pipi kanan Jessica. Jessica meringis.


"Satu tamparan ini peringatan dariku. Jika kamu masih mengulanginya lagi, dengan mengatakan hal-hal yang lebih menjijikkan. Lihat saja, bukan hanya tamparan. Tapi aku akan membawa perkara ini keranah hukum !! Dengan tuduhan pencemaran nama baik !! Ingatlah nona Jessica." Ucap Ani dengan tegas. Jessica menggerakkan giginya. Tangannya memegangi pipinya yang merona merah akibat tamparan dari Ani.


"Ada yang mau nambah masalah lagi kah?" Kini dia mengedarkan matanya pada seluruh mahasiswa yang berada didalam kelas. Matanya masih menunjukkan kilatan amarah. Kepada semua yang berbisik-bisik menggunjingkan dirinya kini terdiam. "Kuharap ini peringatan pertama dan terakhir untukmu." Berlalu meninggalkan Jessica dan gengnya. Jessica yang masih menahan malu itupun segera beranjak pergi meninggalkan ruangan itu.


"Hai beb...." Monica dengan heboh mendudukkan bokongnya dikursi samping Ani.


"Hai Monic."


"Em kenapa suasana aneh gini ya?" Tanyanya begitu melihat situasi yang aneh. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.


"Gak apa-apa. Gimana kencanmu?"


"Apaan sih?! Kemarin aku kan cuma diajak kerumah Tante Sarah aja kok." Jawab Monica menundukkan kepalanya.


"Wahhh... Mas Kevin satu langkah lagi dong." Goda Ani. Semburat merah muda nampak dikedua pipi Monica. Mencoba menyembunyikan wajah malunya dengan memalingkan wajahnya. "Kalau gitu kapan nikah?"

__ADS_1


Duaaaarrr.... Monica terlonjak kaget. Semakin ingin menghilang saja karena malu.


__ADS_2