
“Setiap kebersamaan pasti akan berakhir, tapi kebahagiaannya akan tetap abadi dalam kenangan indah kita.”
“Jangan menunggu kehilangan baru sadar arti kebersamaan."
"Semua orang pantas untuk bahagia Ri. Begitupun dengan kamu. Lihatlah Ri. Dulu kamu bilang kamu tak memiliki siapa-siapa lagi bukan? Nah Allah mengabulkannya, kau bertemu dengan ayah kandungmu. Sekaligus jawaban dari semua pertanyaanmu di masa lalu. Kenapa ayahmu tak pernah memikirkan tentangmu dan mamamu. Karena ternyata kau bukan anak kandungnya. Dan kini kamu sudah bertemu dengan ayah kandungmu. Saatnya kamu bahagia Rianna,"
Begitulah keseharian dari Mariani. Memberikan motivasi dan semangat untuk Rianna. Berkat kesabaran dan ketelatenannya Rianna kemarin memberikan respons yang cukup membuat kaget semuanya. Walaupun hanya mengucapkan sepatah kata menurut dokter Samuel itu lebih baik. Cepat atau lambat Rianna akan segera kembali seperti dahulu. Karena Rianna juga merindukan semua orang yang menyayanginya.
"Ri...kamu sayang aku?"
"Kh..."
"Oke...tidak perlu menjawabnya. Cukup anggukkan kepalamu saja. Kau mengerti?"
Rianna mengangguk. Itu artinya tubuh Rianna masih merespons dengan baik. Ani tersenyum.
"Kau menyayangiku?"
Satu anggukan kecil tanda mengerti.
__ADS_1
"Apa kau juga ingin bahagia?"
Rianna kembali mengangguk.
"Aku akan berbagi satu rahasia padamu. Aku juga pernah mengalami dimana rasanya hidup tak adil. Aku pernah putus asa saat aku benar-benar terjatuh di jurang yang sangat dalam. Makanya aku nggak pengen kamu merasakan. hal yang sama denganku. Jadi bisakah setelah ini kamu berjanji? Berjanji bahwa kamu akan bahagia. Menerima ayah kandungmu kembali? Karena nggak semua orang memiliki kesempatan kedua,"
Terlihat genangan air di kedua sudut mata Rianna. Netra mata berwarna biru itu. Terlihat berkaca-kaca. Ani perlahan membuka atasan dress miliknya. Terlihat beberapa buah luka kering terpampang disana.
"Ke...kenapa?"
"Hadiah dari mantan suamiku. Kamu tau Ri? Rendy mungkin aja nggak akan mendapatkan kesempatan untuk bertemu ayah kandungnya. Mungkin aja ayahnya melupakannya. Karena sebuah konflik diantara kami berdua,"
"Hiks...hiks....,"
"Selagi ada kesempatan. Maka raihlah kebahagiaanmu RI. Kamu pantas bahagia," Ani mengecup kening Rianna kemudian merengkuh tubuh Rianna menenggelamkannya kedalam pelukannya.
"Kamu mau bertemu ayah kandungmu?"
Hening melenggang. Tak berapa lama kemudian Rianna mengangguk. Ani menatap wajah sendu Rianna.
__ADS_1
"Kau yakin memberikan kesempatan kedua untuk ayahmu?"
Kembali mendapatkan jawaban dari anggukan kecil Rianna.
"Mau aku panggilkan tuan Smith sekarang?"
Rianna mendongakkan kepalanya. Menatap sendu ke arah kakak iparnya. Seorang yang dirasakannya tulus menyayanginya.
"Iya," jawab Rianna singkat.
"Baiklah aku panggil dulu tuan Smith," saat akan bergerak tangan Rianna memeluknya erat. "Aku akan menemanimu sayang. Tenanglah. Kamu pantas bahagia,"
Secara perlahan pelukan erat itu lama-kelamaan mengendur. Rianna kini duduk tegak dengan wajah yang berurai air mata.
"Aku jemput kebahagiaanmu dulu," sebelum berlalu Ani meninggalkan kecupan di kening Rianna.
Segera Ani membuka pintu dan terlihat mereka semua khawatir terhadap Rianna. Terlebih laki-laki yang terlihat bengis dan kejam beberapa waktu yang lalu itu. Dengan rambut yang sudah mulai memutih, laki-laki itu terlihat sangat kacau.
"Tuan Smith," merasa ada yang memanggilnya Smith mengangkat kepalanya. Kedua matanya terlihat sembab. Bahkan bawah matanya terlihat gelap. Entah sudah berapa lama laki-laki paruh baya itu tak tidur dengan nyenyaknya.
__ADS_1