
William menarik tangan Sabrina lalu membawanya menuju pinggiran ranjang. Sabrina mendadak gelisah. Ia yakin, jika William pasti akan bertanya banyak hal.
"Katakan padaku, bagaimana kau bisa bertindak baik-baik saja? Padahal kau telah membuat tubuhmu terluka. Dari caramu berkelahi, aku bisa menarik kesimpulan. Jika kau memiliki kemampuan bela diri lebih baik dari kemarin , bukan?" tebak william.
Seketika membuat Sabrina mati kutu. Mungkin, Sabrina bisa memasang wajah datar di depan orang lain. Berbeda dengan di hadapan oleh orang yang begitu penting dalam hatinya. Sabrina menjadi gamang. Sabrina melirik William dengan takut-takut. Bagaimana jikaa ia ditinggalkan? Terlebih, mereka menikah tanpa cinta.
"Kenapa diam saja? Apa kau berpikir aku akan meninggalkanmu setelah semua kebenaran? Tidak Sabrina, kau telah mendapatkan kepercayaanku lebih dari apapun. Kau membuat Artur juga percaya padamu. Kau tidak lihat aura permusuhan dalam diri Artur yang telah hilang? Kau berhasil membuatnya percaya. Kenapa aku tidak percaya padamu?" William meremas jemari Sabrina.
Melihat Sabrina terdiam, William kembali berkata, "Jika aku ingkar, kau bisa menarik semua yang telah kau lakukan padaku. Kau memiliki segalanya. Perusahaanku bersama mendiang istriku, juga milikmu. Aku hanya menjabat sebagai Presiden Direktur saja. Kau bisa menghabisiku dalam satu jentikan jari."
Sabrina menatap William dengan seksama. "Ikut aku. Mungkin Uncle bisa menyimpulkannya sendiri. Ayo, aku harus ke rumah. Ada saudaraku yang bisa melacak seseorang. Pakai sepeda motor Artur. Itu akan lebih cepat."
William segera berganti pakaian. Pria itu kembali dengan style yang begitu keren di kedua mata Sabrina. Padahal, usia pria itu lebih tua 15 tahun darinya.
"Sabrina, ayo.'' William menarik tangan Sabrina yang mematung. Membuat gadis itu tersentak.
"Eh."
Kini mereka berdua telah sampai di garasi. William mengeluarkan sepeda motor yang jarang sekali ia pakai. Sedangkan Sabrina, membeku di tempatnya. Jantungnya bahkan tak bisa dikondisikan. Malam ini ia seolah kalah telak. Mengingat William dengan mudah memporak porandakan hatinya.
__ADS_1
"Ya ampun, suamiku ini kenapa ganteng banget. Kalo gini terus, aku bisa mati berdiri karena serangan jantung. Memang, pria yang matang itu lebih keren. Mataku ini tidak pernah salah memilih." Sabrina membatin.
"Sudah cukup menatapku, sekarang ayo kita berangkat." William mengulum senyuman.
Membuat Sabrina salah tingkah. Gadis itu tak menjawab. Ia memilih segera duduk di belakang William. Dengan segera, William menarik tangan Sabrina untuk memeluknya dari belakang. Sabrina hendak menarik tangannya. Rasanya berdekatan dengan William membuat jantungnya tak sehat.
"Jangan dilepaskan. Nanti kau bisa jatuh," kata William.
Tak berapa lama, William menyalakan mesin motornya. Lalu melajukannya menjauhi rumah minimalis itu. Dari lantai dua, Artur menatap kepergian William dan Sabrina dengan sorot sendu.
"Sabrina, aku tidak mengerti apapun. Tapi, terima kasih telah menyelamatkan perusahaan ayah dan mendiang ibundaku. Begini pun, aku paham rasa terima kasih. Meski hati tak rela kau mengganti posisi ibundaku, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya ingin, kau bisa mencintai ayahku seperti ibundaku yang tulus mencintainya," gumam Artur.
"Papa!" panggil Sabrina.
Rendy yang tengah bersantai bersama Elena, menoleh ke arah Sabrina yang berseru. Elena segera menghambur ke pelukan anak gadisnya.
"Ada apa?" tanya Rendy kembali membaca koran.
"Pa, Papa sudah tahu kejadian tadi. Aku sudah melacaknya, tapi nihil. Aku tidak bisa membobol data apapun. Cctv yang aku pulihkan, juga tak banyak membantu," jawab Sabrina.
William mendudukkan tubuhnya di sofa yang lain. Pria itu memilih membungkam mulutnya, lantaran tak paham apa maksud dan tujuan Sabrina kembali ke rumah orangtuanya. William menatap bingung pada Rendy yang terduduk angkuh di sebuah sofa tunggal. Pria itu seolah tak terganggu dengan pertanyaan dari Sabrina.
__ADS_1
"Sudah kubilang, kau memiliki dua kunci. Kenapa tak kau gunakan?" ketus Rendy.
Dahi William mengerut. Pria itu berkata dalam hati, "Apa maksud dari dua kunci? Mengapa Rendy mengatakannya dua kali?"
"Sabrina!" Sebuah suara membuat William menoleh.
Pria itu melirik orang-orang yang santai tanpa menoleh ke arah sumber suara. William kembali menatap sosok gadis yang berada di lantai dua. Kedua iris abu-abunya melebar seketika saat melihat gadis itu melompat langsung ke lantai bawah.
Sabrina bangkit dari duduknya. Seperti waspada akan hal yang dilakukan oleh adiknya. Benar saja, Amelia memberikan tendangan membuat Sabrina merunduk. Kaki Amelia mengenai sofa. Kali ini Sabrina tak tinggal diam, ia membalas dengan memberikan tendangan. Amelia justru memutar tubuhnya menghindari kaki Sabrina yang melayang.
"Berhenti! Kalian ini, kenapa kelakuan seperti bocah?" Elena memijit pelipisnya.
"Dia! Seenaknya pulang dan seenaknya saja pergi dari rumah ini!" Amelia menunjuk wajah Sabrina.
"Hei! Aku kakakmu! Turunkan tanganmu!" Sabrina menepis tangan Amelia yang menunjuk wajahnya.
"Sabrina, jangan ditanggapi sikap Amelia. Dia hanya kecewa padamu karena meninggalkan rumah ini terburu-buru. Sekarang, Amel duduk dulu." Elena menarik tangan putri bungsunya lalu membawa Amelia duduk di sofa panjang bersamanya.
Sedangkan Sabrina, mendudukkan bokongnya di samping William yang wajahnya tampak syok melihat adegan di depan matanya. Tanpa sengaja mata Amelia mendapati sosok William. Gadis itu menyipitkan kedua matanya. Memang saat pernikahan Sabrina dan William ia tidak tahu. Maka dari itu, ia cukup kesal mendengar Sabrina telah menikah.
"Kau siapa? Jangan bilang, kau suaminya kak Sabrina?" selidik Amelia.
__ADS_1