
"Lagian mami slalu berhasil kok. Bukan sekedar coba-coba tapi mami serius sayang papimu saja gak mau mami tinggal." Mami pun ngeyel seakan tak terima jika masakan yang akhir-akhir ini dia coba resepnya dibilang aneh padahal hasilnya memuaskan.
"Aduh papi sama mami akur banget sih. Jadi iri kan bisa bersama sampai tua." Mata Ani pun berkaca-kaca rasanya hatinya ikut sejuk melihat kedua orang tua itu saling menggoda satu sama lain. Sedangkan dia sudah pernah menjalani biduk rumah tangga yang gagal.
"Kamu ngomong apa nak? Tentu saja kamu nanti bisa menua bersama Ardan . Papi sudah tau semua masa lalumu. Tenanglah. Anggaplah kami seperti orang tuamu dirumah. Kami hanya berharap kamu dan Ardan bisa bahagia. Dan kami juga tak keberatan untuk menjaga dan merawat anakmu. Biar rumah ini lebih hidup. Sekalian kalau kamu kangen sama anakmu kamu bisa kemari setiap saat. Rumah ini benar-benar sepi semenjak Ardan hidup sendiri. Bawalah dia kemari nak." Kata-kata ayah mertua benar-benar meluluh lantakkan isi hati Ani. Membuat semua pertahanannya runtuh air matanya tak bisa ia tahan lagi.
"Loh kamu kenapa nak? Papi ini gimana sih lihat nih menantu kita jadi menangis kan !!! Sudah sayang kalau kamu belum siap dan belum percaya sama papi dan mami juga tak apa-apa. Mami yakin kamu masih butuh waktu untuk menerima kami. Maafkan papi dan mami ya?", Greeta memeluk menantunya itu. Seakan ingin berbagi perasaan satu sama lainnya.
"Hiks mami ngomong apaan sih? Hiks hiks aku siap kok mi Ani bakalan bawa Rendy kemari. Aku tau keluarga ini keluarga yang baik. Ani bukan ragu dan gak percaya sama papi dan mami. Makasih mami dan papi sudah mau merawat Rendy disini. Aku harap aku juga secepatnya hamil memberikan kehidupan baru di keluarga Wijaya. Terima kasih karna mami dan papi menyayangiku seperti anak kalian sendiri. Dan terima kasih meskipun Rendy bukan cucu kandung kalian, kalian sudah mau merawatnya. Hiks hiks...." Ani kemudian menyeka air matanya. Dia benar-benar terharu teramat dalam. Jika dibandingkan dengan keluarga Johan yang hanya mengedepankan ego masing-masing sangat bertolak belakang. Apalagi derajat perempuan disana harus selalu menuruti suami. Tak bisa diganggu gugat. Keputusan sang kepala keluarga merupakan hakim disana. Yang berarti mutlak harus dijalankan. Ibarat kata perempuan harus tetap diam jika sang suami mengutarakan pendapat dan keinginannya. Sedangkan sang istri wajib diam dan menuruti kehendak suami.
Benar-benar menyedihkan aku dulu. Disini bahkan kalian semua bebas berargumen bebas mengeluarkan pendapat. Sekarang aku sudah tak perlu ragu lagi kedepannya. Aku akan bersandar pada suamiku. Mas Ardan.
__ADS_1
Akhirnya mereka pun makan bersama diselingi celotehan papi atau mami yang saling menggoda satu sama lainnya. Sedangkan tugas Ani hanya tertawa lebar mengagumi keharmonisan sepasang suami istri itu.
Terlihat jam dinding menunjukkan pukul tujuh malam. Pak Surya menghampiri nona mudanya bersama mang Asep. Paman Ani. Dia benar-benar bahagia jika pada akhirnya keponakannya. Kini menjadi menantu di keluarga Wijaya.
"Kalau gitu Ani pulang dulu ya Pi mi kapan-kapan Ani kesini lagi. Papi dan mami gak usah repot-repot kerumah. Biar yang muda yang berkunjung kemari. Papi dan mami jaga kesehatan ya". Ani memeluk greetha hangat.
"Iya sayang jangan lupa janjimu Lo. Rendy harus dibawa kemari." Greetha melepaskan pelukannya. Terlihat senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya.
"Iya kamu harus kesini lagi ya wah.... lebih seru main sama kamu ya ketimbang sama mami dan Ardan mereka cepat banget bosan." Papi merengek. Pasalnya ketika meminta sang istri untuk bermain catur pasti bibirnya akan monyong kedepan beberapa centimeter. Belum lagi harus ada Omelan panjang kali lebar yang harus dia dengar dulu sebelum permainan dimulai.
"Iya pi. Eh.... Paman.... Kenapa gak nyapa?" Ani berhambur mendekati sang paman. Secara tidak langsung dialah yang membuatnya bertemu dengan kehidupan yang lebih baik ini.
__ADS_1
"Ani . ... Ah nona muda." Mang Asep terlihat menitikkan air mata. Dia benar-benar bahagia melihat sang keponakan akhirnya menemukan kebahagiaannya. Dia tahu betul kehidupannya saat di kampung halamannya. Sang kakak ayah Ani yang hanya pengayuh becak itu. Membuat keponakannya sewaktu masih sekolah pun harus ikut membantu mencari nafkah. Entah itu dia harus bekerja part time di toko kecil atau swalayan. Hanya untuk membantu biaya sekolahnya.
"Paman ngomong apa sih? Ani masih keponakan paman juga. Jangan bicara begitu lagi. Toh paman juga yang bawa Ani kemari dan bertemu dengan keluarga baru. Iya kan Pi mi ?"
"Iya mang Asep apa yang dikatakan ani ini memang benar. Kalau kamu tak membawanya kemari. Mungkin kami masih pusing dengan jodoh Ardan ." Nico ikut andil bicara. Dia juga bahagia karna mang Asep juga merestui keinginannya untuk menjodohkannya dengan Ardan. Dan memberitahu tentang keluarga Ani. Nico menghadiahi mang Asep sekotak sawah yang luas. Imbalan karna telah menjadi perantara untuknya dan keluarga besannya.
"Iya tuan besar. Terima kasih karna telah mencintai keponakan saya."
"Ya sudah paman ini sudah malam takutnya mas Ardan sudah pulang nungguin Ani. Kalau gitu Ani pamit dulu ya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam." Mereka menjawab serempak.
__ADS_1
Pak Surya membukakan pintu mobil kemudian dia memutar tubuh kembali ketempat mengemudi. Setelahnya mobil melaju dengan kecepatan sedang.