
Dion hanya mampu menatap setiap gerakan istrinya dengan seksama. Matanya bergerak seirama dengan gerakan gesit istrinya. Matanya tak lepas dari tubuh ramping milik istrinya itu. Terlihat Agnes mengunci semua lemari yang ada di kamar itu. Setelahnya menarik Dion keluar dari kamar sang pengantin.
"Kamu ngapain sih?" akhirnya pertanyaan itu lolos juga dari mulutnya. Namun Agnes malah menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya. Membuatnya mau tak mau harus diam membisu. Mengikuti setiap jejak langkah sang istri. Kini mereka berdua telah sampai dimeja resepsionis. Agnes mengembalikan kunci kamar sang pengantin itu kepada staf yang berjaga. Tak lupa mengucapkan terima kasih karena sudah membantunya melancarkan aksinya.
Kini keduanya memilih untuk pulang. Dion memperhatikan raut wajah sang istri yang kini tengah tersenyum lebar hingga menampakkan sederet gigi-giginya yang putih dan bersih.
"Kita udah perjalanan pulang nih. Kamu nggak mau cerita?" menarik tangan Agnes dan menyelipkan jari-jarinya diantara jari-jemari milik sang istri. Perlakuan manis itu membuat Agnes merona seperti tomat rebus.
"Sayang katakan. Atau aku akan mengatakan kelakuan anehmu itu pada Monica dan Kevin," ancaman dari Dion ternyata manjur. Terbukti kini Agnes menyandarkan kepalanya di jok kursi yang ia duduki.
"Aku tadi mengunci semua lemari pakaian yang ada didalam kamar pengantin itu mas," wanita itu bahkan masih cekikikan membuat Dion semakin dibuat penasaran.
__ADS_1
"Apa maksudmu dengan mengunci semua lemari pakaian yang ada di lemari itu?"
"Apa mas Dion nggak tau hadiah apa yang ku berikan untuk Monica?" kedua netra biru itu menatap lekat kedua netra coklat milik suaminya dengan lekat.
"Hadiah? Hadiah apa?"
Agnes kemudian melepaskan genggaman tangan Dion. Setelahnya dia mengambil ponsel miliknya yang ia simpan di dompet miliknya.
"Lihat ... ini yang aku berikan sebagai hadiah pernikahan untuk Monica," sebuah tawa yang lepas dan nyaring itu keluar dari bibir Agnes. Membuat Dion tersenyum melihat ulah jail istrinya.
"Aku hanya ingin balas dendam tentang Honeymoon yang konyol itu."
__ADS_1
"Hah? Honeymoon yang konyol? Apa maksudmu?" Dion menggertakkan giginya. Rahangnya mengeras mendengar bahwa Honeymoon mereka dikatakan konyol oleh istrinya.
"Kau marah? Dengerin dulu aku selesai ngomong. Tadi aku ngunci semua lemari mereka supaya Monica nggak bakalan punya baju ganti. Aku yakin dengan sifat Monica dia tidak akan mengenakan gaun malam yang menggoda itu bukan?"
"Jadi kau memberikan gaun malam itu untuk Monica dan mengunci semua lemari dikamar itu agar Monica mau tak mau memakainya bukan?"
Agnes mengangguk dengan senyum yang masih setia bertengger dibibirnya. Membuat Dion luluh dan mengusap pucuk kepala sang istri. Dia menghela nafas panjangnya.
"Baiklah sepertinya kau mulai nakal ya. Malam ini bukan hanya Monica yang kena hukuman karena memiliki sahabat sepertimu. Sepertinya aku juga harus menghukummu agar tidak membuat onar lagi." Dion tersenyum penuh arti.
"Kau...," Agnes menunjuk wajah Dion dengan jari telunjuknya.
__ADS_1
"Tuan muda nona muda, kita sudah sampai dirumah." Ucapan supir itu membuat kedua orang yang gagal fokus itu menoleh.
"Nah Sayang, ayo kita mulai malam yang panjang untuk kita berdua. Sebagai hukumannu!" Dion segera menarik tubuh Agnes kedalam gendongannya. Dia kemudian menggendong Agnes ala bridal style. Agnes yang tak memiliki persiapan itupun hanya mampu membulatkan kedua matanya.