
"Apa ini maksud dari sebuah kesepakatan?" tanya Elena yang pada akhirnya membuka suara.
"Hem." Itu bukan sebuah jawaban. Elena kembali memutar kedua bola matanya.
"Paman tolong. Katakan sesuatu agar aku juga tidak salah paham. Bisa? Baiklah ... Ini artinya adalah sebuah kesepakatan bukan? Kau ingin membantuku balas dendam. Tetapi aku harus menjadi wanitamu selamanya. Apakah kesepakatan ini setara dengan apa yang aku inginkan?" tanya Elena.
Rendy mendesah. Ia juga tak habis pikir dengan apa yang dia katakan. Tetapi baginya, Elena sekarang juga telah ada dalam hidupnya. Kini mobil telah berhenti di depan mansion.
"Jika kau masih ragu, maka kau bisa memikirkannya kembali. Aku harap, jawabanmu tak mengecewakan aku." Rendy segera keluar dari dalam mobil. Diikuti dengan Kei yang senantiasa di belakangnya. Elena turun dari mobil. Menatap lekat punggung kekar milik Rendy. Kemudian gadis itu mengehembuskan nafas kasar.
****
"Tuan Muda ..." Kei berhenti sejenak. Lelaki itu begitu mengkhawatirkan kedekatan Rendy dengan Elena.
"Tenang saja Kei. Aku akan meminta tolong temanku. Untuk mencari tau lebih dalam siapa Elena. Kau jangan khawatir yang berlebihan. Pulanglah. Aku tidak apa-apa," kata Rendy dengan sebuah senyum tersemat di bibirnya.
"Baiklah Tuan Muda." Kei membungkuk kemudian lelaki itu pergi meninggalkan kamar Rendy.
__ADS_1
Dengan kasar, Jordan membanting tubuhnya di atas ranjang. Pandangannya kosong menatap langit-langi kamarnya. Pikirannya melayang pada hal gila yang dia katakan pada Elena. Ada rasa tak percaya pada dirinya yang tiba-tiba begitu peduli dengan Elena. Gadis asing yang dia berikan sedikit hati untuk tinggal di mansion miliknya.
"Ada yang salah. Tapi aku juga tak mengerti diriku sendiri. Aku bahkan meminta dia untuk menjadi wanitaku. Apakah aku hanya kasihan padanya? Atau aku ada sedikit hati untuknya? Ckckckk hidupku saja sudah memiliki bnyak musuh. Mengapa aku malah memberinya bantuan untuk membalaskan dendamnya? Sialan ... Hatiku menginginkannya!"
****
"Selamat pagi, Paman!" sapa Elena saat dirinya melihat Rendy tengah berjalan kearahnya. Dengan sebuah senyum yang mengembang di bibirnya.
"Hem." Lagi-lagi hanya deheman yang dikeluarkan oleh Rendy. Bukan ucapan selamat pagi sebagai balasan dari ucapan Elena. Kembali Elena pagi-pagi dibuat kesal olehnya.
"Paman ... Bolehkah aku minta uang? Aku hari ini akan jalan-jalan," kata Elena.
"Temanku," jawab Elena singkat.
"Kau ingat apa yang terjadi di Restaurant itu?" tanya Rendy.
"Ya aku ingat," sahut Elena. Serta aku akan selalu mengingatnya. Bagaimana kau bertindak tanpa basa-basi. Itulah yang harus segera aku bahas dengan Lady.
__ADS_1
"Jika kau berkencan dengan laki-laki lain, kau akan aku habisi saat itu juga. Kau mengerti?" ancam Rendy.
"Paman ... Memangnya siapa yang mau berkencan denganku? Aku bahkan tidak mengenal siapapun kecuali temanku satu itu. Kau jangan berlebihan. Bagaimana gadis sepertiku ini bisa memikat laki-laki?" tanya Elena.
"Heh ... Kau paham juga. Kau juga harus sadar diri. Kau itu rata. Mana mungkin ada yang mau bersamamu," ucap Rendy dengan santai. Tetapi tidak dengan Elena. Gadis itu justru malah menyemburkan air minum yang baru saja dia minum. "Kau! Elena! Kau benar-benar berani?" Dada Rendypun kembang kempis.
"Maaf Paman! Itu salahmu juga mengapa kau mengatai aku rata? Apa kau tidak tau jika hal itu adalah hal yang paling sensitif untuk seorang wanita sepertiku?" Elena bangkit. Kini wajahnya pun merah padam.
"Elena! Habiskan sarapanmu!" teriak Rendy.
"Tidak! Aku tidak mau. Paman tidak peka sama sekali!" Elena tetap melangkahkan kakinya pergi melangkah keluar dari mansion milik Rendy.
"Kei ... Apa maksudnya aku tidak peka?" tanya Rendy heran.
****
Baca juga novel karya teman author yang kece satu ini gaes. Dijamin keren abis.
__ADS_1