
"Sabrina, bagaimana menurutmu?" tanya Artur.
Saat ini Sabrina telah berada di taman belakang bersama Arthur. Gadis itu terlihat tampak termenung. Bahkan Sabrina tak bergerak untuk waktu yang lama. Ia berdiri di depan deretan bunga-bunga yang indah bermekaran. Di sisi lain, Artur sedang duduk di kursi kayu. Ia menatap tubuh belakang Sabrina yang terus saja mematung.
"Aku merasa ini berkaitan satu sama lain. Tapi, aku merasa bersalah. Aretha bahkan menjadi korban. Aku merasa picik sekali," lirih Sabrina.
"Aku sebenarnya tak ingin berada di posisi ini, Sabrina. Tapi, mau bagaimanapun kau sekarang memiliki posisi penting untukku. Kuakui kau memiliki banyak sekali kebaikan dalam dirimu. Tapi tetap saja semua aneh karena aku memiliki mama sambung yang usianya bahkan sepantaran." Artur membatin.
"Ngomong-ngomong, hari ini tumben ayahmu tak mengantar kita ya, Artur?" tanya Sabrina.
"Entahlah. Mungkin dia memiliki banyak pekerjaan. Bukankah, dia memiliki dua perusahaan baru sekarang? Kau pikir dia memiliki banyak waktu untuk kita?" tukas Artur.
Drtt drtt.
__ADS_1
Ponsel Artur bergetar. Pria itu segera mengambil dan memencet tombol hijau. Mengabaikan Sabrina, Artur sibuk dengan teman yang menelponnya.
"Ada apa?" tanya Sabrina. Begitu Artur telah selesai dengan sambungan teleponnya.
Artur menghela napas. "Justin mengajakku nongkrong. Mungkin, dia ingin melupakan bayang-bayang kejadian yang tak biasa tadi."
"Boleh aku ikut? Rasanya aku juga perlu menenangkan pikiran." Sabrina merajuk.
"Aku tidak ingin berurusan dengan ayah," timpal Artur.
Artur menganggukkan kepala. Keduanya segera bangkit dan berganti baju. Setelah bersiap, keduanya menaiki sepeda motor milik Artur. Mereka menuju tempat Dixton dan Justin berada. Sebuah warung lesehan yang berada di alun-alun kota. Sedikit merilekskan pikiran rumit Sabrina.
"Lo, Sabrina ikut juga?" tanya Justin.
__ADS_1
"Ikut. Pikiranku berantakan." Sabrina tanpa sungkan segera mendudukkan bokongnya di tikar yang digelar. Terlihat Artur tengah memesan sesuatu di gerobak. Imbuh Sabrina, "Kalian sering kemari?"
"Ya. Kenapa? Kau pasti berfikir jika kami tidak akan mau berada di sini bukan? Sudah kubilang, semua di depan mata itu terlihat menipu. Kau tidak pernah kemari? Hei! Tutup pakai jaketku!" Justin melemparkan jaketnya kepada Sabrina.
Gadis itu nyengir kuda dan membentangkan jaket milik Justin untuk menutupi pahanya yang terpampang. "Aku kan tidak tahu kalau akan ke tempat ini."
"Dimaafkan. Kau pasti cukup syok kan dengan kejadian tadi? Aku saja sebagai laki-laki juga terbayang-bayang hal semengerikan itu di depan mata woi!" Justin menyugar rambutnya kasar.
Deg.
Sabrina dan Artur saling berpandangan. Artur lalu menjatuhkan bobot tubuhnya di depan Justin. Meski perempuan, nyatanya Sabrina jauh lebih mengerikan dari apa yang dipikirkan oleh Justin dan Dixton. Sabrina meneguk ludah dengan susah payah.
"Benar. Untuk itulah kami berada di sini, Sabrina. Aku seolah tertampar dengan kematian yang ada di depan mataku. Tapi, mereka dari kalangan bawah. Mengapa harus mereka yang dijadikan korban? Apa yang pelaku cari? Untuk hidup saja mereka pasti harus bersusah payah," ujar Dixton.
__ADS_1
Lagi-lagi Sabrina merasa tertohok. Masalahnya, teror seolah-olah mulai melebar. Lalu juga sama-sama memakan korban jiwa. Sabrina merasa dadanya sungguh sesak. Bagaimana jika mereka semua menyadari jika Sabrina adalah ketua mafia yang bisa membunuh tanpa ampun? Oh, Sabrina merasa dikuliti oleh dua teman Artur yang tidak mengerti apapun.
"Hei, jangan bahas masalah tadi. Segarkan pikiran kita. Kita kemari untuk mencari angin segar. Bukan untuk mengingat kembali kejadian buruk itu." Artur membuka suara saat menyadari raut wajah Sabrina yang telah pucat pasi.