
London.
"Tuan Muda ... Tadi ada panggilan dari rumah besar. Tuan besar meminta anda untuk pulng kemansion utama," ucap seorang lelaki bertubuh tegap dan penuh wibawa. Lelaki itu memakai jas berwarna hitam.
"Kau sudah menjawab yang seharusnya bukan Kei?" tanya Rendy tanpa menoleh sedikitpun. Pekerjaannya benar-benar melelahkan.
"Seperti yang sudah seharusnya Tuan Muda. Meskipun ayah anda marah namun saya tetap mengatakan jika anda sedang sibuk," jawab Kei. Sekretaris pribadi milik Rendy.
"Hem. Jam berapa sekarang?"
"Jam 9 malam Tuan Muda. Lebih baik amda pulang Tuan Muda, mengingat besok kita pasti akan jauh lebih sibuk." Kei bergerak mendekati berkas-berkas yang berserak diatas meja kerja Rendy.
"Kei ... Apa menurutmu sudah waktunya untukku pulang ke Indonesia?" tanya Rendy dengan lesu.
"Menurut saya sudah sepantasnya anda pulang untuk menjenguk kedua orangtua anda Tuan Muda. Saya yakin, mereka pasti menunggu anda untuk pulang," jawab Kei dengan santai.
"Kau benar. Aku masih memiliki orangtua. Jadi sudah sewajarnya aku pulang. Siapkan pesawat jet pribadi. Malam ini juga aku akan pulang ke Indonesia. Tetapi jangan beritahu ayah terlebih dahulu. Dia pasti akan melakukan hal-hal yang aneh." Rendy bangkit dari tempat duduknya, kemudian melenggang keluar ruangannya. Disusul dengan Kei yang terus mengikuti langkahnya.
*****
__ADS_1
Suasana malam semakin ramai. Para pekerja mulai mengakhiri rutinitasnya. Beranjak pulang kerumah untuk bertemu dengan keluarganya. Hawa dingin mulai menembus tulang.
Semoga ayah berhenti untuk menjodohkan aku. Sungguh aku sangat lelah. Ayah terlalu keras kepala. Mengapa harus menjodohkan aku segala? Aku merasa hidupku akan semakin rumit saja.
Ckiiiitttt.
Tubuh Rendy berakhir dengan sedikit condong kedepan. Untung hari ini dia memakai sabuk pengaman. Sesaat Rendy mencoba menguasai dirinya kembali.
"Kei ..." panggil Rendy dengan penuh penekanan.
"Maaf Tuan Muda, ada seorang gadis yang berdiri tepat didepan mobil ini," ucap Kei.
Kei keluar dari pintu mobil. Entah apa yang diributkan oleh mereka berdua. terlihat keduanya bersitegang. Sesaat Rendy melirik keluar jendela. Rintik hujan mulai berjatuhan. Itu artinya dia tak bisa melakukan penerbangan malam ini. Kedua iris matanya menatap tajam kearah dua orang yang sedang berdebat. Terlihat Kei menyeret tunuh seorang gadis. Rendy memutar kedua bola matanya.
"Kei! Cepat seret dia kedalam mobil! Kau membuang-buang waktuku!" teriak Rendy dari dalam mobil. Lelaki itu sedikit membuka jendela kaca sehingga bisa melongokkan kepalanya.
Terlihat Kei menganggukkan kepalanya. Diiringi sebuah senyuman dari gadis yang tengah membawa koper. Dengan segera Kei menarik paksa tubuh gadis itu. Kemudian menyeretnya untuk memasuki mobil. Meyentak tubuh mungil itu disamping tempat duduk kemudi.
"Dasar bengek! Kasar banget ih sama cewek," ujar gadis itu dengan ketus. Kei memutar tubuhnya untuk segera menduduki kursi kemudi.
__ADS_1
Mobil kembali berjalan. Terlihat gadis asing itu memutar tubuhnya menghadap Rendy. Kedua pasang mata itu saling bertautan. Namun, Rendy segera membuang pandangan matanya.
"Tuan Muda, kita kemana?" tanya Kei.
"Pulang!" titah Rendy.
"Tuan ... Lalu bagaimana dengan dia?" tanya Kei sembari menunjuk gadis asing itu.
"Hei! Jangan nunjuk-nunjuk dong. Bos kamu aja nggak masalah tuh gua numpang!" Gadis itu membela diri.
"Jangan banyak bicara Kei! Aku sudah lelah." Rendy kembali menyandarkan kepalanya di sandaran jok mobil. Memejamkan kedua matanya sejenak.
"Baik Tuan Muda." Kei kembali diam. Memfokuskan kedua matanya untuk melihat jalanan yang diguyur hujan.
"Paman! Terima kasih banyak karena telah membiarkan aku ikut dengan Paman. Aku yakin anda adalah orang yang baik," ucap gadis asing itu dengan senyum yang tersungging dibibirnya.
"Kei! Lempar gadis itu kembali kejalanan. Jika dia mengatakan sepatah kata lagi. Kepalaku sakit mendengar dia yang berisik!" seru Rendy.
"Baik Tuan Muda," ucap Kei dengan melirik tajam kearah gadis asing tersebut. Membuat nyali gadis itu menciut seketika.
__ADS_1
"Oke. Aku cantik aku diam." Gadis itu kemudian memperagakan sedang mengunci mulutnya. Seketika hening kembali melenggang. Menyapa ketiga penghuni mobil yang tengah memikirkan masalah masing-masing.