Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 434. Artur dan Aretha.


__ADS_3

"Ah, Paman Danar! Aku menyerah!" Tubuh Artur ambruk di lantai. Di dalam ring tinju itu ada seorang pria yang berusia 25 tahunan berdiri tanpa ekspresi apapun.


Danar memutar kedua mata. "Baru segini saja kau menyerah?"


"Paman? Bukankah tadi Paman bilang aku mengalami peningkatan?" tanya Artur dengan napas yang tersengal.


"Halah! Peningkatan seupil saja kau banggakan. Ingatlah, kau sudah menjadi bagian dari keluarga Wijaya. Beban yang ada di pundakmu sangat berbeda dengan sebelumnya. Jika kau sukses, kau bisa menolong banyak orang dengan pendapatan yang kau miliki. Apa kau tidak ingin sukses dan berguna bagi orang lain?" sindir Danar.


Artur mendudukkan tubuhnya. "Tentu saja. Siapa yang tidak ingin sukses? Memangnya jika aku menjadi bagian anggota keluarga Wijaya akan mendapatkan sesuatu begitu? Aku rasa tidak. Jadi jangan menyiksaku, Paman Danar. Ini bagaikan pelatihan militer!"


Danar menghela napas berat. "Kau pikir menjadi cucu Tuan Rendy kau bisa seenaknya? Mereka telah menerimamu. Lalu aku sebagai orang yang akan membinamu. Memangnya kenapa aku harus membinamu? Kau akan mendapatkan sesuatu. Memang bukan warisan mengingat secara agama islam kau bukan cucu kandung Tuan Rendy . Akan tetapi jika bisa berusaha keras, mungkin saja satu perusahaan bisa jatuh ke tanganmu."


Kedua mata Artur membulat sempurna. "Paman Danar jangan asal berbicara. Sudahlah, Paman. Aku istirahat sebentar."


"Kau tidak percaya padaku? Lalu apa gunanya kau aku latih selama dua bulan ini? Otakmu ini tumpul sekali! Membuat orang tua kesal saja. Cepat latihan atau aku akan menambah hukumanmu!" Danar berteriak.


Kesabaran Danar yang seuprit seolah dipermainkan oleh Artur. Mendengar teriakan dari Danar, seketika Artur berlari secepat kilat dan kini berada di arena tinju kembali. Wasit memulai pertandingan tinju unboxing. Dari belakang ring, Danar masih menatap Artur dengan kesal. Rasanya Artur yang masih bersikap seperti bocah selalu saja membuat kepalanya berdenyut.


"Nggak bapak, nggak anak sama saja! Sama-sama menyebalkan! Kenapa Nona Sabrina betah sekali hidup bersama dua orang pria yang lemah seperti mereka?" Danar menggerutu dalam hati.

__ADS_1


"Bagaimana, Danar?" tanya Elena yang ternyata sudah berada di sana. Tepat berada di samping Danar.


Danar menoleh. "Dia sangat menyebalkan, Nyonya. Kenapa Anda memberikan tugas untuk mendisiplinkan dia? Dia sama sekali tidak memiliki teknik apapun. Artur perlu belajar lebih banyak lagi. Aku hanya melatih dasarnya saja. Agar dia memiliki dasar dalam memukul seseorang yang kurang ajar."


Elena terkekeh geli. Danar memang selalu blak-blakan sejak ia muda. Sedangkan kesabarannya terusik oleh Artur dan William yang resmi diakui oleh Ardan Wijaya. Tatapan mata Elena kembali beralih pada arena ring tinju di depannya.


"Dia harus siap sebelum pelantikan itu. Kau bisa menerima tantangan dariku?" Elena bertanya tanpa menoleh.


"Anda sangat luar biasa dalam membuat saya tertekan, Nyonya. Kapan acara pelantikan itu?" Danar menatap dengan tajam ke arah Elena.


"Dalam waktu dekat. Satu bulan ke depan. Tidak sampai dua bulan. Kau sanggup?" Elena kali ini menoleh ke arah Danar.


"Menakjubkan. Secepat ini?" Danar melebarkan kedua mata.


Lanjut Elena, "Wijaya akan mencari mereka yang berbakat. Bukankah itu yang membuat keluarga Wijaya melegenda? Artur hanya perlu di disiplinkan sedikit. Aku yakin, bisa menguasai bagiannya dengan baik."


"Sepertinya Anda memiliki rencana lain?" Danar menebak. Pasalnya penilaian Elena seperti sudah disiapkan. Sesuai apa yang dikatakan oleh Elena. Artur memiliki potensi. Dia suatu akan memiliki ambisi yang besar sehingga nama Wijaya akan semakin jaya.


"Artur seorang pemarah. Gampang sekali ia tersulut. Kita panggil saja dia si api. Maka kita membutuhkan si air untuk menekan emosinya." Elena menyunggingkan senyum.

__ADS_1


"Maksud Anda?" Danar semakin dibuat bingung.


"Gadis yang saat ini menjalani perawatan. Kurasa dia akan tepat mendampingi Artur." Elena menarik kesimpulan dengan menyunggingkan senyuman.


"Gadis yang gila itu?" Danar memastikan gadis yang dimaksud Elena. Mendapati jawaban Danar, Elena mendelik.


"Danar! Kau ini benar-benar jelek mulutmu!" Elena merutuk. Wajahnya terlihat sangat kesal. "Dia memiliki nama, Danar. Aretha! Nama gadis itu Aretha!" imbuh Elena.


"Baiklah. Bukankah ini namanya perjodohan?" Danar tak habis pikir dengan jalan pikiran Elena.


"Aku sudah membahas ini dengan keluarga besar. Jadinya tak akan menimbulkan masalah. Aku hanya perlu mendekatkan keduanya. Lagipula, Sabrina akan senang mendengar keputusan keluarga besar ini." Elena terlihat optimis.


Pandangan keduanya kini beralih kepada dua orang yang saling beradu tinju di ring tinju. Elena terus mengawasi tingkah Artur. Kuda-kuda remaja itu terlihat semakin kokoh. Tak berapa lama, kedua pemain di arena tinju itu turun dari arena. Artur segera mendekati Danar yamg ternyata telah bersama Elena.


"Oma? Kenapa kemari?" tanya Artur.


"Oma hanya ingin memastikan sampai di mana latihanmu. Sekarang lumayan ya?" Pujian Elena membuat Artur besar kepala.


Artur pun menepuk dada bidangnya dengan angkuh. "Tentu saja, Oma! Artur gitu lo."

__ADS_1


"Sudah selesai berlatihnya, 'kan? Kalau begitu ikut oma ke tempat Aretha," ajak Elena.


"Aretha?" Artur mendadak bingung.


__ADS_2