Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 47


__ADS_3

Ani merenungkan apa saja yang terjadi hari ini. Mertuanya benar-benar orang yang baik. Tak ada lagi alasan untuknya meninggalkan Ardan kecuali Ardan sendiri yang memintanya. Namun jika melihat dari situasi yang ada rasanya itu tidak mungkin. Karna laki-laki itu cinta mati kepadanya.


Tak terasa mobil memasuki halaman rumah Ardan terlihat mobil Ardan sudah mendarat cantik di garasi mobil. Menandakan bahwa Ardan telah pulang.


Saat membuka pintu terlihat Ardan sudah duduk santai diruang tamu. Mengangkat satu kakinya. Kemudian meletakkan kakinya itu dipahanya sendiri. Matanya mendelik tajam. Membuat Ani menciut dibuatnya. Dia tahu. Dia pulang saat hari sudah malam. Walaupun belum terhitung larut namun laki-laki dihadapannya itu membuatnya merasa bersalah. Ardan sengaja tak menelpon Ani karna dia tahu pasti istrinya itu sudah terlelap di kamar. Atau kalau tak tidur setidaknya sudah berdiam diri dikamar. Namun saat dia pulang dia tak mendapati istrinya di kamar. Dan saat dia bergegas untuk menjemput sang istri. Dia mendengar suara deru mobil istrinya. Dan benar sekarang istrinya sudah seperti maling yang sedang tertangkap basah mencuri.


Gleeek.... Sialan kenapa dia menatapku seperti itu? Bukankah aku sudah meminta izin darinya bahwa aku akan kerumah orang tuanya. kenapa sekarang dia terlihat menyeramkan seperti itu?


"Kenapa pulang terlalu larut?" Tanya Ardan.


"Anu..... Tadi ngobrol sama papi dan mami. Maaf.... Kebablasan menemani papi bermain catur." Ani menggigit bawah bibirnya. Terlihat Ardan menautkan kedua alisnya.


"Kau bermain catur dengan papi?" Tak habis pikir bagaimana mungkin seorang perempuan tertarik dengan permainan catur papinya.


"I... i..iya mas.... Aku bermain catur sama papi. Kalau mas Ardan gak percaya mas Ardan bisa tanya papi sama mami kok." Ani mulai berani menjawab. Karna dilihatnya Ardan sudah mulai melunak.


Ayolah tuan kenapa membuatku seperti orang yang tertangkap basah sedang mencuri. Aku capek tau !!!


"Aku tau kau sedang mengumpat ku !!!"


"Ap....apa maksud mas Ardan? Mana berani aku mengumpat mas Ardan. Mas jangan parno begitu. Aku boleh mandi gak mas? Habis ini nanti aku masakin." Ani mulai merayu suaminya dengan masakan. Bukankah apa saja yang dia masak sudah pasti akan dihabiskan oleh suaminya.

__ADS_1


"Gak perlu !!! Aku malas untuk makan !!!" Intonasi Ardan naik satu oktaf. Dia berkata dengan nada tinggi.


"Ehh ... Mas .. mas Ardan ingin makan apa? Nanti aku masakin mas." Ani semakin takut pasalnya suara Ardan sudah mulai meninggi.


" Mau makan kamu !!!"


Ap. .... Apa ? Sialan !!!! Buat orang merinding saja.


"Apa maksud mas Ardan ?"


"Sudah mandilah sana !!!! Nanti aku yang siapin baju gantinya !!!"


Ani terdiam mencoba menerka-nerka perkataan Ardan .


"I....iya mas." Ani berlari menaiki anak tangga. Jantungnya seperti ikut lari maraton juga.


Benar-benar gak bisa ditebak orang itu !!! Seenaknya memerintah. Kadang sikapnya lembut. Tapi lebih banyakan kayak macan !!!


Dia kemudian masuk ke kamar mandi membersihkan diri yang sudah sedari tadi lengket.


Ardan memasuki kamarnya. Dia kemudian menyiapkan pakaian tidur untuk istrinya.

__ADS_1


Siap atau tidak siap aku malam ini akan memakanmu !!!


Setelah menyiapkan pakaian tidur milik istrinya itu. Dia berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Dia menunggu momen saat sang istri sudah masuk duluan. Dia melepaskan pakaian yang dia kenakan. Saat dirasa sudah menanggalkan semua pakaiannya dia berjalan menuju sang istri berada. Terlihat sang istri memunggunginya. Guyuran air dari shower membuatnya nyaman. Sembari sesekali menggosok ringan tubuhnya. Terlihat seluruh lekuk tubuh istrinya itu. Membuat jiwa kelelakiannya semakin tak terbendung lagi. Dipeluknya sang istri dari belakang. Membuat tubuh mungil itu terlonjak kaget.


"Mas... mas Ardan ngapain kemari?" Ani kaget sekaligus tak menyangkan Ardan akan langsung secara terang-terangan memeluknya dari belakang saat mandi. Walaupun memang saat tidur Ardan juga melakukan hal yang sama memeluknya dari belakang tentu saja berbeda. Kali ini Ardan memeluknya dari belakang.


"Hmmmm...." Sahut Ardan masih memeluk tubuh mungil itu. Ani berusaha mengendurkan pelukan Ardan namun sia-sia. Ardan malah semakin mengeratkan pelukannya. Tentu saja hal itu membuat tubuh Ani membeku. Pasalnya dari belakang ada sesuatu yang mengeras milik Ardan.


"Mas...."


"Hmmmm.."


"Anu.... itu mas."


"Apa?" Ardan menggoda istrinya. Terlihat pipi istrinya itu merona merah. Dia tahu itu. Kemudian semakin dia eratkan tubuhnya menempel ke tubuh istrinya. Dengan posisi yang sama-sama tak memakai apapun. Tentu saja sangat terasa ada sesuatu yang mengeras.


"Mas Ardan !!!! Lepas !!! Itu mas bangun !!!"


"Apa sih?"


"Itu.. punya mas bangun !!!"

__ADS_1


"Sudah kukatakan bukan? Malam ini aku akan memakanmu sebagi makan malam ku !!!!"


Deg.... Habis sudah aku.


__ADS_2