
Sabrina kini telah bersiap. Ia memakai pakaian serba hitam. Malam ini ia harus memastikan sesuatu. Terakhir, ia mengenakan sepatu flat berwarna hitam. Namun, saat akan beranjak dari ambang pintu muncul William yang juga memakai pakaian serba hitam. Pria itu menyokong senjata sejenis Colt 1911. Melihat itu, Sabrina mematung.
"Masih ingin bergerak sendiri?" Aura William tampak berbeda. Apakah ini karena pelatihan dari Paman Danar? Batin Sabrina.
"Uncle sudah bersiap?" Sabrina bertanya dengan bingung.
"Artur sudah menduga kau akan bergerak di tengah malam. Kau pikir, siapa lagi yang bisa mengatakan gerak-gerikmu secara gamblang?" ungkap William yang mengerti raut wajah bingung Sabrina.
"Dasar Artur sial*n!" rutuk Sabrina dalam hati.
"Baiklah. Sepertinya, kau benar-benar tak ingin membawaku ha?" William meninggikan suaranya.
"Okay. Maafkan aku." Sabrina memeluk tubuh kekar William. Seketika raut wajah yang terlihat mengeratkan lehernya itu menyusut. Imbuh Sabrina, "Aku hanya ingin memastikan sesuatu."
"Kau harus membawaku," ucap William melembut.
Setelah berdrama ria, keduanya pun sepakat akan menelusuri panti asuhan. Mereka pun menempuh perjalanan beberapa lama, akhirnya sampai juga di lokasi kejadian. Sabrina melangkahkan kakinya memasuki panti asuhan tersebut. Tentu saja dengan kedua tangan yang memakai sarung tangan.
__ADS_1
Sabrina mengedarkan pandangan. Suasana memang terlihat mencekam. Untuk berjaga, Darren dan Ben mengawasi dari kejauhan. Begitu pula dengan Mu. Sniper dari pihak geng mafia Dark Knigt itu telah bersiap. Ia menyokong senjata sembari mengawasi keadaan sekitar.
"Apa di sini tempatnya, Sabrina?" tanya William.
"Benar. Pintu dalam keadaan tertutup. Begitu pula dengan jendela. Saat itu tertutup rapat. Aku belum sempat mengamati dua jasad itu. Karena ada teman-teman Artur. Di sini sangat berantakan. Ada banyak buku yang berserak. Jika orang berfikir ini bunuh diri, itu hanya dilihat dari dua orang yang menggantung. Lalu bagaimana dengan anak-anak di luar sana yang aku temukan dalam kondisi terikat?" Sabrina terus menyipitkan kedua mata.
"Buku, lalu dua orang yang menggantung. Mungkin jika anak-anak tidak dalam keadaan terikat, polisi akan mengira ini adalah kasus bunuh diri. Tapi, kami menemukan banyak sekali anak-anak yang terikat. Si*lnya aku tak bisa mencari tahu dari Aretha. Ia terlalu syok." Sabrina membatin kesal.
"Apa ibu panti asuhan ini menyukai buku-buku? Mengapa banyak sekali buku yang merupakan ilmu pengetahuan?" tanya William dengan polosnya.
"Iya benar. Dari sampul-sampuk buku itu tertulis jelas judulnya. Itu semua menggambarkan ilmu pengetahuan. Mungkin ibu panti menyukai dan menyayangi buku-buku ini." William terus berargumentasi.
"Buku ilmu pengetahuan. Benar juga. Jika ini buku kesayangan, pemiliknya tidak mungkin menaruhnya di sini begitu saja. Tapi, bukankah bisa si pelaku yang membuatnya berantakan?" Sabrina terus saja menarik kesimpulan.
"Meski begitu, tidak ada rak buku di sini," celetuk William.
Deg.
__ADS_1
"Benar juga!" batin Sabrina mengiyakan. Lalu ia menatap ke sekeliling. Tidak ada rak buku di ruangan ini!
"Aku harus bertemu Aretha besok. Uncle, sekarang kita melihat dua jasad itu di rumah sakit. Ayo," ajak Sabrina.
"Ke rumah sakit?" gumam William.
Meski bingung, ia tetap mengekor di belakang Sabrina. William segera menaiki sepeda motornya. Disusul di belakang Sabrina telah siap. William lalu melajukan sepeda motornya ke arah rumah sakit sesuai dengan arahan Sabrina.
"Dua orang jasad itu bunuh diri? Kata siapa?" tanya Sabrina. Begitu ia menanyakan kepada pihak perawat pengurus dua jasad yang telah melewati Autopsi.
"Tim investigasi beserta para dokter yang melakukan Autopsi membenarkan hal itu, Nona. Mereka bunuh diri setelah mengikat para anak-anak agar tak melihat kejadian yang sebenarnya. Gadis yang bernama Aretha menjelaskan, mereka memang berpakaian serba hitam. Tetapi jumlah orangnya hanya dua. Mungkin saja itu memang dua korban yang tewas gantung diri," terang pihak kepolisian yang berjaga di depan kamar mayat.
"Tetapi ini tetap saja ada yang janggal. Mereka adalah pengurus panti. Bagaimana mungkin terjebak dalam keinginan untuk mengakhiri hidup?" debat Sabrina.
"Maksud Nona, penyidikan kami ini salah? Bukankah jelas, ada banyak buku yang ditumpuk itu sebagai pijakan mereka untuk bunuh diri. Masalahnya, kami tak mendapati luka lain selain jeratan leher dari tali," balas pihak kepolisian.
"Bagaimana caraku menjelaskan, jika mereka berdua terbunuh terlebih dahulu? Tidak ada luka lain, itu berarti mereka dibunuh dengan dijerat lehernya. Orang mengira itu adalah memang murni bunuh diri. Tapi tidak, bagi orang yang memiliki rasa cinta terhadap buku. Mustahil akan menggunakan buku sebagai pijakan. Ilmu adalah jendela dunia. Bagaimana kami bisa menginjak dan menghina dunia?" batin Sabrina.
__ADS_1