
Di kelas, tubuh Sabrina menegang. Sebuah pesan masuk ke dalam aplikasi berwarna biru. Artur yang sedang berbicara di sampingnya, merasa kesal lantaran tidak mendapat respons dari Sabrina. Sedangkan sang dosen di depan kelas menatapnya tajam. Begitu pula dengan teman-teman satu kelasnya. Menatap Sabrina dengan tatapan remeh. Air mata Sabrina menetes tak terbendung.
"Sabrina!" teriakan dari Pak Fajar, sang dosen yang kini menatapnya tajam.
"Ma? Kenapa?"Artur berbisik. Sayangnya, wajah Sabrina terlihat pucat.
"Alah, paling diputusin pacarnya. Makanya dia nangis," celetuk Meisya.
Artur yang mendengar itu menatap Meisya dengan geram. Lalu ia menoleh kembali kepada Sabrina yang menjatuhkan ponselnya. Artur dengan cepat memungutnya. Remaja itu membaca pesan dari Amelia yang baru saja dibaca Sabrina. Artur mendadak bangkit setelah melirik Sabrina yang seertinya syok.
"Pak Fajar, maaf. Kakek Sabrina meninggal dunia. Bolehkah saya mengantar Sabrina pulang? Kebetulan saya dan Sabrina saudara sepupu. Itu artinya saya juga kehilangan anggota keluarga besar saya. Boleh, Pak?" Artur berbicara dengan sopan.
Wajah Pak Fajar terlihat berubah. "Baiklah. Sepertinya kondisi Sabrina juga tidak memungkinkan."
"Artur, berikan alamat rumahnya ya. Aku dan Justin akan melayat juga." Dixton memegang tangan Artur. Mendengar niat baik seseorang, Artur mengangguk tanpa bersuara.
__ADS_1
Dengan cepat Artur membereskan buku-buku miliknya dan Sabrina. Setelah beres, Artur menggiring Sabrina keluar dari kelas. Lexi bergegas menyusul Artur dan Sabrina.
"Artur! Bisakah kau berikan alamatnya? Aku dan teman-teman yang lain akan melayat," ucap Lexi.
"Oke. Aku akan mengirimkan nanti. Namun, sekarang aku harus pergi dengan cepat. Sorry!" Artur segera menggiring Sabrina. Meninggalkan Lexi termenung sendiri.
"Opa sangat menyayangi aku, Artur. Sekalipun aku bukan cucu yang murni lahir dengan memiliki darah keluarga Wijaya. Dia menyayangiku. Memberikan apa yang aku minta tanpa sepengetahuan papa dan mama." Sabrina tergugu.
Artur terhenyak kaget. Bukan murni lahir dari keluarga Wijaya? "Ma? Apa maksudmu?"
"Papaku, Rendy Saputra Wijaya. Bukan anak kandung Opa Ardan Wijaya. Namun, papa yang selalu dididik sedemikian rupa oleh Opa Ardan, membuat karakter papa sangat mirip dengan Opa Ardan. Bahkan karakter mereka jauh lebih mirip ketimbang anak kandung Opa Ardan. Sehingga papa mendapatkan banyak penghargaan dari Opa. Kamu tahu kan dalam ajaran islam tidak ada warisan untuk anak tiri?" Suara Sabrina terdengar serak.
"Papaku mendapatkan satu geng mafia Dark Knight dengan beberapa perusahaan yang berhasil ia bawa menuju masa keemasan. Semua itu menjadi bayaran untuk papa karena telah membawa nama Wijaya semakin bersinar. Mengapa papa mendapat banyak? Itu dikarenakan dia juga yang berhasil membawa adik-adiknya menuju kesuksesan. Usaha papa cukup berat, Artur. Jadi, itulah kenapa aku tidak bisa menolak menjadi ketua mafia berikutnya." Sabrina terdiam sejenak. Sedangkan Artur, menjadi pendengar yang baik.
Sesuai arahan dari Sabrina, mobil Artur kini memasuki halaman rumah yang mewah dan megah. Semua yang hadir di sana memakai pakaian serba hitam. Tadi di jalan, Artur membeli pakaian berwarna hitam. Ia dan Sabrina juga telah berganti. Sabrina segera berlari dan menghambur seorang wanita tua yang duduk di kursi roda.
__ADS_1
"Maafkan Opamu, Nak. Jika beliau memiliki salah kepadamu." Wanita tua itu berbisik.
"Oma Mariani. Aku sudah memaafkan Alm. Opa Ardan," sahut Sabrina.
"Mama dan papamu ada di belakang. Suamimu sudah tahu kabar ini?" Mariani mengusap lembut pucuk kepala Sabrina.
"Sudah, Oma. Oh, kenalkan, Oma. Ini Artur. Anak sambungku." Sabrina menarik tangan Artur yang berdiri kikuk.
Mariani tersenyum lembut. Artur mencium punggung tangan Mariani dengan takzim. "Oma sudah tahu. Kenapa kau tega tak membawanya berkunjung, Sabrina? Opamu sudah menyiapkan sesuatu. Aku yakin Elena sudah mempersiapkannya bukan?"
Sabrina mengangguk. "Sudah, Oma."
"Baiklah, ayo kita segera masuk ke dalam. Semua sudah menunggumu." Sabrina mendorong kursi roda Mariani. Saat sudah di dalam mansion, Sabrina segera menghambur memeluk Kevin dan Monica.
"Maafkan, Brina. Brina terlalu sibuk, Opa, Oma." Sabrina tergugu.
__ADS_1
Monica pun melepaskan pelukannya dengan lembut. "Cucu oma masa nangis. Sudah. Jangan menangis. Semua sudah menunggumu."
Sabrina mengangguk. Sabrina bergabung dengan sanak saudaranya. Begitu pula dengan Artur yang terus berada di belakang Sabrina tanpa protes.