Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 306. Pertikaian


__ADS_3

"Tenanglah Ny. Elena. Sabrina adalah gadis yang baik. Hanya saja anak nakalku ini menjahilinya," ucap William sembari mengusap pucuk kepala Artur. Membuat Artur merasa dipojokkan. "Biasalah anak muda zaman sekarang." William tersenyum untuk mencoba meyakinkan Elena dan Rendy yang sedari tadi menatap anak gadisnya dengan tatapan nyalang.


"Sudahlah Ma. Aku rasa mereka masih sama-sama labil. Bukankah sudah biasa jika romansa masa SMA tengah bergejolak?" kata Rendy sembari menaik turunkan kedua alisnya.


Setelah mendengar hal itu, terdengar helaan nafas lega dari Elena. Seperkian detik berikutnya Elena tersenyum dan mendekati Sabrina yang tengah berdiri. Memeluknya penuh kasih. Ia tahu, jika Sabrina saat ini tengah ketakutan.


"Sudahlah, tidak perlu dibahas. Oh ya Rendy, kudengar Sabrina ini selalu mendapat juara 1 di sekolah. Bolehkah aku memintanya untuk memberikan pelajaran tambahan untuk anakku, Artur?" tanya William.


Apa yang diucapkan oleh William membuat Sabrina seketika tersenyum lebar. Disisi lain, Artur semakin muak dengan Sabrina. Bisa dilihat dari raut wajah bocah remaja itu. Sungguh menyebalkan. Seakan mengatakan, jika setuju habis kau! Pandangan Artur semakin menajam tatkala Sabrina sangat antusias menerima permintaan dari ayahnya.


"Boleh, Om! Dengan senang hati Brina akan membantu Artur!" jawaban Sabrina semakin membuat suasana semakin hangat.


William pun berterima kasih dan melakukan tos dengan Rendy. Elena yang melihatnya tersenyum dan segera menuntun Sabrina untuk duduk di meja makan. Akhirnya mereka semua makan malam bersama dengan suasana kekeluargaan. Sedangkan hanya satu orang saja yang memakan hidangan makan malam itu dengan hati yang dongkol. Tapi tak urung jua bocah remaja itu juga iri dengan suasana hangat malam itu.


****


Brakkk.


Artur menendang pintu rumahnya dengan keras. Bocah remaja lelaki itu terlihat begitu kesal. Sedangkan di belakangnya, muncul sosok gadis cantik dengan senyum yang secerah sinar mentari. Siapa lagi jika bukan Sabrina. Gadis itu bersemangat untuk menemui oppa tampannya. Wajahnya begitu ceria. Senyumnya tak juga hilang dari bibir gadis itu. Artur yang melihatnya pun kesal setengah mati.


"Kenapa rumahmu sepi?" tanya Sabrina setenang mungkin.


"Apa yang kau harapkan? Disini hutan, nggak ada orang!" sahut Artur sembari menjatuhkan bokongnya di sofa.


Sabrina menganggukkan kepalanya perlahan. Senyum yang merekah itu perlahan lenyap. Gadis itu pun segera mengikuti Artur untuk duduk di sofa. Pandangan Sabrina kini tertuju ada Artur yang masih terlihat kesal. Ya, sesuai keinginan ayahnya. Artur harus menurutinya. Hari ini adalah hari pertama Sabrina memberikan tambahan pelajaran untuk Artur. Sabrina menghela nafasnya.

__ADS_1


"Ini permintaan ayahmu. Menurutlah Artur. Kau jangan membuatnya kecewa," kata Sabrina.


"Jangan mengaturku! Kau pikir kau siapa?" bentak Artur.


"Aku hanya ingin membantumu," desis Sabrina menahan diri.


"Heh, ingin membantuku? Kau tidak salah? Heh wanita uler. Aku tau kau mengincar ayahku bukan?" bidik Artur tepat sasaran. Membuat Sabrina terkesiap. Tak disangka, Artur mampu menebak gelagatnya.


"Kalau itu benar, kenapa?" tantang Sabrina.


"Kau! Enyah dari sini! Sampai kapanpun, tidak akan ada yang bisa menggantikan bundaku!" teriak Artur.


"Huft. Sudahlah, ayo kita mulai belajarnya," sahut Sabrina dengan acuh.


"Apa kau tidak dengar? Enyahlah dari sini!" sekali lagi Artur membentak Sabrina.


"Maaf, Om. Aku rasa Artur hanya sedikit kesal saja. Aku yakin dia tidak bermaksud begitu pada Brina," sanggah Sabrina.


"Kau jangan ikut campur urusanku cewek uler!" Artur membentak. Ia tidak suka dikasihani.


Lagi-lagi Artur memicu kemarahan William. Dengan menahan kemarahannya, William mendekati putranya dan menamparnya. Sabrina yang melihat kejadian itupun terlonjak kaget. Sebelumnya dia tak pernah melihat seorang ayah tega mengangkat tangannya kepada anaknya. Maklum, karena Sabrina hidup di keluarga yang memiliki latar belakang keluarga yang hangat.


"A-ayah?" Artur sedikit ketakutan. Pasalnya, kemarahan ayahnya kali ini terlihat lebih menakutkan.


Sekali lagi, William kembali melayangkan sebuah tendangan kearah perut Artur. Membuat tubuh Artur terpelanting cukup jauh. Arturpun tak pelak meringis kesakitan. Bocah remaja itu menatap ayahnya dengan tatapan nanar. Dirasa belum cukup puas, William hendak melayangkan kembali sebuah tendangan kepada Artur. Kali ini bidikannya wajah Artur.

__ADS_1


Sabrina yang melihatnya segera berdiri dan memutar tubuhnya kemudian melayangkan tendangan taekondow. Dan tepat sasaran. Kaki Sabrina beradu dengan kaki William. Seketika William tersadar. Lelaki itu melihat Sabrina membantu Artur berdiri. Artur yang melihat tindakan Sabrina hanya melongo.


"Aku tau jika Artur bersalah, Om. Tapi ingatlah, dia adalah anak kandung anda. Sebesar-besarnya kesalahan anak, orangtua pasti memiliki sepucuk kasih sayang untuk anaknya. Ingat, darah lebih kental. Hari ini aku mengubah pandanganku. Jika di dunia ini, ada orangtua yang masih tega memukul anak kandungnya sendiri. Aku juga tak membenarkan sikap Artur yang semena-mena. Tapi aku sadar, Artur butuh keluarga. Bukan kesepian yang terus menemaninya," kata Sabrina sembari memapah Artur meninggalkan ruang tamu. Meninggalkan William yang kian menyesali perbuatannya.


"Lepaskan tanganmu!" teriak Artur ketika mereka berdua telah sampai di taman belakang rumah Artur. Remaja pria itu menyentak tangan Sabrina kasar.


"Wow! Taman mawar? Kenapa disini banyak banget bunga mawar?" tanya Sabrina sembari membentuk bibirnya setengah lingkaran.


"Ckckck, kau ini. Kata ayah bunga ini kesukaan bunda. Jadi taman ini kebanyakan bunga mawar. Segala jenis mawarpun ada disini," jawab Artur dengan raut wajah yang berubah.


"Aku yakin, bundamu pasti wanita yang sangat anggun," celetuk Sabrina.


"Sok tahu!" cebik Artur.


"Apa ayahmu sering begitu?" tanya Sabrina tiba-tiba.


"Jangan ikut campur!" seru bocah remaja itu tiba-tiba.


"Kau terlalu keras kepala, Artur. Sebagai anak tunggal, kau harusnya jangan membuat ayahmu marah. Lebih baik kau menjaga suasana hatinya agar dalam kondisi baik," tutur Sabrina dengan lembut.


"Kau tahu apa? Kau hanya orang luar! Pergi kau dari sini! Jika saja bundaku masih hidup, aku yakin ayah juga akan lebih baik padaku! Ini karena tuhan tidak adil pada kami!" teriak Artur.


"Heh," Sabrina meremehkan pemikiran Artur. "Apa kau tidak sadar, jika bundamu telah menukarkan nyawanya untuk kau hadir di dunia ini? Apa kau tidak sadar, jika ayahmu saat ini masih berjuang untuk masa depanmu? Hal terakhir yang dihadirkan oleh istri tercintanya! Apa kau tidak tau, jika ayahmu bahkan harus kesepian selama kau hidup di dunia ini? Bukan hanya kau yang kesepian Artur. Tapi ayahmu juga merasakan hal sama! Sebagai anak harusnya kau lebih memahaminya dari siapun! Apa kau pernah bertanya padanya untuk mencari pengganti bundamu?" papar Sabrina menahan amarah.


"Kau berisik! Tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi bundaku!" nada bicara Artur semakin meninggi. Tapi Sabrina masih tenang.

__ADS_1


"Untuk ukuran orang dewasa. Pasti membutuhkan untuk menyalurkan hasratnya. Apa kau buta Artur? Dia bahkan bekerja lebih keras untuk menepis rasa lelaki yang pastinya tak mudah untuk menahannya! Apa kau tak pernah mendengar istilah keluarga yang broken home? Terkadang satu keluarga hancur karena sang ayah mencari wanita lain! Seumur kau hidup di dunia ini, apa kau pernah melihat ayahmu bersama wanita lain? Kau sendiri tau jawabannya!"


Setelah mengatakan hal itu, Sabrina pergi dengan kesal. Gadis itu bahkan bersungut-sungut ketika meninggalkan Artur. Meninggalkan bocah remaja itu dalam keheningan dan renungan yang mendalam.


__ADS_2