Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 350. Sabrina dan Amelia


__ADS_3

Perhatian untuk pemenang, novel Elegi Buana sedang dalam proses. Harap bersabar ya. Kalian sudah mengirimkan alamat, jadi sudah pasti aman. Ingat, ini tidak dimintai ganti atau apapun. Resmi gratis karena author syukuran peluncuran 2 novel cetak.


----


William menatap tak percaya pada sosok Amelia. Gadis itu saat ini telah menyelesaikan bagiannya. Sabrina mengatakan, jika data yang dibobol oleh Amelia adalah kebenaran dari insiden beberapa waktu yang lalu.


"Aku tak percaya ini. Bocah yang masih berusia belasan tahun itu, mampu membobol data yang sangat penting. Jika aku tak melihatnya langsung, maka aku tidak akan pernah mempercayainya." William membatin gemas.


"Baiklah, Amelia! Terima kasih," ucap Sabrina. Gadis itu menarik tangan William untuk segera keluar dari kamar rahasia milik Amelia.

__ADS_1


"Hei!" Amelia berseru. William dan Sabrina menoleh. Imbuh Amelia, "Untuk Om-Om mesum sepertimu, jika kau berani menyakiti kakakku yang bodoh ini aku yang akan turun tangan dan menghabisimu dengan kedua tanganku sendiri."


Sabrina mendelik," Hei! Dia kakak iparmu!"


Amelia membuang wajahnya. Melipat kedua tangan di dadanya dengan angkuh. Lalu melirik sinis ke arah Sabrina. "Orang yang sedang jatuh cinta, sudah bisa dipastikan dia akan menjadi bodoh. Karena dia akan melakukan segala cara untuk cinta."


Saat Sabrina akan membalas ejekan Amelia, William segera membuka suara. "Baik, saya berjanji akan memperlakukan Sabrina dengan baik. Karena dia istri saya. Jadi, sekarang tanggungjawab Sabrina ada di pundak saya. Mohon maaf, saya permisi. Hari sudah hampir pagi. Waktunya kami kembali ke rumah."


"Sabrina, aku tidak akan memaafkan suamimu jika ia melanggar janji hari ini. Aku bisa menghancurkan suami tercintamu itu dengan cara yang tidak akan pernah ia sangka. Kak Steward saja tidak menyukai pernikahanmu, apalagi aku. Mengingat, kau mengorbankan masa depanmu untuk menjadi penerus papa dan mama yang tak masuk akal itu," gumam Amelia.

__ADS_1


Di sisi lain, William terus membawa Sabrina untuk keluar dari rumah Rendy. Tanpa protes, Sabrina memilih untuk menurut. Pikiran gadis itu terlalu kalut. Ia bingung bagaimana jika setelah sampai di rumah, William akan mengintrogasinya. Setelah Sabrina naik ke atas motor, William segera menancap gas melajukan sepeda motornya menuju ke rumah.


"Ya Tuhan. Aku harus menjawab apa nantinya? Uncle pasti memiliki banyak pertanyaan untuk ia tanyakan. Kenapa Amelia dan Kak Steward malah ada di rumah mama dan papa? Apa ada yang mereka berdua rencanakan?" Sabrina membatin gelisah.


Karena jalanan aspal lengang, kini sepeda motor William telah memasuki halaman rumah miliknya. Pria itu segera menuju ke garasi. Menurunkan Sabrina dan memarkir sepeda motornya. William kembali menarik tangan Sabrina yang semakin bingung dengan tingkah William.


"Uncle?" Sabrina membuka suara saat keduanya telah sampai di ruang tamu. 


William tak menjawab. Melainkan membawa Sabrina masuk ke dalam kamar mereka. Pria itu menutup pintu kamar dan menguncinya. Membuat tubuh Sabrina menegang. William memutar tumitnya berjalan menuju di mana Sabrina berada. Ia menatap tajam Sabrina. Gadis itu semakin kaku dibuatnya. William pun jongkok di depan Sabrina.

__ADS_1


"Aku tidak akan memaksamu untuk bercerita. Melihat semua yang terjadi, aku mulai membuka mata hatiku. Apapun yang kau lakukan, aku akan mempercayainya, Sabrina. Aku berjanji. Aku akan bertanggung jawab akan dirimu dengan segenap jiwa ragaku. Tapi, bisakah kau mulai saat ini mengajakku saat kau pergi kemanapun?" cetus William.


__ADS_2