
"Apa?" teriakan itu lolos sudah dari bibir kedua pasutri itu. Raut wajah yang kaget dan tak percaya menyelimuti wajah keduanya.
"Benar Nyonya Tuan, menurut hasil dari hasil Ultrasonografi atau lebih dikenal dengan USG saat ini Nyonya tengah mengandung anak kembar. Apa Tuan dan Nyonya juga ingin mengetahui jenis kelaminnya?"
"Dokter Merisa benarkah?" kedua matanya berbinar. Betapa bahagianya ia jika benar saat ini dirinya tengah mengandung dua orang janin dikandungannya.
"Benar Nyonya. Karena anda saat ini juga memeriksakan kandungan anda sudah memasuki usia 24 Minggu. Artinya berjalan 6 bulan sudah cukup jelas kita melakukan USG. Apakah anda ingin memeriksa jenis kelamin mereka?"
"Sayang". Menghujani wajah istrinya dengan banyak kecupan. Membuat dokter Merisa harus tersenyum malu, karena dirinya belum menikah.
"Mas aku hamil dua orang anakmu." Menatap lekat suaminya. Begitu indah rasanya kebahagiaan yang kini tengah mengitarinya. Sahabat, suami dan kini dia sedang mengandung dua anak sekaligus. Benar-benar sesuatu yang membahagiakan.
"Gimana sayang kamu ingin melihat jenis kelamin anak kita nggak?"
__ADS_1
"Ehmb nggak usah deh mas biar jadi kejutan. Yang penting kedua anak kita sehat," ucap Mariani terharu. Dirinya tak menyangka saat ini ada dua janin yang sedang dia kandung.
"Ini Tuan vitamin untuk Nyonya. Banyak-banyaklah beristirahat Nyonya. Semoga kandungan anda selalu sehat. Amin."
"Terima kasih Dokter Merisa. Kalau begitu kami permisi dulu." Ardan segera memapah istrinya untuk turun dari ranjang pesakitan dengan begitu hati-hati. Sesaat hendak memegang handle pintu, Ardan berbalik dengan nyaring dia segera mengungkapkan rasa penasarannya. Membuat Mariani membulatkan kedua bola matanya.
"Dokter Merisa, apa kami masih bisa berhubungan?" Aku tak mau berpuasa. Aku selalu kehilangan akal saat bersamanya. Batin Ardan dalam hati.
Dokter Merisa pun tersenyum mendengarnya. Tak bisa dipungkiri, memang hal itu tak lepas dari nurani seorang laki-laki.
Jawaban dari dokter Merisa membuat Ardan tersenyum dengan lebar. Kemudian memandang istrinya dengan wajah yang penuh mendamba. Aku habisi kamu nanti malam sayang. Begitulah batin Ardan bergejolak. Mariani yang menyadari tatapan berharap dari suaminya membuatnya mengesah. Tak bisa dipungkiri suaminya memang agak gila.
****
__ADS_1
"Mas Ardan ..." Mariani mendesah begitu merasakan setiap sentuhan-sentuhan dari tangan kokoh dari suaminya. Entah sudah berapa lama mereka bersatu dalam penyatuan cinta. Seakan tiada habis meneguk indah madu cinta. Serakah meraup nikmat yang tiada tara.
"Aku mencintaimu sayang, sangat mencintaimu. Bisakah kau terus bersamaku? Tolong jangan pernah pergi dari hidupku."
Ardan mengecup pundak polos itu dengan begitu mesra. Membuat lenguhan yang begitu indah ditelinga Ardan. Sembari memaju-mundurkan ritme percintaan keduanya, Ardan melimpahkan kata-kata yang begitu memikat hati Mariani.
"Aku sangat bahagia sekarang. Aku menemukan cahaya dalam hidupku. Menemukan cinta yang sempurna darimu."
"Ehm. Mas Ardan ini ngomong apa sih? Aku ... Emh aku nggak mungkin ninggalin kamu mas."
Peluh semakin membanjiri wajah keduanya. Tiada lagi obrolan ringan yang menghiasi percintaan mereka. Hanya suara ritme cairan dari keduanya.
Ceplok ceplok ceplok ceplok ceplok ceplok
__ADS_1
Semakin cepat ritme yang dikeluarkan. Selain itu terdengar erangan nikmat yang panjang mengakhiri percintaan keduanya kali ini.
"Terima kasih sayang, terima kasih." Ardan memberikan banyak kecupan diwajah istrinya. Kemudian membersihkan bagian bawah milik sang istri. Setelah selesai kemudian dia merebahkan dirinya disamping sang istri. Tubuhnya terlalu letih karna kegiatan panas keduanya. Ardanpun kemudian memejamkan kedua matanya mencoba memasuki alam bawah sadarnya menyusul istrinya yang sudah bermimpi indah. Malampun kian beranjak.