
Agnes menghentikan langkahnya. Mengamati sekitarnya sekali lagi dengan tajam. Sejurus kemudian dia mulai siaga. Sedangkan laki-laki yang telah melangkahkan kakinya terlebih dahulu menghentikan langkahnya karena sejenak menyadari tidak ada sosok seorang gadis yang seharusnya mengikutinya. Mulai kehilangan kesabaran. Dengan bergegas segera menghampiri gadis yang tengah mematung itu. Namun sekelebat kemudian gadis itu ternyata terlebih dahulu menarik tangannya. Memaksanya mengikuti langkah seribu yang dilakukan oleh gadis yang belum dikenalnya.
"Hah?" Perasaan bingung dan tak berkutik menghinggapi hatinya. Kini yang dia lakukannya juga mengambil langkah seribu.
Sial kenapa pengawal papa ada di mana-mana !! Arght .... Michael pasti ada disekitar sini. Aku yakin !
Kini mereka melintasi gang-gang kecil. Milik perumahan yang mulai dipadati penghuninya. Walaupun belum ramai. Kini mereka terus berlari. Namun Dion mulai merasa kini kakinya mulai melemas.
"Hei.... Tunggu !! Mau sampai kapan loe terus lari kayak gini?!!"
Tak ada jawaban..... Hanya terdengar deru nafas tersengal-sengal. Namun masih tetap mengambil langkah seribu. Dion mulai kesal. Dia menghentikan langkah seribunya.
"Gue bilang berhenti !!!"
Seketika gadis yang menarik tubuhnya untuk mengikuti langkah seribu itu pun otomatis berhenti. Masih dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Gila loe kenapa lari sih? Dan kenapa loe narik gue juga buat lari......" Mengatur nafasnya yang memburu. "Gue capek."
Hening melenggang. Tak ada jawaban sepatah katapun yang keluar dari mulut gadis asing di hadapannya. Namun matanya awas memperhatikan keadaan sekitar.
"Loe ada masalah? Dikejar utang ya?" Mulai menumpahkan emosi yang mulai menjalari pikirannya.
Masih membisu. Namun gadis itu mulai menatapnya tajam. Baiklah itu lebih baik dari pada tak dianggap ada bukan. Pikir Dion. Sejenak gadis dihadapannya berfikir.
"Iya mereka rentenir."
__ADS_1
Dia pikir gue lari dari rentenir. Punya utang?! Whatever. Itu lebih baik. Setidaknya dia ngerti alasan gue bawa dia lari.
"Hah !!! Jadi kalau gitu loe lari ngajakin gue cuma karna dikejar rentenir? Loe gila? Ngapain loe bawa-bawa gue lari hah?" Suara ngebass dengan intonasi tinggi mulai terdengar memekakkan telinga.
Hening kembali menghampiri.
"Sial loe budek ya? Ngapain loe bawa-bawa gue lari?! Gue gak ada urusan sama loe!!"
Kalau gue gak bawa loe lari loe habis sama Michael !!
"Apa sih loe berisik banget tau nggak!!"
"Hah.... Capek gue lari ditambah ngomong sama loe kayak dianggep angin mulu."
Sial .... Dia mulai kesal. Agnes memutar otaknya. Sebuah ide terlintas di pikirannya. Sepertinya ide bagus. Senyum tipis menghiasi bibirnya.
Dan tolong jangan bikin tambah susah !!
Dion nampak mulai berfikir. Seperkian detik kemudian dia membuang nafas kasar. Istri ketiga? Kasihan banget nih cewek. Cantik-cantik jadi istri ketiga. Kasihan juga kalau gue gak ikut dia. Kalau gue tinggal disini dia ketangkep bisa-bisa dia dinikahin om mesum itu terus jadi istri ketiga. Masa depannya akan hancur.
"Terus rencana loe?" Tanya Dion. Otaknya benar-benar buntu. Mengambil sapu tangan yang berada di sakunya kemudian membersihkan keringat yang membasahi seluruh wajahnya.
"Kita sembunyi dulu. Kayaknya mereka bentar lagi pergi." Matanya kembali mengamati sekitar. Dion mulai diambang batas kesabarannya. Dia mengambil ponsel yang berada di saku celananya.
Tut...Tut... Klick.... Tersambung.
__ADS_1
"Halo. Jemput gue di.....bla...bla....bla.... Sekarang. Terus nanti ambil mobil gue yang ada di restaurant *****. Secepatnya." Mematikan telfon sepihak tanpa menunggu jawaban diujung telfon menyahutinya.
"Loe telfon siapa?"
"Asisten gue. Kita disitu dulu. Sambil nunggu jemputan." Mendudukkan bokongnya di pos satpam perumahan. Satpam yang melihatnya pun mendekatinya.
"Pak satpam numpang neduh dulu ya. Nunggu jemputan" Ujar Dion.
"Oh iya Aden silahkan." Ucap seorang satpam yang berada di pos itu. Kemudian dia kembali ke tempatnya semula.
"Lebih baik gak usah kita tunggu beberapa waktu aja dulu nanti habis itu kita balik ke depan."
"Loe gila ya? Nggak !!! Gue capek. Ini tuh udah jauh banget dari jalan besar." Sentak Dion.
"Tapi nunggu mobil jemputan juga sama lamanya kan?"
"Nggak !!! Gue udah capek !! Gue laper !! Loe gila aja nyeret-nyeret gue buat lari trus loe bilang nanti balik lagi kesana !!! Kalau gila jangan ngajak-ngajak dong."
Agnes memutar bola matanya. Tubuhnya bergetar karena menahan kesal.
Baiklah. Terserah loe aja. Kalau gue punya duit banyak gue gak bakalan disini nyeret-nyeret loe buat ikut lari sama gue. Disini itu loe cuma mesin ATM gue buat gue pulang.
ππππ
**Vote yang banyak kalau ranking naik author update banyak ya .... See you.... Rankingnya jauh banget ππππ bikin semangat dong......
__ADS_1
Ada yang bilang karma intan udah giliran Johan kapan πππ iya nanti ada waktunya semua ada waktunya masih panjang juga kok.... makanya vote yang banyak buat authorπππ biar author semangat π€π€π€ see you πππ**