
Tatapan Sabrina kini berpaling pada William. Pria itu tampak acuh saat melewati sang sekretarisnya. Sabrina meremas ujung gaunnya. Sekretaris? Sabrina menggigit bibir bawahnya. Bukankah itu berarti William dan Sekretaris itu akan selalu bertemu? Sabrina menghembuskan napas berat.
"Kau seperti memiliki banyak sekali pikiran," ucap Artur.
Dengan cepat Sabrina menggelengkan kepala. "Tidak."
"Sabrina, kemarilah," pinta William.
Artur yang paham, ia memilih duduk di sofa panjang. Memilih memainkan ponselnya dan mengabaikan sang ayah serta ibu sambungnya. Artur sadar. Yang akan mereka bahas pasti tentang masalah kantor.
"Duduklah," titah William. Sabrina pun mendudukkan bokongnya di kursi. Tepat di hadapan William. "Nanti kau pelajari management perusahaan ini. Mau seperti apapun, perusahaan ini juga milikmu."
William menatap Sabrina dengan senyuman tipis. Sedangkan Sabrina, ia hanya menerima berkas-berkas itu dengan pelan. Gadis itu tak menjawab. Memilih mempelajari semua yang memang menjadi bagiannya. Ryu, berada di ruangan lain. Hanya bersekat kaca transparan. Semua terlihat jelas di mata yang memandang.
"Kau ingin minum apa?" tanya William.
Sabrina menghembuskan napas. Tanpa mengalihkan pandangan dari berkas perusahaan, Sabrina menjawab, "Terserah. Apapun itu."
__ADS_1
William menghela napas. Sabrina seperti tak memperdulikannya. Memilih tak menyahut, William segera mengambil gagang telepon. Ia menghubungi pihak OB untuk membawakan 2 cangkir coklat hangat beserta 1 kopi. Setelah telepon tertutup, William mengunci tatapannya ke arah Sabrina. Ia tampak fokus terhadap hal yang harus dipelajarinya.
Terdengar derit suara pintu terbuka. William menoleh ke arah pintu. Dahi pria itu berkerut. Mendapati sang sekretaris yang tersenyum sembari membawa nampan. Wanita itu mendekat.
"Pak, ini saya bawakan sesuai pesanan Anda," kata sekretaris tersebut.
"Ara, bisakah lain kali kamu mengetuk pintu terlebih dahulu? Kurasa hal sepele ini, kamu harusnya paham bukan?" sindir William.
"Iya, Pak. Maafkan saya," sahut Ara.
"Bukankah, aku menyuruh OB bukan kamu?" desak William.
Ara melirik Sabrina. Tatapan wanita itu terlihat iri. Dari balik ponselnya, Artur dapat melihat dengan jelas, jika sekretaris tersebut memiliki niat lain.
"Baiklah, pergilah," usir William.
"Anda membutuhkan yang lain, Pak?" tanya Ara.
__ADS_1
William melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Kemudian ia menatap Artur. Sepertinya Sabrina tak bisa diusik. "Artur, kalian tadi sudah makan?"
Artur menyimpan ponselnya. "Belum. Kan Ayah sudah menjemput duluan."
"Ayah? Pak, apa itu anak Anda?" tanya Ara. Kedua matanya berbinar.
"Ini perusahaan! Jangan bertanya tentang masalah pribadi. Urusanmu selesai bukan? Sepertinya tadi aku mendengar ada yang menyuruh untuk segera keluar dari ruangan ini." Belum sempat William menjawab, Sabrina sudah mengeluarkan kalimat sarkasnya untuk Ara. Ketegasan Sabrina bahkan tak membuat gadis itu bergerak dari posisinya yang masih mengamati berkas-berkas perusahaan.
"Ba-baik." Ara tergagap.
Wanita itu terlihat mengepalkan tangan saat kena mental dari kata-kata Sabrina. Ara pun berlalu dari tempatnya dengan perasaan dongkol. Mendengar suara pintu tertutup, Sabrina lalu mengangkat kepala dan menoleh ke arah Artur.
"Aku lapar," cicit Sabrina.
"Sabrina, kau ingin makan di kantin perusahaan? Ada banyak menu di sana," tawar William.
"Bolehlah." Sabrina menaruh dokumen yang ia pegang. Lalu perlahan bangkit. Disusul William pun juga dengan Artur.
__ADS_1
Di luar ruangan presdir, tampak Ara tengah berdandan. Seketika wajah Ara pias, ketika atasan meliriknya. Namun, William memilih abai. Tak ingin membuang waktu, pria itu memilih membawa Sabrina dan Artur untuk makan siang.
Di sepanjang perjalanan menuju kantin, banyak sekali pasang mata yang melirik ke arah tiga orang yang tengah berjalan dengan santai. Tidak, lebih tepatnya tatapan mata para kaum adam tertuju pada Sabrina. Pasalnya, William berjalan posesif dengan melingkarkan tangan di pinggangnya yang ramping.