
"Eh sinting, loe jangan macem-macem ya!" Agnes siaga.
"Kenapa? Hei kita sudah menikah pantaskah bahasa elo gue?"
"Jangan banyak alesan deh! Meskipun kita udah nikah, toh kita dipaksa!"
"Siapa yang dipaksa? Aku nggak dipaksa tuh!" Dion mengendikkan kedua bahunya. Matanya menatap tajam Agnes yang sudah siaga.
Gadis yang menarik. Tak ku sangka aku bisa sepenasaran ini. Padahal selama ini aku selalu cuek dengan wanita manapun. Tapi tidak dengannya. Gadis ini memiliki kepribadian yang unik. Tekhnik berkelahi dengan insting yang tajam. Bahkan gerakannya sangat gesit dan lincah walaupun dengan kaki yang pincang. Sepertinya dia memang dibesarkan dengan sangat disiplin.
"Heh sinting! Memangnya siapa yang mau menikah denganmu?!" Teriakan Agnes membuat hati Dion serasa dicubit. Benar, dulu dia juga sempat menolak perjodohan ini. Namun takdir berkata lain. Mereka tetap tidak bisa lari dari tali perjodohan yang telah diukir diatas takdir.
"Terserah!" Dion segera melenggang pergi menuju kamar. Agnes mau tak mau mengikuti Dion masuk ke dalam kamar. Terlihat hanya terdapat satu ranjang ukuran besar. Agnes mengamati setiap gerak-gerik Dion. Laki-laki itu menjatuhkan dirinya diatas ranjang. Kemudian matanya menerawang keatas langit-langit kamar. Agnes masih berdiri di ambang pintu kamar. "Mau sampai kapan kamu berdiri disitu?"
Agnes terdiam, entah kenapa bulu romanya meremang. Matanya masih mengamati obyek di atas ranjang.
"Tenanglah, aku tidak akan menyentuhmu jika memang kau belum siap," Dion masih menatap langit-langit kamar.
Ucapan Dion membuat Agnes sedikit lega. Terlihat gadis itu mengelus dadanya perlahan. Kemudian dia menutup pintu kamar secara perlahan.
__ADS_1
"Tidurlah, ini sudah malam. Aku yakin kau lelah," Dion menatap gadis yang sekarang ini sudah sah menjadi istrinya itu. Gadis itu mengangguk dan berjalan tertatih-tatih menuju ranjang.
"Apa kau memikirkan sesuatu?"
"Aku memikirkan Rianna. Gadis itu baru saja bahagia, tapi nyatanya kita malah membuat dirinya harus menanggung semua masalah,"
"Apa kita perlu kerumah sakit sekarang?"
"Tidak perlu. Kita kesana besok saja. Mereka pasti mengerti, kamu juga sedang terluka,"
Gadis bule itu mengangguk. Kemudian ikut membaringkan tubuhnya disamping Dion secara perlahan.
"Kau takut?" Dion melirik gadis yang mencoba merangkak naik keatas tempat tidur.
"Sudahlah aku tidak tertarik denganmu. Kau bahkan tak memiliki pant** yang seksi," laki-laki itu bergerak membelakangi Agnes. Sedangkan Agnes, meraba panta*nya secara reflek. Matanya menatap tajam kearah suaminya. Giginya saling bergemelutuk karena menahan geram.
Tenang Agnes tenang. Ingat dia suamimu! Kau tidak boleh membogemnya.
"Kau memakiku?" tanya Dion.
__ADS_1
"Tidak! Siapa yang memakimu? Kau pikir aku apa? Kau itu tidak layak untuk dimaki!"
"Nah itu tau. Pintarnya istriku," puji Dion sembari membalikkan tubuhnya.
"Aku belum selesai! Kau memang tidak layak untuk dimaki, tapi kau sangat layak untuk ditinju!"
"Kau!"
"Kenapa? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya saja! Kau jangan berlebihan!"
"Oh iya. Aku tidak akan berlebihan," Dion tersenyum membuat Agnes merinding.
Kenapa aku merasa masuk perangkap? Agnes meneguk salivanya.
"Aku tidak berlebihan. Jadi kuharap kau juga jangan berlebihan! Sekarang kita lakukan tugas yuk," Dion melepas kancing bajunya secara perlahan. Membuat mata Agnes membulat.
"Kau… kau mau apa?"
"Kau jangan berlebihan. Kita kan suami istri, jadi wajar dong kalau aku meminta hakku,"
__ADS_1
"Kau… kau bilang kau tidak tertarik denganku? La..lalu kenapa kau meminta hakmu?"
Namun sungguh diluar dugaan Dion beringsut maju dan ….tanpa aba-aba mencium bibir sensual Agnes membuat gadis itu terkesiap kaget.