
"Bagamana ?" Tanya Monica.
Ani menutup mulutnya kaget bukan hanya menampar namun membuat Johan tak bisa berbuat apapun. Dia tengah meringis kesakitan.
Oh sayangku kenapa kau bengis juga. Kevin.
Ya Tuhan !!! Monica !! Monica keren banget. Ani.
"Aku hanya menemanimu bermain tuan Johan. Ingat ini peringatan dari seorang sahabat dan juga kaki tangan dari tuan Ardan. Suami dari sahabat saya. Jadi tolong jangan membuat masalah sebelum masalah ini bertambah lebar." Intonasi tegas penuh ancaman ditekankan. Membuat Johan yang tadinya tersulut emosi. Kini hanya mampu menahan malu.
Gila !!! Calon istri ku kenapa bar bar gini ya.... Glekkkkk
"Heh aku tak cari masalah gadis bodoh !!" Maki Johan.
Belum sadar situasi juga kamu rupanya tuan. Baiklah jangan bertele-tele. Monica.
"Oh anda belum sadar situasi juga ternyata. Baiklah. Anda lihat sebelah jarum jam di angka 3 dan lihatlah dengan seksama." Monica mencondongkan tubuhnya. Berbisik ditelinga Johan laki-laki itu segera mengedarkan pandangannya seperti yang dimaksud monica.
Terlihat sosok berjas hitam dan berkacamata hitam. Berdiri membelakangi pohon namun tetap menampakkan sebagian tubuh dari laki-laki berperawakan tinggi.
Gleeekkk..... Johan menelan salivanya.
"Dia adalah bodyguard yang menjaga Ani. Yang dipilih oleh tuan muda Ardan sendiri. Aku hanya memperingatkanmu. Tapi jika bodyguard itu melaporkan apa yang telah kau lakukan pada nona muda, Istrinya. Aku yakin bukan hanya kamu yang akan berakhir tinggal nama. Namun orangtuamu juga akan terkena imbasnya. Ingat tuan anda berurusan dengan istri Presdir Wijaya .... Yang artinya.... Mengganggunya akan berakhir mati."
Apa yang dikatakan oleh Monica ? Kenapa muka Johan pucat seperti itu?
Waaaahhhh calon istri kecilku...!!! Kau apakan dia? Kenapa dia gemetar begitu?
"Kau mengerti?" Tanya Monica.
"I...iya aku mengerti." Ucap johan lirih.
"Yang keras dong !!!! Aku gak dengar tau ?! Lu laki apa bencong?!"
"Iya aku mengerti !!!" Teriak Johan.
Hah?
Apa??
__ADS_1
Dua manusia bodoh saling membatin. Kali ini ikatan batin mereka sangat kuat.
Kevin melirik Ani. Ani pun melakukan hal yang sama.
"Apa yang terjadi?" Tanya Kevin.
Ani menjawab dengan mengendikkan bahunya. Dia juga memikir kan hal sama.
"Sepertinya mulai sekarang aku harus mematuhi apa yang diucapkannya. Dia benar-benar bar-bar."
"Walau begitu bukankah mas Kevin mengejarnya?"
Jawaban menohok namun benar. Bagaimanapun dia semakin tergila-gila dengan Monica.
Terlihat Johan pergi sembari menahan malu. Dia kalah telak dari seorang gadis lugu.
"Beb? Kamu gak apa-apa?" Tanya Monica begitu membalikkan tubuhnya.
Ani mengangguk kaku. Benar-benar sulit untuk dipercaya. Baiklah jika tubuh Ani mematung. Sekarang beralih ke Kevin. Sosok laki-laki itu mematung. Dengan memasang wajah **** dia melangkah kearah monica. Dan Ani.
"Kamu menakjubkan."
🤗🤗🤗
"Sudah tuan muda. Saya sudah melakukan apa yang anda katakan. Dan juga sekretaris Herman sudah melakukannya dengan baik. Mulai besok hari pertama saya di kampus yang sama dengan nona muda."
"Ingat .... Aku akan membiayai semua kebutuhanmu selama kamu kuliah. Kau juga akan mendapat gaji selama bekerja padaku. Sesuai data dirimu. Kau kukerjakan untuk melindungi istriku. Melayaninya namun kau tetap harus mematuhi ku . Kau mengerti?"
"Tentu saja tuan muda. Jika anda tetap menjaga rahasia pribadi saya. Maka saya akan tetap setia bekerja pada anda."
"Hahaha tentu aku akan menjaga rahasiamu. Tapi kenapa kau melakukan ini? Bukankah keluargamu termasuk konglomerat di negri ini?"
"Maaf tuan muda saya tidak akan menjawab hal yang bersifat pribadi."
"Brengsek.... Terserahlah..." Mengisyaratkan tangannya agar pelayan itu pergi.
Membungkukkan badannya. Memberi hormat lalu pergi meninggalkan ruang kerja tuannya.
"Tapi bunda Oma yang beliin !!"
__ADS_1
"Sayang jangan nakal begitu. Bunda bakalan beliin mainan yang banyak untukmu nanti." Kata Ani lembut.
"Enggak !!" Menarik kembali mainan yang hampir disimpan oleh bundanya. Memasang wajah merenggut begitu mendapatkan mainan yang dibelikan greeta.
Bagi keluarga Wijaya. Yang baru menimang cucu meskipun cucu tiri. Namun Greta dan Nico memperlakukannya seperti cucu sendiri. Hal itu terlihat dari semua barang yang kini berada di dalam kardus besar. Semua itu adalah mainan yang dibelikan oleh Nico dan greeta selama Rendy berada dirumah besar itu. Padahal baru beberapa Minggu Rendy berada disana namun semua permainan dan barang-barangnya terlihat bermerek dan mahal. Ani mendesah pelan. Padahal hal itu tak perlu. Semuanya berlebihan dia takut Rendy akan semakin hari semakin manja. Hal itu akan berpengaruh untuk masa depannya.
"Sayang.... Sudahlah.... Biarkan Rendy bermain sepuasnya." Ucap mami Greta.
"Tapi mi. Ini terlalu berlebihan. Aku takut dia akan tumbuh menjadi anak yang manja."
"Hmmm... Tenang saja nak. Mami tahu batasnya kok. Yah hanya kemarin kami bingung Rendy belum mengenal kami. Jadi cara membujuknya ya seperti itu. Dia suka sekali bermain mobil remoot control. Uuuhhh benar-benar menggemaskan cucu Oma. Pulanglah nak ini sudah malam. Mami yakin kamu pasti capek."
"Hah.... Baiklah mi aku besok akan kemari lagi setelah pulang dari kampus." Melirik jam yang melingkar ditangan. "Sudah pukul 7 malam mi. Kayaknya mas Ardan udah pulang deh."
"Yaudah sayang .... hati-hati ya." Memeluk menantu satu-satunya dengan hangat. Kemudian dilepaskannya pelukan itu. Kini beralih ke bocah laki-laki kecil.
"Bunda pulang dulu ya nak.... Besok bunda kesini lagi. Emmmuuuuah." Mencium pipi gembul milik Rendy.
🤗🤗🤗
"Mas Ardan....."
"Hmmmm." Laki-laki itu bersikap dingin lagi. Begitu mendapati istrinya menginjakkan kakinya di kamar.
"Mas Ardan udah makan belum? Kalau sudah makan aku tinggal mandi dulu."
"Sudah makan. Mandilah dulu aku siapkan baju tidurmu".
*Aaahhh mas Ardan.... Aku tau maksud kamu.... Kamu mau makan aku kan*?!
Bisa ditebak jika suaminya yang manja itu menyiapkan baju tidur untuknya bisa diketahui akhirnya bagaimana. Akhir yang melelahkan untuknya di atas ranjang.
*Hah.... berakhir sudah mimpi istirahat dengan rebahan sambil baca novel online*.
Berjalan sambil malas. Enggan untuk membersihkan diri. Namun begitu mendapati sorot mata yang tajam menatap kearahnya. Dia segera bergegas. Melangkahkan kakinya lebar-lebar agar cepat sampai di kamar mandi.
*Habis aku malam ini. aaaaa*
Â
__ADS_1