Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 139


__ADS_3

Drttt...drttt...drttt....


Ponsel Dion bergetar. Suasana riuh tak membuatnya lantas mengabaikan panggilan diponselnya dia segera melirik nama yang tertera disana. Ardan. Dion menautkan kedua alisnya.


"Halo,"


"Halo...Bisa nggak loe kerumah papi mami? Rasanya ada hal yang harus kita bicarakan. Ini masalah penting,"


Dion melirik mereka semua yang sedang merusuhi Agnes. Terlihat gadis itu sudah lelah karena tingkah kedua keluarga besar. Pernikahan yang ala kadarnya dibuat dengan situasi yang dadakan itu benar-benar membuat hatinya dan Agnes dongkol. Pasalnya dia memang ingin menikahi gadis itu, namun bukan sekarang.


Sepertinya ini waktu yang pas buat aku dan dia pergi deh. Kasian mukanya udah kusut.


"Oke gue meluncur. Gue bawa Agnes juga," ucap Dion dan panggilan itupun berakhir. "Sial dia yang telpon dia yang matiin, mati aja lu bro !!" umpatnya kesal karena panggilan diakhiri sepihak. Dion kemudian berjalan menuju Agnes. Wajah gadis itu benar-benar memelas. Karena direcoki dengan berbagai pertanyaan dan godaan tentang malam pertama.


"Ma pa....aku sama Agnes boleh keluar nggak? Em mau kerumah Wijaya,"


Agnes yang mendengarnya langsung menatapnya dengan mata yang berbinar. Senyum pun dia sungging di bibirnya. Merekah bak bunga yang sedang mekar. Sepertinya senang sekali karena bisa kabur dari pembahasan malam pertama.


Akhirnya .... kenapa gak dari tadi coba.

__ADS_1


"Kenapa? Jangan aneh-aneh lagi Dion !! Ingat Agnes masih belum sembuh," ucap Leonardo.


"Aneh-aneh gimana sih pa? Ini tadi Ardan nelfon katanya istrinya kangen sama Agnes. Kan istrinya lagi hamil," ucapan dari Dion sontak membuat mereka semua menoleh. Keluarga Wijaya akhirnya memiliki cucu penerus.


Semoga papa percaya. Kalau nggak yakin sumpah gak bakalan bisa lari lagi.


"Istri Ardan hamil?" teriak Melinda. Mamanya Dion itu memang juga sedang menantikan cucu dari Dion. Begitu mendengar Ardan yang baru menikah saja akan memiliki momongan kedua matanya ikut berbinar-binar.


"Iya katanya kepengen ketemu Agnes ma,"


"Ya udah sana siapa tau nanti ketularan. Iya kan?" tanya Bastian.


*Sial maju kena mundur kena. Kenapa kalian ngebet banget sih pengen punya cucu? Nyelup juga belum udah mikirin cucu aja.


Ah tau ah pengen cepet minggat dari sini. Bisa mati muda* !! batin Agnes.


"Iya pa... Ini mau pergi kok. Besok bahas niakahan lagi. Ayo....kamu kan udah lama gak nyicip masakan Ani kan?"


"Ani?" tanya Viona.

__ADS_1


"Itu loh ma yang aku ceritakan. Waktu Agnes jadi pembantu dia juga masakin aku. Bawain bekal juga," ucapan Agnes membuat semua orang ternganga.


"Bagaimana bisa menantu dari keluarga Wijaya masak sendiri? Terus kasih pembantu juga lagi," Bastian mencebik. Sepertinya masih belum terima jika anak gadisnya menjadi pembantu disana.


"Iya pa. Bukan cuma aku aja kok sama Monica juga. Sahabat aku,"


"Monica siapa nak?" tanya Melinda.


"Calon istri Kevin ma calon menantu keluarga Winata !!" teriak Dion. Kembali mereka semua melongo bahkan ada yang menutup mulutnya .


"Wah sepertinya kalian semua berjodoh ya? Tiga sahabat laki-laki bersama tiga sahabat perempuan. Semoga aja persahabatan kalian langgeng sampai anak dan cucu," ucapan dari Leonardo membuat semua mengamini.


"Aminn. Yaudah aku sama Agnes berangkat dulu ya pa ma," Dion kemudian menyambar tangan milik Agnes namun yang ditarik masih berdiam diri ditempat.


"Kamu gak mau ya?!!!" Dion meninggikan suaranya. Kemudian dia menoleh dan terkesiap.


"Hei salah tangan Yon!!" teriakan dari Melinda membuatnya merinding.


"Lagian kenapa sih Yon kayak gak sabaran banget kamu? Apa mau nyelup dulu?" pertanyaan Melinda membuat Dion segera bergerak. Rasanya ingin masuk kelubang semut saja.

__ADS_1


"Maaf ma," kemudian menarik tangan gadis itu dengan segera. Diikuti suara gelak tawa yang menggelegar dari semua orang membuatnya begitu malu.


__ADS_2