
Rendy berjalan dengan banyak fikiran yang terus bergelayut di otaknya. Lelaki itu masih belum bisa menerima kebenaran akan identitas Elena. Semua yang dikatakan oleh Jones, berusaha ia renungkan. Sekaligus menyambungkan dengan apa yang pernah Elena katakan.
Entah aku harus percaya atau tidak, tetapi mengingat kami semu belum melakukan tes DNA membuatku sedikit was-was. Sepertinya sepulangku dari sini aku harus mengurus banyak hal untuk Elena.
Kepingan akan penuturan pembalasan dendam yang diinginkan oleh Elena, sejenak membuat Rendy frustasi. Pasalnya, lelaki itu pasti akan kena imbasnya. Bukankah dirinya juga harus menyembunyikan hal ini terlebih dahulu? Bukankah aunty Monica begitu berharap dia adalah anaknya yang hilang?
Lebih baik aku menutup mata dan hatiku. Sementara aku lihat dulu apa rencananya.
Setelah beberapa waktu Rendy tenggelam dalam.pikirannya, sebuah nada dering telpon masuk ke ponselnya. Alis lelaki itu menukik tajam saat menyadari jika Leo yang menelfonnya. Belum sempat Rendy mengucapkan sepatah kata, Leo terlebih dahulu berbicara. Namun nadanya terdengar begitu panik dan darurat.
__ADS_1
“Halo, Rendy, jika kau sudah selesai di Dieng. Aku ingin kau mengeksekusi seseorang. Anggap saja ini adalah hutang budiku padamu. Aku janji, akan membayarnya suatu saat nanti ... terimakasih atas semua bantuanmu, sampaikan salamku pada Jones jika kau masih bersamanya. Aku akan mengirimkan alamat gedung eksekusi milik keluargaku. Macan Leopard juga ada di sana ... ha-ha ... Ayahku memang sengaja memberiku nama persis dengan binatang peliharaan kesayangannya. Aku akan menemuimu disana begitu urusanku selesai, bye.” Leo menutup sambungannya seenak jidatnya. Bahkan sebelum Rendy kembali mengeluarkan suaranya.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada bocah tengik itu? Mengapa dia seenak udelnya mematikan telponnya. Pantesan, Jones san Reza mengatainya nol akhlak." Rendy menggumam sendiri. Hingga pada akhirnya, dia pasrah dan mengikuti kata-kata dari Leo. Kalau sudah terlanjur basah, ngapain mentas. Nyemplung aja sekalian. Sudah sampai disini, tidak mungkin juga Rendy putar balik untuk pulang. Rendy kembali bergabung dengan rombongan dan kembali melangkahkan kakinya berjalan meninggalkan hutan.
Kei membungkukkan badannya menyambut kedatangan Rendy. Sesaat lelaki itu membukakan pintu mobilnya untuk Rendy. Rendy mendesah gelisah. Kembali pembicaraannya bersama Jones kembali terngiang di telinganya. Seakan kata-kata itu bak audio yang terputas secara otomatis di otaknya. Untuk kesekian kalinya, Rendy mendesah gelisah. Menghela nafas berat dan panjang. Membuat Kei semakin yakin ada hal yang terjadi diluar sepengetahuannya.
"Tuan Muda, apa kita pulang sekarang?" tanya Kei sembari menyalakan mobilnya.
Kei terdiam. Begitu enggan untuk menjawabnya. Karena hal itu dimata Kei tidaklah penting. Hanya Rendy, yang harus dia pastikan keadaannya selalu dalam keadaan yang sehat dan selamat. Kei melajukan mobilnya Koenigsegg CCXR Trevite hitam untuk membelah jalanan terjal meninggalkan hutan belantara dataran tinggi, Dieng.
__ADS_1
Terik mentari mulai merangkak naik saat mereka baru saja memulai perjalanannya. Sebelum senja menyingsing, mereka harus sampai terlebih dahulu di tempat tujuan. Mengingat ini adalah hutan belantara yang sangat jarang dijejaki.
Rendy dengan pandangan kosong kedepan tak sengaja menangkap sesuatu yang aneh. Entah bagaimana awal mulanya terjadi, tetapi yang jelas terlihat mobil yang dikemudikan oleh Roy hilang kendali. Bahkan seperkian detik berikutnya, Xiao Nai didorong oleh Roy dari dalam mobil. Maka dari itulah, Xiao Nai menyembul keluar dari dalam mobil yang sudah separuh badannya memasuki ujung jurangnya. Sesaat mobil itu oleng dan segera meluncur bebas memasuki jurang.
Kedua bola mata Rendy seketika membulat melihat kejadian yang begitu cepat dan mengejutkan itu. Kei segera memperlambat mobilnya dan menepikannya. Dengan segera Rendy berlari keluar dari mobil. Terlambat, mobil yang didalamnya terdapat Roy itu kini justru meledak begitu telah menabrak dasar jurang. Hingga setelah suara ledakan itu timbullah api yang memakan seluruh body mobil. Melahap tanpa memberikan pengampunan sedikitpun. Sudah jelas, siapapun yang ada di dalam sana bisa dipastikan menjadi ayam bakar karena tak akan mampu menyelamatkan dirinya.
****
Selanjutnya kisah Roy ada di novel dibawah ini.
__ADS_1