
"Ampun mi, kenapa begini banget," tubuh Ardan serasa lemas saat ini dirinya tengah tidur telentang dengan mata yang terpejam. Rasanya seluruh tubuhnya sudah lemas hingga ke sendi-sendinya.
Gretha hanya mampu memijit kaki Ardan dengan telaten. Perutnya sudah penuh dengan aroma minyak angin. Rasa yang dideranya begitu hebat tak kala mencium aroma masakan istrinya sendiri. Saat ini Ani tengah membakar mujair. Sedangkan Rianna membuat brownies lumer. Dan tugas Monica adalah mencicipi segala masakan yang ada. Gadis itu memang tak pandai memasak jadi wajar jika Ani memberikan tugas sebagai pecita rasa.😆😆
"Rasanya mau mati," lenguh Ardan.
"Hust, kamu jangan ngomong yang aneh-aneh nak. Ingatlah istrimu sedang hamil saat ini," Gretha menyentil kening Ardan.
"Ya ampun mi, bisa-bisanya mami nyentil Ardan. Ardan pusing mi. Kepala rasanya mau pecah,"
"Bro sebenernya ada apa loe manggil gue?" Dion mendudukkan bokongnya ditepi ranjang.
"Mami bisa pergi sebentar nggak?"
"Ya udah. Mami mau main sama Rendy dulu kalau gitu," Gretha segera bangkit. Dia kemudian mencari bocah laki-laki kecil itu. Namun sungguh diluar dugaan apa yang ditemukannya membuatnya terkesiap kaget. Matanya membulat tak percaya dengan apa yang dilihatnya namun seperkian detik berikutnya, Rendy tersenyum. Walaupun tubuh dan wajah sudah putih semua bocah itu tersenyum dengan begitu menggemaskan.
"Ya Allah Ri, apa kamu nggak lihat Rendy jadi begini? Sudah seperti udang ditepungin," Gretha segera mengangkat tubuh kecil Rendy. Namun bocah itu malah memberontak.
"Aku mau bantuin aunty bikin kue," ucapan bocah kecil itu membuat semuanya tertawa. Ini mah bukan membantu tapi malah membuat kacau.
"Ri jangan-jangan nanti kalau kamu punya anak, anak kamu nyempung diadonan tepung juga gak bakalan tau," ledek Monica.
__ADS_1
"Diamlah kak!! Habis dia tadi menganggu terus yasudah aku biarkan saja dia bermain sepuasnya," Rianna tak mau kalah.
"Memang kamu bikin apa sih Ri? Dari tadi gak selesai," Ani segera menyambar tubuh anaknya.
"Nggak mau bunda, aku mau bantu aunty,"
"Aunty sudah selesai sayang," Rianna mendekati Rendy. "Tuh lihat,"
"Aku mau aunty," tangan mungilnya sudah dia gerakkan layaknya tengah meminta sesuatu.
"Ayo bunda. Aku mau mandi. Aunty itu punya Rendy ya jangan kasih ke aunty Monica. Nanti dihabisin," tangannya menunjuk Monica. Membuat semuanya tertawa.
Ani segera berlalu membawa Rendy kekamar mandi. Rianna dan yang lainnya membersihkan apa yang sudah dikacaukan oleh Rendy.
"Sumpah ya Ri, aku masih gak percaya lo kamu yang bikin ini semua," Monica menunjuk apa yang sedari tadi dikerjakan oleh Rianna.
"Iya....terus kenapa kamu malah ambil jurusan desain?"
__ADS_1
"Soalnya ada kakak ipar juga disana. Jadi aku milih desain,"
"Ya ampun Ri, kamu itu berbakat dalam hal ini. Tapi kenapa kamu malah ikut-ikutan? Sedangkan kamu sendiri sama sekali nggak menguasai desain,"
"Habis,...." belum selesai dengan kalimatnya Gretha menepuk pundak Rianna.
"Sudah ayo sajikan diatas meja nak. Biar papimu mencicipi," Gretha menengahi lantaran raut wajah Rianna sudah berubah sendu.
"Iya mi," Rianna mengikuti perintah Gretha. Dia berjalan dengan nampan beserta brownies lumer yang sudah jadi.
💞💞💞
"Aku memanggilmu karena ingin mempercepatnya Yon. Segera karena Smith sudah bertindak lebih dulu,"
"Oke aku bakalan siapin anak buahku. Em kayaknya Agnes nggak bisa bantu sih," Dion menatap seorang gadis yang saat ini sudah berstatus sebagi istrinya.
"Oke aku tau. Besok kita akan mulai penyerangan. Lebih cepat lebih baik,"
"Aku hubungi tangan kananku," ucap Dion.
Ya ...lebih cepat lebih baik. Paman ... ini sambutan atas ucapan selamat datangmu padaku.
__ADS_1