Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 369. Intimidasi


__ADS_3

"Namaku jelek," gerutu Sabrina.


"Gayatri," ejek Artur.


Sabrina menggeram pelan. Entah sudah berapa kali, Artur memanggilnya dengan nama baru. Sabrina memilih tak menjawab. Memilih menikmati semangkuk mie ayam.


"Aku tak menyangka, jika keluarga Wijaya semenakutkan itu," bisik Artur.


"Tutup mulutmu, atau aku berikan sambal," ancam Sabrina.


Hening. Artur memilih bungkam. Dari pada lehernya yang harus menjadi korban. Benar. Artur telah melihat sendiri bagaimana luka-luka di tubuh sang ayah. Di mana pria yang menjadi pelindungnya selama ini, kini justru berjuang untuk menjadi pantas berada di sisi Sabrina.


Artur menghela napas. William pernah mengatakan, jika sikap Sabrina sangat mirip dengan sang ibunda. Menjadi seorang pembangkang, tetapi memiliki hati yang tulus. Semalam, ia mendengarkan ayahnya berbicara bagaimana sosok Queen itu tengah mengajarinya dalam baku tembak.


"Nyonya Elena, memberikan satu senjata api. Ia mengatakan, aku bisa melindungi diriku. Setidaknya, sebagai bagian dari keluarga Wijaya aku harus memiliki kemampuan melindungi diriku. Mungkin, kau juga harus ikut denganku."


Kata-kata William tadi malam seolah menegaskan, menjadi bagian dari keluarga Wijaya tidaklah mudah. Artur melirik Sabrina. Lencana yang ada di kalung emas Sabrina, sama dengan lencana milik sang ayah. Hanya saja, milik Sabrina bentuknya lebih kecil. Semakin lama, Sabrina mulai menampakkan dirinya.


"Pantas saja, dia sangat tidak mudah ditebak. Pikiran dan tindakannya, sangat tegas dan tepat sasaran. Sudahlah, begitu-begitu jadi mamakku juga," batin Artur.


"Ehem." Sebuah suara deheman, membuat Sabrina dan Artur menoleh.


Lexi, telah berdiri angkuh di depan meja mereka. Sabrina menatap remeh pada sosok pria itu. Di belakang, ada Masya yang tersenyum sinis.


"Masih mengingatku?" tanya Lexi. Aura permusuhan menguar begitu saja.

__ADS_1


"Masih memiliki muka untuk menampakkan wajahmu setelah kusiram air?" ejek Sabrina.


Wajah Lexi menegang. Pria itu mengepalkan kedua tangannya. Kedua mata Lexi menunjukkan kilatan amarah. Kata-katanya dibalik begitu saja oleh gadis yang tak takut siapa dirinya. Bahkan seantero kampus ini saja, mengakui seberapa berkuasanya ia.


"Kau masih tidak tahu siapa aku?" Lagi, Lexi melemparkan pertanyaan.


"Siapa? Lexi Permana Dirgantara bukan? Lalu kenapa?" tantang Sabrina.


"Sabrina, kau benar-benar mengujiku ya?" Suara Lexi mulai menarik perhatian orang-orang di kantin.


Sabrina memutar kedua bola mata kesal. Pagi-pagi sudah ada yang ingin menghabiskan energinya. Padahal, ia baru saja menikmati mie ayam yang menggiurkan itu.


"Aku sedang berbicara denganmu, jal*ng!" teriakan Lexi membuat Sabrina tersulut amarah.


Sabrina menggebrak meja. Gadis itu berdiri angkuh menatap Lexi dengan tatapan membunuh. Terlihat Lexi mengerjapkan mata berulang kali. Sabrina, gadis itu tak mengerjapkan mata sekalipun. Tatapannya begitu nyalang. Seolah mengintimidasinya hingga ke tulang.


"Kau mengatakan apa? Ulang!" Sabrina menggeram pelan.


Sejenak, Lexi tergagap. Sabrina masih menantangnya. "Jal*ng!"


Bugh.


Sabrina memukul perut Lexi. Suasana kian menegang, saat Sabrina membalik meja. Suara-suara ricuh kembali terdengar. Lexi yang terkapar di lantai, ia telah bangkit.


"Kepar*t!" maki Lexi.

__ADS_1


Pria itu melayangkan satu pukulan ke arah Sabrina. Dengan tegas, Sabrina menepis tangan Lexi. Sabrina mendaratkan satu pukulan tepat di dada bidang Lexi. Kembali  Lexi terjengkang di lantai.


"Argh! Apa yang kau lakukan dasar jal*ng! Apa kau tidak tahu siapa dia?" jerit Masya.


Mendengar makian kasar Masya, Sabrina melayangkan tamparan keras. Membuat Masya terjungkal di lantai. Bahkan, dari sudut bibirnya terlihat cairan berwarna merah merembes. Membuktikan, bibir Masya mengalami sedikit sobek akibat tamparan dari Sabrina.


"Katakan sekali lagi, kalian memanggilku apa? Cepat! Agar aku tanpa segan merobek mulut kalian satu persatu!" Teriakan Sabrina menggema di kantin.


"Tuan Muda Lexi!" pekik Lu. 


Bawahan yang bertugas menjaga Lexi si pewaris Dirgantara Grup. Pria itu berlari mendekati Lexi. Lalu tatapannya beralih pada Sabrina yang masih saja berdiri angkuh.


"Apa yang telah kau lakukan terhadap pewaris Dirgantara Grup, Nona?" tanya Lu.


"Kenapa? Aku hanya memberikan sedikit pelajaran kepada dia! Kau harusnya berterima kasih padaku, karena aku mendidik pewaris Dirgantara Grup! Mulutnya itu perlu diberikan pelajaran! Kenapa? Tidak terima?" ledek Sabrina.


Lu tak menjawab. Melainkan mengeluarkan senjata api. Menodongkannya ke arah Sabrina. Kembali suasana menegang seketika. Sabrina mengambil telur rebus dari bawah lantai. Lalu segera melemparkannya ke arah tangan Lu. Tepat sasaran. Bahkan senjata api tersebut terjatuh di lantai. 


Dengan cepat Sabrina menendang senjata api tersebut dan memutar tubuhnya melayangkan satu tendangan tepat di wajah Lu. Lelaki itu tersungkur. Kaki Sabrina lalu menginjak pistol di lantai dan entah bagaimana kini berada di genggaman Sabrina.


Dor.


Suara tembakan menggema di kantin. Sabrina menembak atap kantin. Teriakan-teriakan ketakutan membuat suasana menjadi ricuh. Sabrina masih berdiri angkuh bak Dewi Emesis. Terlihat sekali tak memiliki rasa takut sedikitpun.


"Lain kali, membawa senjata api seperti ini berikan peredam suara. Supaya tidak membuat orang-orang menjadi takut. Bukankah lebih menyenangkan membunuh tanpa suara?" Sabrina menekankan kata membunuh. Membuat Lexi, Lu dan Masya melebarkan kedua matanya.

__ADS_1


__ADS_2