Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 424. Reuni Akbar 3


__ADS_3

"William?" Suara seorang pria membuat William dan Sabrina menoleh.


"Ardi?" William sepertinya mengenali. Dengan cepat William membawa langkah kakinya menuju pria yang ia kenali bernama Ardi. "Sudah lama ya, kita tidak bertemu. Apa kabarmu?" William melepaskan diri dari Sabrina. Lalu memeluk Ardi dengan erat. Seolah keduanya sedang melepaskan rindu setelah sekian lama tidak bersua.


"Kabarku baik. Hei, kudengar Xander Grup baru saja mengakuisisi dua perusahaan sekaligus? Wah, kau benae-benar keren, William. Tak kusangka kau bisa berada di titik ini. Padahal, kudengar perusahaanmu sebelum ini tidak begitu baik," ujar Ardi. Tatapannya berhenti pada sosok Sabrina yang mematung tanpa bersuara. "Siapa dia?" tanyanya kemudian.


William menoleh ka arah yang dimaksud oleh Ardi. "Oh, ini istriku. Kenalkan dia Sabrina. Honey, kenalkan dia sahabatku. Namanya Ardi," kata William dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Sungguh ia bangga bisa memiliki istri yang begitu sempurna.


"Istri?" tanya Ardi tak percaya.


"Iya. Dia istriku. Kenapa?" William melirik ke arah Sabrina. Memindai penampilan Sabrina dari atas kepala sampai ke bawah kakinya.


"Halo, Tuan Ardi. Perkenalkan saya Sabrina." Sabrina pun mengulurkan tangannya. Tentu saja dengan senyum yang mengembang di bibirnya.

__ADS_1


Ardi dengan kikuk menyambut uluran tangan Sabrina. Senyum canggung terbit di bibir Ardi. Seolah tak menyangka seorang gadis cantik justru istri dari sahabatnya sendiri.


"Sabrina? Nama yang indah sekali. Sesuai orangnya." Ardi terkekeh.


Sabrina melepaskan jabatan tangannya. "Terima kasih, Tuan Ardi. Ngomong-ngomong, Anda tidak membawa pasangan?"


Ardi dengan cepat menggelengkan kepala. "Tidak. Maklum belum ada. Maunya cari di sini. Eh, si*lnya nggak ada."


"Kau ini. Kenapa betah sekali menjomlo? Oh, aku ini kartu namaku. Simpan ya. Siapa tahu, kita bisa berbisnis bersama." William mengeluarkan sebuah kartu nama.


"Kau sudah mapan. Kenapa belum menikah? Ingat umur kita sama lo. Tiga puluh dua tahun. Betah banget jomlo?" William menepuk dada bidang Ardi.


"Bukan betah, hanya belum ada yang sesuai kriteria saja." Ardi kembali melirik Sabrina. Dengan cepat Sabrina memalingkan wajah pada sosok wanita yang di belakang Ardi.

__ADS_1


"Ish, Ardi! Kenapa aku diabaikan?" rutuk wanita itu. Bahkan ia menghentakkan kakinya ke lantai. Matanya masih tak lepas dadi sosok William. Sabrina sudah memperhatikannya dari tadi.


Dengan senyum terpaksa, William membuka suara, "Hai, Anggi. Bagaimana kabarmu?"


Wanita bernama Anggi itu masih saja melirik sinis ke arah Sabrina yang berekspresi santai. Sabrina bahkan mengutak-atik jam tangannya. Merasa percuma, Anggi menyingkirkan tubuh Ardi yang berdiri tepat di depannya. Kini Anggi mengulas senyuman saat ia berhadapan tepat dengan William.


"Hai, William. Sudah lama ya tidak bertemu." Anggi mengulurkan tangannya.


Mencoba menghargai Anggi, William menyambut uluran tangan Anggi. "Iya. Bagaimana kabarmu?"


Tanpa diduga, Anggi menempelkan pipinya di pipi kiri dan kanan William. Membuat William membeku di tempatnya. Dengan perasaan was-was, William melirik ke arah Sabrina yang kini memasang wajah datar. Begitu pula dengan Ardi. Pria itu melirik Sabrina hendak menunggu reaksi dari gadis itu. Nihil. Sabrina tak terpancing sama sekali. Padahal, Anggi memeluk tubuh William sama seperti ketika Ardi memeluk William.


Merasa tidak enak, William menarik tubuh Anggi untuk menjauh dari tubuhnya. Anggi kembali melirik Sabrina dengan senyuman penuh ejekan. Sabrina mengulurkan tangan dengan senyuman mengembang di bibirnya. Anggi pun menyambut uluran tangan Sabrina. Anggi ingin melihat sejauh apa Sabrina akan bertindak.

__ADS_1


"Hai, Nona. Perkenalkan saya Sabrina. Istri sah dari William. Saya senang sekali bisa berkenalan dengan Anda. Putri mahkota perusahaan kecil Soeji Grup. Benar, bukan? Nona Anggi Larasati Soeji." Kata-kata Sabrina memukul telak Anggi. Wajah Anggi pias seketika.


__ADS_2