Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 357. Wanita horor


__ADS_3

Sabrina segera mengenakan body harness. Alu mengencangkan tali rock climbing. Kemudian, Sabrina mengaitkan ujung tali tersebut di sebuah tiang. Setelah dirasa aman, Sabrina berjalan menuju pinggiran perusahaan. William pun mengikuti jejak Sabrina. Tetapi ia tak memakai apa yang dikenakan oleh Sabrina.


"Sabrina kau mau apa?" tanya William.


"Roki, jaga suamiku. Jangan sampai dia lecet sedikitpun. Atau, kau akan mendapatkan hukuman dariku," titah Sabrina.


"Tapi, Nona Muda. Tugas saya mendampingi Anda," tolak halus Roki.


Sabrina menatap tajam Roki. Wajah gadis itu sangat datar. "Ingin membantah?"


Mendadak Roki dapat merasakan hawa dingin menguar dari Sabrina. Ia tahu. Di balik wajah datar gadis itu, Sabrina tengah menahan emosi. Perlahan, Roki membungkukkan badannya. "Saya menerima perintah dari Anda, Nona Muda."


"Sabrina, kau tak mengajakku?" protes William. Wajahnya pucat.

__ADS_1


"Uncle tetaplah bersama Roki. Membawa Uncle bersamaku, hanya akan menyulitkanku bergerak. Uncle tidak menguasai ilmu beladiri apapun. Lalu, Uncle juga tak bisa menggunakan senjata. Sabrina kan sudah membawa Uncle ke sini. Kita terhubung earphone. Jika Uncle berniat membantuku, lihat layar monitor notebook milikku. Katakan, di mana para musuh bersembunyi. Uncle bisa kan?" Sabrina menjelaskan keadaan yang tidak memungkinkan untuk membawa William bersama.


William terdiam sejenak. Merutuki kata-kata Sabrina yang membuatnya tertohok ke ulu hati. Akan tetapi, apa yang dikatakan oleh Sabrina ada benarnya. Ia hanya akan menjadi beban saja. Sebagai seorang pria, harga dirinya dipertaruhkan jika William benar-benar hanya menjadi beban. Menjadi seorang pengamat sepertinya lebih baik.


"Okay. Aku turuti kata-katamu. Pergilah. Aku akan menunggumu di sini. Pulanglah dengan selamat." William menatap sendu ke arah Sabrina.


"Tentu saja. Penerus Wijaya adalah legenda!" Sabrina berkata dengan angkuh. Tentu saja, dengan seringai licik.


Sabrina tak lagi berbicara. Pandangannya mengarah ke bawah. Semilir angin menyapu lembut wajah Sabrina. Dinginnya malam, tak lagi mampu menyurutkan keinginan Sabrina untuk membekuk musuh yang kurang ajar itu. Tiba-tiba William menarik tangan Sabrina hingga membuat gadis itu terhuyung ke arah William. Dengan lembut, William mendaratkan kecupan di kening Sabrina.


Sabrina menganggukkan kepalanya. Gadis itu memundurkan langkah. Setelah itu Sabrina berlari dengan kencang dan terjun bebas ke bawah. William yang kaget seketika berteriak lantang.


"Sabrina!"

__ADS_1


Dada bidang William tampak naik dan turun. Deru napasnya bahkan memburu. Sabrina benar-benar mampu membuat hatinya porak poranda. Pria itu menyipitkan kedua mata. Saat melihat Sabrina berjalan di dinding perusahaannya. Gadis itu bergerak seolah dirinya adalah seorang ahli. Padahal, angin yang berhembus cukup menusuk tulang.


"Sabrina. Kumohon, kau tetaplah baik-baik saja." William mendesah resah.


"Tuan Muda," panggil Roki. Suara pria itu menyentak William. Membuat William menoleh ke arah Roki. Lanjut Roki, "Sesuai dengan perintah Nona Muda Sabrina. Bisakah Anda mengamati layar monitor ini bersama dengan saya? Oh, ini Julia. Dia kapten tim 2 yang akan membantu saya menjaga Anda."


Gadis yang bernama Julia membungkukkan setengah badannya. Usianya mungkin masih di bawah Sabrina. Cukup cantik dan juga horor William tangkap dari sorot kedua matanya. "Perkenalkan Tuan Muda. Saya Julia. Saya harap, saya bisa bekerja sama dengan Anda."



"Emh, aku bingung. Bi-bisa kalian bimbing aku?" William memelas.


"Tentu saja, Tuan Muda. Mari," sahut Julia dan Roki bersamaan.

__ADS_1


"Kenapa Sabrina dan Julia sama-sama bersikap angkuh dan horor? Apa karena memang mereka sama-sama dididik untuk sesuatu yang berkaitan dengan hal seperti ini? Aku tidak menyangka, akan berada di situasi ini. Bagaimana bisa, Sabrina hidup di lingkungan seperti ini? Aku masih penasaran akan dua kunci yang sering dikatakan oleh Rendy. Aku merasa horor setiap kali berada di tengah-tengah mereka." William membatin. Seluruh bulu kuduknya berdiri.


 


__ADS_2