Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
Season 2. Masa Lalu Elena 4.


__ADS_3

"Adik kecil mengapa kau ada diluar di jam malam seperti ini?" tanya seorang wanita yang tengah memakai sebuah topeng.


"Mereka menuduhku sebagai pencuri. Padahal aku bukan pencuri. Hiks ... Sekarang aku tidak punya rumah lagi," kata Elena sambil menyeka air matanya. Dia begitu kecewa pada keluarga besarnya.


"Bagaimana jika kau ikut denganku?" tanya wanita itu sembari mengulurkan tangannya.


"Mama pernah bilang jangan ikut dengan orang asing. Jadi maaf Nyonya Elena akan pergi sendiri. Lagi pula Elena masih memiliki tabungan," jawab Elena dengan takut-takut.


"Sayang ... Apa kau tidak ingin balas dendam? Kepada keluargamu yang telah menuduh tanpa bukti yang akurat? Kau tau ada banyak ketidak adilan di dunia ini. Bagaimana kau yang masih kecil ini sudah menjalaninya? Tapi jika kau tidak perlu bantuanku, tidak masalah. Sebaliknya jika kau membutuhkan bantuanku, aku akan membantumu. Aku akan mengajarimu menjadi sosok yang tegas, dan kau bisa membalaskan dendammu. Bagaimana? Tenanglah aku tidak akan menyakitimu Sayang. Aku juga memiliki seorang gadis kecil yang seumuranmu," ucap wanita itu dengan sebuah senyum.


"Seorang anak kecil yang seumuran denganku? Siapa namanya?" tanya Elena penasaran.


"Kau bisa memanggilnya Lady. Jika kau ikut denganku, aku akan memberikan nama baru juga untukmu," ucap wanita misterius itu.


"Lady? Kau juga akan memberiku nama baru? Siapa?" tanya Elena kebingungan.


"Queen. Supaya tidak ada yang bisa menemukanmu sebelum kau benar-benar kuat. Bagaimana?"

__ADS_1


"Kau bisa membuatku menjadi kuat? Baiklah Nyonya. Aku akan ikut denganmu. Bantu aku menjadi kuat. Suatu saat aku akan menjadi kuat dan membalaskan dendamku," kata Elena kecil.


"Panggil aku mami. Mulai saat ini anggap saja Elena sudah mati. Kau sekarang adalah Queen. Anakku yang akan aku latih," ucap mami baru Elena.


"Hem." Elena mengangguk. Kini mereka bertiga masuk kedalam sebuah mobil.


*****


Satu tahun kemudian....


Suara tembakan membahana di seluruh arena tempat berlatih itu. Seperti biasa, setiap hari minggu akan ada penilaian dari sang mami. Elena, gadis yang bernama Lady, kemudian beberapa anak lelaki yang berumur 17 tahunan juga berlatih. Mereka memperebutkan posisi penting yang akan diberikan oleh sang mami untuk menjadi yang terkuat.


"Nyonya apa anda yakin dengan gadis bernama Elena itu?" tanya seorang wanita yang menjadi kaki tangan Mami itu.


"Carlothe, penilaianku tidak akan pernah salah. Aku melihat ada sebuah dendam yang begitu membara di kedua mata Queen. Dialah yang akan menjadi penerusku selanjutnya. Dalam kurun waktu satu tahun saja dia sudah bisa masuk 10 besar. Menyingkirkan mereka yang usianya jauh lebih dewasa. Ilmu beladiri yang diajarkan juga dengan cepat dia kuasai. Seni tembakannya pun benar-benar selalu tepat sasaran. Katakan ... Apalagi yang aku ragukan dari Queenku itu?" tanya mami.


"Benar. Penilaian Mami memang tidak pernah salah.," jawab Carlothe.

__ADS_1


"Queen akan menjadi penerusku dan Lady akan menjadi kaki tangannya. Suruh mereka berhenti," kata Mami.


"Semuanya berhenti!" teriakan Carlothe menghentikan segala sesuatu yang ada di lapangan luas itu.


Kini berkumpullah semua kandidat Mami. Tidak ada yang mengetahui pasti apa maksud mami mengumpulkan para kandidat. Yang jelas, semuanya sama seperti Elena. Ada keinginan balas dendam dibaliknya.


"Hari ini aku akan mengumumkan orang terpilih. Aku rasa tidak ada masalahnya bukan? Kalian semua hebat bisa sampai pada titik ini," ucap mami sambil melihat sekelilingnya.


Para kandidat itu ada yang mengalami luka. Begitu pula dengan Elena kecil yang berusia 12 tahun itu. Gadis itu masih berdiri tegap dengan banyak luka di tubuhnya. Keinginan balas dendamnya ternyata jauh lebih besar dari yang dia lihat. Berbeda dengan Elena, Lady sudah terlihat sedikit kepayahan. Maklum saja, yang mereka lawan adalah orang yang umurnya beberapa tahun lebih tua. Terlebih semuanya laki-laki. Hanya Elena dan Lady yang keduanya seorang gadis kecil. Mami tersenyum. Kandidat telah ditentukan.


"Elena ... Majulah selangkah," kata Carlothe. Elena pun melangkah satu langkah didepan.


"Aku memberimu nama Queen. Mulai saat ini kau bukan lagi Elena. Lady ... Majulah satu langkah," kata Mami. Gadis yang bernama Ladypun maju selangkah. "Aku memberikanmu nama Lady jauh-jauh hari. Aku melihat kemampuan kalian semua. Hari ini aku mengumumkan. The Queen aku wariskan kepada Queen dan Lady yang akan membantunya. Begitu pula dengan kalian semua yang masuk dalam 10 besar kandidat pilihan ini. Aku akan memberikan posisi yang juga akan menjadi hal penting untuk The Queen nantinya. Aku harap kalian semua tidak akan mengecewakan mami."


"Baik Mami."


Vanhoutten. Aku akan membalaskan dendam kedua orangtuaku. Begitu pula dengan Steven. Lihat bagaimana aku akan membalaskan dendam papa dan mama. Nyawa harus dibayar nyawa. Steven ... Kau harus mati ditanganku. Kau membuatku terbuang. Nyawamu mulai hari ini adalah milikku. Elena mengeratkan lehernya mengepalkan tangannya. Keinginannya balas dendam begitu luar biasa.

__ADS_1


__ADS_2