Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 332. Kampus Pilihan Sabrina.


__ADS_3

Give away novel Elegi Buana masih berlaku ya. Sama novel Kapten Rojali, I Love You. Hanya untuk 5 orang yang beruntung. Novel cetak author ada 2. Ada yang ingin mengintip sedikit tentang dua novel author? maka silahkan komen di bawah ini ya. di bab selanjutnya author kasih bocoran. dijamin, nggak kalah seru😁😁


Semenjak tahu Sabrina liburan ke Bali, William selalu berfikir. Padahal jelas, Zu sudah melacak keberadaan Sabrina ke manapun. Bahkan hasilnya pun nihil. Selama bekerja, William tak bisa fokus. Semua seolah memiliki teka-teki. Sosok Sabrina bukan gadis biasa. Dari dia yang bisa berpresentasi mendadak di kantor William, lalu juga caranya menyelesaikan pekerjaannya. Meski hanya singkat, tapi William bisa menilai kemampuan Sabrina.


"Sabrina memiliki kepintaran di atas rata-rata. Tidak mungkin hanya sebuah kebetulan. Ah, aku semakin pusing. Aku jadi curiga, jangan-jangan Sabrina juga membobol data perusahaanku kala itu? Hingga pada akhirnya aku terpaksa menikahi Sabrina karena memang membutuhkan dana? Lalu apa keuntungan Rendy, melepaskan anak gadisnya yang kurasa memiliki potensi besar dalam mengelola dan meneruskan jejak bisnisnya?" William membatin sendu.


"Zu, waktu itu kau sudah menyelidiki pulau Bali kan?" tanya William pada Zu.


"Sudah, Tuan. Apa Anda meragukan saya?" balas Zu tidak terima.


William menggelengkan kepala. "Bukan begitu. Tapi, Sabrina tadi mengatakan jika ia berlibur ke Bali selama liburan ini. Apa kau percaya itu?"


Zu menyipitkan kedua mata. "Nona Sabrina ke Bali? Saya bahkan telah mengerahkan banyak orang untuk melacak. Bahkan tanda-tanda keberadaan Nona, nihil, Tuan. Saya sudah menyelidikinya lewat daftar nama penumpang pesawat. Kemudian menelusuri hotel-hotel dan penginapan. Tidak menemukan atas nama Nona Sabrina. Bahkan, tidak menemukan transaksi dari kartu debit atau kredit milik Nona Sabrina."


Mendengar hal itu, William semakin galau. "Jika bukan ke Bali, lalu kemana Sabrina?"

__ADS_1


"Apa mungkin Nona Sabrina berbohong?" tebakan Zu sepertinya memiliki banyak peluang. Mengingat tingkah Aneh Sabrina akhir-akhir ini, William yakin Sabrina tidak pernah ke Bali.


"Perintahkan Kadir untuk melaporkan segala sesuatu tentang Sabrina. Ikuti dia kemanapun dia pergi. Jangan sampai aku kecolongan lagi, Zu!" Ben menekankan kata kecolongan.


"Sabrina, jangan sampai aku mendapatkan satu bukti kebohonganmu. Karena aku tidak akan tinggal diam, karena Rendy saat itu begitu memojokkanku. Dia pikir, siapa yang menjebakku dan kamu untuk menjalani rumah tangga yang tidak waras ini? Bukankah dia sendiri? Brengsek!" William mengumpat dalam hati.


"Baik, Tuan." Zu segera berlalu. Pria itu akan menghubungi Kadir bawahan Ben, yang memiliki tugas baru.


Di tempat lain, Sabrina tengah mendaftarkan diri di sebuah kampus ternama. Tentu saja didampingi oleh Darren yang akan selalu setia mengiringi langkahnya. Dari kejauhan, Artur mengamati sosok Sabrina dari tempat yang tersembunyi.


Sabrina tersenyum hangat. "Iya. Satu itu adalah penghuni rumah yang sama dengan kita. Tapi yang satunya adalah mata-mata yang memang bertugas mengawasiku. Mereka tidak memiliki niat lain, kecuali ingin tahu gerak-gerikku. Maka dari itu, dua orang bawahanmu jangan sampai lengah. Awasi siapapun yang mencurigakan di sekitar kita."


"Baik, Nona Sabrina. Saya mengerti." Darren menganggukkan kepala. Kali ini ia tak lagi risau. Karena nampaknya nona muda yang ia jaga, tidak sepenuhnya sesantai kelihatannya.


Setelah selesai mengurus pendaftaran, Sabrina memutuskan untuk kembali pulang. Ia harus segera merancang beberapa desain senjata baru untuk pertempuran selanjutnya.

__ADS_1


"Nona Sabrina, sepertinya Anda lupa. Jika Anda memiliki jadwal berlatih dengan Tuan Danar," ujar Darren mengingatkan. 


Hal itu tentu saja membuat Sabrina menghentikan langkah kakinya. Gadis itu memutar tubuh sehingga kini bisa berhadapan dengan Darren. Begitu pula dengan Darren. Pria muda itu menyadari jika sang majikan kesal secara tiba-tiba. Darren bahkan menautkan kedua alis tebalnya.


"Darren, kau tahu aku baru saja kembali dari misi?" tanya Sabrina. Mendapati pertanyaan itu, Darren menjawabnya dengan anggukan. "Jika kau sudah tahu, maka diamlah. Aku butuh istirahat!" tegas Sabrina. Gadis itu lalu berjalan mendahului Darren. Membuat Darren menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Aku kan hanya mengingatkan. Kalau nantinya aku tidak mengingatkan, aku pasti dimarahi habis-habisan. Mengingat Tuan Danar adalah orang penting. Tapi kenapa saat aku mengingatkan, Nona Sabrina malah marah padaku? Ah, memang benar. Wanita itu kan selalu benar. Sudahlah!" gumam Darren.


Pria itu berlalu mengikuti Sabrina yang masuk ke dalam mobil. Melihat Sabrina telah duduk dan bersiap, Darren segera menginjak pedal gas. Melajukan mobilnya menuju rumah. 


"Uncle William. Mari kita lihat, aku atau kamu yang akan menyerah atas nama cinta. Aku akan menarik ulur, supaya kau tergila-gila pada bocah ingusan sepertiku. Sekalipun ini hanya sebuah obsesi, tapi aku bersumpah untuk mendapatkanmu. Membuatmu jatuh cinta padaku, dan aku akan menggenggam dunia. Aku tidak akan menyerah!" Sabrina membatin.


Setelah kepergian Sabrina, Artur keluar dari persembunyian. Bocah remaja itu mengikuti Sabrina untuk mendaftarkan dirinya di kampus yang memiliki nama besar di kota tersebut.


"Sabrina, aku tidak akan membiarkan hidupmu tenang. Kau dan ayahku, tak akan pernah mendapatkan restu dariku. Sampai kapanpun!" gumam Artur sembari menatap formulir pendaftaran dari panitia pendaftaran. Senyuman seringai nampak jelas di wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2