Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 62


__ADS_3

Mereka semua kaget dan tersenyum mendengar hal itu. Namun hanya satu orang yang begitu mendengarnya langsung memaku. Matanya melotot. Tentu saja dia adalah Ani. Siapa lagi?


Aaaaa mas Ardan !!! Bisa tidak sih kalau ngomong difilter !! Kenapa ngomong begituan dengan santainya. Didepan ayah dan ibu lagi !!! Aaaaa


Puuufftt ... Aku rasa aku tak perlu khawatir lagi karna mbak Ani sudah memiliki orang yang benar-benar mencintainya. Ya ampun mereka benar-benar pasangan menggelikan !! Lihatlah wajah sumringah tanpa dosa milik tuan Ardan. Sedangkan yang satunya kaku dengan mata yang melotot. Apa tuan Ardan tak menyadari wajah menggelikan milik mbak Ani itu?


Tubuh Brian gemetar-gemetar menahan tawa karna melihat ekspresi milik sepasang suami istri itu.


Benar-benar pertanyaan yang konyol !!


Ayah dan ibu tersenyum. Kalau Ani menikah dengan pria lain mungkin mereka akan menolak untuk segera memiliki anak kembali. Namun mengingat ekonomi mereka yang jauh lebih baik. Mereka hanya bisa tersenyum dan mengiyakan. Yah.... Memang jika dilihat dari sudut pandang Ardan diusianya yang sudah memasuki usia 38tahun mungkin ingin segera memiliki momongan dan penerus untuk keluarganya.


"Tentu saja bisa nak." Ibu menjawab.


"Kami tak melarangnya nak. Hanya saja ingatlah Rendy." Kata Ayah.


"Tentu saja ayah dia kan anak pertamaku." Sahut Ardan.


"Alhamdulilah... Semua barang Rendy sudah ibu kemas nak jadi besok kalian bisa berangkat. Rendy mau ikut bunda?" Tanya ibu.


"Tentu saja nek. Aku akan jadi anak yang baik." Jawab Rendy.


"Hey Rendy ... Nanti sering-sering kunjungi paman ya. Nanti paman belikan bakso bang Ucup."Celetuk Bryan


"Enggak usah paman nanti Rendy minta ayah belikan bakso. Kalau yang belikan paman Bryan pasti cuma sedikit." Celoteh bocah kecil itu.


"Hahahahahaaa.... Iya nanti ayah belikan bakso. Tapi jangan banyak-banyak kasihan perut Rendy nanti sakit ya."


"Yasudah istirahatlah kalian. Kamu dan Ani pasti sangat capek kan nak. Rendy malam ini tidur sama nenek ya besok kan sudah ikut ayah dan ibu. Nenek pasti kangen." Raut wajah ibu berubah sendu. Memang Rendy lah yang membuat rumah itu menjadi lebih hidup tingkah dan celotehannya membuat orang melepaskan lelah yang mendera setelah bekerja.


"Baiklah." Rendy turun dari pangkuan Ardan. Menuju neneknya yang tersenyum sendu.


Malam beranjak larut. Mereka semua bersiap untuk tidur. Bocah kecil yang sedari tadi memamerkan mainan yang dibawa Ardan pun kini telah terlelap.


"Semua berkas Rendy sudah diurus oleh pak Herman. Hari Senin Rendy sudah bisa bersekolah." Kata Ardan.

__ADS_1


"Makasih ya mas udah diurus semuanya. Aku bahkan gak nglakuin apa-apa."


"Apa maksudmu? Kamu juga sibuk kuliah. Lagi pula mana ada waktu buat ngurus itu semua. Kartu keluarga juga sudah selesai."


"Kalau begitu Senin aku izin satu hari bisa gak ya mas? Aku mau nemenin hari pertama Rendy ke sekolah."


"Gak apa-apa sayang nanti biar ditemani juga sama mami. Biar Rendy bisa dekat juga sama mami. Tapi ngomong-ngomong Rendy masih berumur tiga tahun Lo. Apa gak apa-apa jika sudah bersekolah? Yah walaupun masih ditaman bermain."


"Gak apa-apa kok mas kata ibu dia pengen banget sekolah. Karna anak samping rumah juga sudah bersekolah. Walaupun sering bolos juga sih mas. Namanya juga masih seumur segitu. Kemarin dia sempet rewel mau ikut sekolah. Tapi setelah di beritahu mau ikut aku kekota dan sekolah disana ya begitulah." Ani menarik selimut. Mencoba menutupi sebagian tubuhnya. Namun tangan Ardan menahannya.


"Mana jatahku?"


Malam yang panjang mereka lalui bersama. Penuh cinta dan gairah. Sudah kesekian kalinya Ardan meminta haknya malam itu. Hingga tak sadar jam dinding menunjukkan pukul 12:40.


"Bagaimana? Ada yang ketinggalan tidak?" Tanya ayah.


"Sudah pak jangan bawa terlalu banyak barang. Nanti kita bisa membeli yang baru." Sahut Ardan. Dilihatnya wajah sendu ibu yang menggendong Rendy. Seakan tak rela jika cucu satu-satunya jauh darinya. Memang tak bisa dielakkan ibulah yang merawat Rendy.


"Nanti kalau aku ada waktu aku akan mengajak Rendy dan Ani kemari Bu. Kalau aku sibuk ibu juga bisa menemani Ani dirumah. Terkadang aku juga meninggalkannya beberapa hari untuk keluar kota."


"Iya nek Rendy janji gak bakalan nakal."


Setelah berpamitan. Mereka pun bergegas kembali kekota.


💞💞💞


"Bagaimana ?" Disodorkan sebuah koper berisi uang oleh salah satu bodyguardnya. Orang itu menyilang kan kakinya. Memakai kacamata hitam berjas. Berwibawa. Dan ditambah lagi Empat bodyguard bertubuh kekar.


Mata Marzuki terbelalak. Sesuai yang dijanjikan. Harga pembelian kebun teh itu tiga kali lipat. Uang dalam koper ditambah cek. Tentu saja Marzuki tahu bahwa cek itu asli.


Dari celah celah Intan mengintip. Pikiran nya terbuai.


Dia pasti orang terpandang lihatlah dia. Masih muda tampan dannnnn uuuhhh kaya. Gila Johan ternyata gak ada apa-apanya ya. Cih iya juga ya. Aku ini kan model. Masih muda dan cantik. Masa iya jadi istri seorang duda. Duhhh kalau gak dapat tuan muda Ardan itu setidaknya yah orang itu boleh juga.


Intan memperbaiki penampilannya. Memastikan bahwa penampilannya sempurna. Kemudian dia berjalan keluar sembari membawa nampan berisi minuman untuk mereka yang berada di ruang tamu.

__ADS_1


"Silahkan minumannya tuan." Nada bicara lembut. Seolah olah bahwa dia adalah orang yang lembut. Sekilas melirik penampilan laki-laki didepannya. Tampan.


"Ini?"


"Oh perkenalkan ini anak saya Intan. Anak saya satu-satunya. Ayo nak beri salam." Marzuki tersenyum lebar.


Jika aku tak dapat mendekatkan Intan dan tuan muda Ardan maka aku harus menjodohkannya dengan orang ini. Walaupun aku belum tahu siapa dia. Namun sudah kupastikan bahwa dia orang terhormat.


"Anu.... saya Intan." Intan mengulurkan tangannya. Namun laki-laki dihadapannya hening. Tak menunjukkan akan menyambut uluran tangan itu. Ditariknya kembali tangannya. Mukanya merah padam. Malu dan menahan amarahnya.


"Berikan akta kebun itu. Biarkan pak Sofyan Adiputra yang mengurusnya. Dia notaris saya." Laki-laki itu menggerakkan tangannya. kemudian si notaris itu maju kedepan.


"Baiklah tuan. Silahkan diperiksa." Menyodorkan akta kebun teh yang dimaksud.


Setelah beberapa lamanya. Akhirnya laki-laki misterius itu berpamitan untuk pulang.


"Saya rasa sudah cukup terima kasih atas kerja samanya. Kami permisi". Laki-laki itu beranjak. "Oh... Anak gadismu lumayan. Ini kartu namaku hubungi aku." Setelah memberikan hal yang tak terduga itu Marzuki mengantar orang terhormat itu sampai kemobilnya.


Setelah kepergian mobil itu. Dia mengamati kartu nama laki-laki misterius itu.


"Dion Leonardo." "Nama yang mengagumkan. Hahahaha." Marzuki tertawa akan kemenangan yang saat ini digenggamnya.


\*"


Drrrtttttt drttt....


"Mas.... ada telpon dari mas Dion." Menyodorkan benda pipih itu. Kemudian mengambil alih bocah yang tertidur dipangkuannya.


"Halo...."


"Halo.... Bro misi selesai." Jawab sebuah suara diujung telpon.


"Baiklah. Besok kekantorku." Ditutupnya kembali sambungan telpon tersebut. Seringai misterius menghiasi sudut bibirnya.


Waktunya permainan dimulai. Tapi aku yang akan menjadi sutradara.

__ADS_1


 


__ADS_2