
"Ayah aku mau naik itu !!!"Teriak bocah kecil itu dengan kegirangan.
"Tapi Rendy masih umur tiga tahun. Belum boleh naik itu. Kita naik itu saja ya?" Tunjuk Ardan di salah satu wahana kereta api. Wahana itu hanya bisa dinaiki satu anak di setiap gerbong.nya.
"Enggak ayah. Aku udah sering naik itu. Aku mau naik yang lainnya!!! Bunda?" Rendy merajuk. Kini wajah polos nya dia dongakkan untuk melihat reaksi bundanya.
"Sayang belum boleh. Nanti ya kalau sudah besar kita main itu. Ayo naik kereta api. Nanti bunda foto buat kasih tau nenek ya. Ayo."
"Iya bunda." Ani menurunkan Rendy. Kemudian masuk ke dalam kereta api mini itu. Sejurus kemudian dia mengeluarkan ponselnya untuk memvideo kegiatan Rendy. Bocah kecil itu terlihat sangat senang dengan senyum yang dia sungging lebar.
"Rendy seneng banget ya sayang. Nanti kalau aku ada waktu lagi aku bakalan ajak dia kesini lagi."
"Iya mas. Dulu memang jarang banget dia pergi ketempat seperti ini."
"Oh sayang lihatlah. Bukankah itu ubanga Banga?"
"Apa itu mas?"
"Wahana mobil-mobil an aku yakin Rendy pasti suka. Tapi kita lihat nanti semoga tingginya sesuai syarat untuk masuk wahana itu."
"Tunggu mas lihat yang itu. Istana boneka?" Tanya Ani matanya tak lepas dari pandangan istana boneka yang sedari tadi mencuri perhatiannya.
"Hem itu gak menarik sayang. Yang lainnya saja." Ujar Ardan sembari melihat-lihat.
"Tapi mas aku ingin lihat itu juga. Ayo dong." Menyenggol lengan Ardan.
"Hem..."
Hah... Bisa-bisanya masih jawab Hem saja.
"Ayah bunda !!! Ayo lihat yang lain lagi." Rendy menggandeng tangan ayah dan bundanya. Dengan senyum yang masih merekah dibibirnya.
"Sudah selesai. Ayo coba yang itu. Bunda pengen lihat itu."
"Ayo bunda." Dengan segera menarik tangan kedua orang tuanya. Membuat Ardan menarik ujung bibirnya. Membentuk sebuah senyuman. Dia pun membiarkan bocah kecil itu menarik-narik tangannya.
Jadi begini rasanya jika sudah memiliki anak ya. Jadi gak sabar pengen segera punya. Pasti rumah bakalan rame banget. Apa lagi Rendy berisik kayak gini.
Kini mereka menuju istana boneka. Ani dan Rendy sangat antusias akan hal itu.
🤗🤗🤗
"Loe pengen naik apa?" Tanya Dion.
__ADS_1
"......."
Gila ya gue udah dicuekin yang ke berapa kalinya ya. Apa seharusnya gue gak ikut kesini ya kok makin ngenes gini.
"Loe pengen naik apa?" Tiba-tiba gadis itu membuka suaranya untuk pertama kalinya.
Gue kerjain ah... Dion.
"Roaller coaster." Jawab Dion.
"Oke."
Awas ya.... Lihat aja gue yakin loe bakalan mabok.
Beberapa waktu kemudian.
"Hoekkkkk....."
"Loe Cemen banget laki?"
Gila ya gue pikir nih cewek bakalan ketakutan atau apa. Malah gue yang mabok. ini mah senjata makan tuan.
"Loe pengen lihat gue laki atau bukan?" Mencoba membuka resleting celananya.
"Dasar gila !!!" Agnes pun berlalu begitu saja. Tanpa menunggu Dion yang mabuk.
"Hei istirahat dulu napa sih?" Teriak Dion. Terlihat Agnes membeli dua minuman dingin.
"Nih." Satu botol air minuman itu dia berikan ke Dion. Dion pun segera mengambil satu botol minuman itu. Saat berhasil membuka tutup botol itu dan meneguknya beberapa kali Agnes pun membuka suara.
"Jangan lupa ganti." Kemudian meminum air mineral yang berada di tangannya.
"Uhuuuukkkkk." Dion yang kaget akan hal itu pun terbatuk-batuk.
Si***n.... Nih cewek dari tadi ngeselin banget.
"Gue itu cuma pelayan. Loe harusnya ngerti dong. Ngapain pake acara melotot gitu matanya. Mau gue colok?"
"Shit !!!" Umpat Dion. Kemudian meneguk kembali minumannya hingga habis tak bersisa.
"Oh ya ngomong-ngomong loe kerja ditempat Ardan sebagai apa?" Tanya Dion penasaran.
Agnes menoleh. "Tadi kan gue udah bilang gue cuma pelayan. Makanya loe ganti nanti minuman itu."
__ADS_1
Rasanya Dion masih belum mengerti. Karna wajah Agnes berbanding terbalik dengan pekerjaannya.
"Loe yakin? Pelayan?" Tanya Dion sekali lagi. Mencoba menelisik lebih dalam.
"Pelayan pribadi milik nona muda."
"Pelayan pribadi?"
Agnes mengangguk cepat.
Yang bener aja bule kayak gini jadi pelayan pribadi? Lagian sombong banget nih cewek dari tadi acuh Mulu.
"Kita kemana lagi?" Dion mencoba menepis semua pikirannya tentang gadis dihadapannya kini. Matanya mencoba dia edarkan ke sekelilingnya mencari sesuatu yang menarik matanya. Matanya kini menangkap sesuatu yang menarik. "Kau berani masuk rumah hantu?"
"Hemmmm." Ucap gadis itu sembari berlalu menuju rumah hantu.
"Shit !!! Nie cewek dari tadi bikin emosi mulu." Dion menggelengkan kepalanya. Tak habis pikir dengan sosok dingin gadis yang bersamanya. Sangat berbeda dengan gadis kebanyakan.
"Eh ngapain sih gue mikirin tu cewek Sampek pala gue pusing. Nggak. Gila aja tuh cewek selain wajah dan bodynya gak ada yang menarik !!!"
"Hei mau masuk gak?!" Teriakan Agnes membuyarkan lamunan Dion.
"Shit !!! Iya iya !!!"
🤗🤗🤗🤗
"Yakin sayang mau berenang?" Ardan mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Sangat ramai diakhir pekan. "Kalau ingin berenang kan dirumah udah ada sayang!!! Di mansion mami juga ada. Ngapain disini rame banget kayak gini."
Baiklah telinga Ani terasa sakit karna sedari tadi Ardan mengomel-ngomel tentang keinginannya bermain di wahana air. Padahal hal ini ada kesukaannya bersama Rendy. Karna pasti akan sangat seru. Ditambah dengan berbagai wahana air yang bisa dilakukan. Benar-benar menyenangkan. Entah bagaimana cara orang kaya menghabiskan uang mereka di akhir pekan. Karna begini saja rasanya dia sudah bahagia.
"Beda dong mas lihat Rendy sedari tadi sudah lari sana sini. Kayaknya dia pengen masuk ke air deh mas. Biasanya di tempat seperti ini pasti ada yang jual baju renang." Ani melihat-lihat sekelilingnya.
"Bunda aku pengen kesana." Rengek Rendy sembari menarik-narik ujung dreesnya.
"Sebentar sayang bunda belikan baju renang ya. Nanti kita masuk kesana."
"Sayang.... Memangnya kamu bawa baju ganti?"
"Bawa mas. Tapi cuma hotpants sama kaos aja sih. Tapi aku lupa bawa punya Rendy mas. Kan tadi mas Ardan buru-buru banget aku jadi kelupaan kan baju renang Rendy." Gerutu Ani.
"Ya sudah sana beli baju buat Rendy sama ganti baju sekalian. Mas tunggu disini tas sama barangmu."
"Loh mas Ardan gak ikut main?"
__ADS_1
"Yang bener aja sayang!!" Sungut Ardan kesal.
Gila !! Umur gue berapa mau main air kayak gini.