Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 169


__ADS_3

"Sayang, mau makan apa?" Ardan mendudukkan bokongnya dikursi kantin.


"Menunya apa aja ya mas?"


"Ada bakso, soto ayam, rawon, nasi goreng, mie goreng pilih apa sayang?"


"Rawon aja mas. Udah lama aku nggak makan rawon,"


"Rendy apa perlu dibangunin ya sayang?"


"Sayang....bangun waktunya makan siang nak," Ani menghujani wajah anaknya dengan banyak ciuman. Bocah itu terlihat mengeliat seakan tidurnya telah terusik.


"Bunda,"


"Iya sayang. Kamu ingin makan apa?"


"Bakso," bocah itu terlihat mengucek matanya secara perlahan.


"Bakso mas,"


"Oke sayang aku akan memesankannya terlebih dahulu," Ardan bangkit dan memesan sesuai pesanan istri dan anaknya.


Ani hanya mampu melongo melihat tingkah suaminya. Jika dihitung Ardan sudah memasuki mangkok ketujuh.


"Mas Ardan tumben makan banyak?"

__ADS_1


"Maaf sayang mas kalap," ucap Ardan sembari mendorong mangkuknya yang sudah habis.


"Yasudah lebih baik kita lihat Rianna dulu mas,"


"Sayang! Perutku rasanya mau meledak,"


"Hah? Kan itu ulah mas Ardan sendiri. Mas Ardan seperti nggak makan seharian!"


"Tapi mas kan emang belum makan seharian sayang!"


"Oh iya ya. Tadi nggak sempet sarapan. Yaudah mas maafin aku ya,"


Ardan mengerucutkan bibirnya. Ani mendengus kesal.


"Ayah?"


"Mau ketemu Oma,"


"Oke sayang. Ayo kita ketempat Rianna. Kamu ngapain sayang? Ayo cepet sini Rendy biar ayah yang gendong,"


Sabar Ani. Sabar. Suamimu memang manja. Hanya usianya saja yang sudah tua. Sabar saja yang penting nggak bikin makan hati aja.


***


"Ri...," Ani mencoba untuk berbicara dengan Rianna. Gadis yang biasanya ceria dan periang kini hanya mampu terdiam dengan tatapan kosongnya. Tidak ada pergerakan lainnya, kecuali mata yang berkedip. Seolah Rianna adlah mayat hidup. Tanpa semangat dan arah tujuan untuk hidup.

__ADS_1


"Ri...Bagaimana kabarmu hari ini?" menyisir rambut Rianna dengan perlahan. Mencoba untuk berbicara secara perlahan kepada Rianna. Sedangkan semuanya berada di luar kamar perawatan Rianna.


"Maaf kalau aku terlambat kemari. Oh ya kau tidak rindu Rendy?" Ani melihat sebuah pergerakan kecil. Itu berarti Rianna masih bisa merespons. Ani tersenyum. Setidaknya walau kecil kemungkinan tetapi cepat atau lambat Rianna akan segera pulih.


"Seperti biasa dia merengek meminta kue. Tapi saat aku mengajaknya ketoko roti dia malah berteriak tidak mau. Kau tau apa katanya? Katanya tidak ada kue yang selezat buatanmu. Sudah seminggu Ri kamu seperti ini. Rendy rindu denganmu. Apa kau tak sayang padanya lagi?" dengan telaten Ani menyisir rambut Rianna yang panjang.


"Kenapa kamu diam saja Ri? Apa kau tak merindukan aku?" Ani memeluk tubuh Rianna. seakan memberikan kekuatan. "Padahal aku begitu menyayangimu. Aku sangat bahagia memiliki adik sepertimu. Kau membuatku kecewa RI. Kenapa kau seperti ini? Kenapa kau diam saja? Apa kau memang tak menyayangiku?"


"Sa...yang," satu patah kata itu keluar dari bibir Rianna. Setelah Ani mengajaknya berbicara dengan kesabaran yang tak ada batasnya. Meskipun harus berbicara sendiri tapi dia tak peduli. Ani berfikir inilah satu-satunya cara menyadarkan Rianna. Dan kali ini Rianna meresponnya. Seketika dia bangkit.


"Katakan sekali lagi Ri?" Ani meletakkan kedua tangannya dibahu Rianna. "Katakan sekali lagi Ri kalau kau menyayangiku?"


"Sa...yang,"


Ani segera bangkit. Dokter Samuel bahkan menunggunya diluar bersama keluarga dan sahabatnya yang lain.


"Dokter! Rianna merespons apa kataku! Dua kali dia menjawabku sayang!"


Dokter Samuel dan beberapa perawat akhirnya masuk kekamar Rianna.


"Benar apa yang kamu katakan?" Smith segera melayangkan pertanyaan.


"Iya benar! Semoga saja Rianna segera sadar. Aku...aku tak bisa melihatnya seperti ini! Seminggu lebih dia seperti ini,"


"Udah beb. Semoga aja Rianna segera sadar oke. Ingat kamu sedang hamil. Sekarang usia kehamilanmu sudah memasuki 4 bulan,"

__ADS_1


"Iya Monic. Aku tau batasku kok. Kamu juga kan sebentar lagi menikah. Tinggal 10 hari lagi bukan?"


"Iya... Semoga nanti saat aku menikah Rianna sudah sehat," Ani dan Monica saling merengkuh satu sama lain. Mencoba menguatkan satu sama lain.


__ADS_2