
"Hai beb..." Monica menghampiri Ani yang sudah duduk ditempat duduknya.
"Hai. Gimana hari pertama kerja?" Tanya Ani. Yang memang penasaran dengan kedua orang itu. Terlebih kisah asmara mereka.
"Gila tau gak An bukan masalah kerja tapi sepulang kerja. Gila. Bikin jantungan mas Kevin!!!"
"Kenapa dengan Kevin?" Alis Ani bertaut.
Apa Monica sudah jatuh cinta dengan Kevin? Secepat ini?
Melihat respons yang diberikan Monica. Mencoba menerka-nerka sebelum akhirnya bibir mungil gadis itu membuka suara kembali.
"Huh dia kayaknya lebih gila dari suamimu Ani. Benar-benar orang gila !!" Ucap Monica bersungut-sungut kesal. Sedangkan Ani tetap dengan wajah kebingungannya.
"Kenapa?" Tanya Ani yang semakin penasaran dengan umpatan Monica.
"Tau gak pulang kerja dia nganterin aku pulang. Terus waktu diperjalanan pulang dia ngajak aku makan direstorant. Dia pesen banyak makanan. Dan dia traktir aku."
Ani semakin bingung dengan jawaban yang dilontarkan oleh Monica.
"Maksudmu?"
Kemudian Monica menceritakan hal gila apa kemarin yang dialaminya bersama Kevin. Bos itu selain galak dia bahkan nekad. Tak perduli situasi apapun perintahnya tak boleh ditolak atau dibantah. Jika hal itu terjadi. Maka habislah sudah. Karna sang diktator akan melaksanakan apapun yang menurutnya benar.
Monica pun bersandar kepundak Ani. Seakan hal memalukan kemarin baru saja terjadi.
"Sudahlah Monic. Niat bosmu kan baik." Ani berusaha menyetujui kenekatan kevin. "Sebenarnya aku pengen ketawa. Hihi romantisnya....."
__ADS_1
"Hei !!! Kau membelanya !!" Mata Monica melotot.
Kenapa kalian sama-sama menggemaskan sih.
"Kau tahu Ani kupikir hanya suamimu yang gila. Ternyata masih ada yang lebih gila lagi."
"Hihi.... Terima saja Monic kebaikan darinya. Mungkin itu mewakili perasaannya."
"Apa?!!"
Kurasa kau sama gilanya dengan suamimu Ani. Aku kan sahabatmu juga termasuk dalam kategori penting bukan di hidupmu? Bagaimana bisa kau membela teman dari suamimu itu hiks hiks.
****
"Gue sudah siap bro. Gue bakal nawar sesuai apa yang kita harapkan. Semoga saja lelaki itu mau melepaskan kebun teh miliknya."
"Oke kali ini gue minta tolong banget sama loe. Demi istri gue. Gue bakalan lakukan apapun. Thanks ya loe udah mau bantu. Setelah loe dapat tu semua pastikan suratnya langsung loe urus atas nama istri gue. Kabari gue hasilnya secepatnya. Gue gak terima jawaban gagal !!!"
"Hem."
Ardan menutup telfon. Kemudian seulas senyum licik ia ukir diujung bibirnya. Rencana ini harus berhasil. Hei Marzuki sebentar lagi aku akan memberimu salam hangat. Cih.
Hari ini Ardan akan memulai aksinya. Memberikan salam hangat untuk sikap Marzuki tempo hari pada istrinya. Dia melakukan semua itu demi istri tercintanya.
Ardan berjalan dengan gagah dan berwibawa menuju ruangannya. Terlihat dibelakangnya sosok sekretaris Herman selalu setia mendampinginya.
"Panggil Kevin keruanganku. Ada yang ingin kuurus segera mungkin."
__ADS_1
Tangan Ardan mengisyaratkan untuk sekretaris itu meninggalkannya dan berlalu mencari Kevin. Sekarang yang ada diotak Ardan dia harus menjatuhkan lawan secepat mungkin karna dia sudah cukup lama membiarkan musuhnya menari-nari dengan angkuhnya. Marzuki dan keluarganya harus tahu batasan dan resiko karna bersinggungan dengan keluarga Wijaya.
Kevin tahu alasan sekretaris Herman pagi-pagi mencarinya. Ardan menginginkan segera raport kinerja Marzuki secepatnya. Rasanya memang tangan Ardan sudah gatal untuk menendang Marzuki secepatnya. Kevin sudah mendapatkan hasil dari penyelidikannya beberapa hari yang lalu. Memang cepat pergerakan Kevin ini. Karnanya Ardan memberikan tempat khusus untuk Kevin karna selain sekretaris Herman Ardan masih memiliki Kevin sebagai tangan kanannya.
Tok tok tok. Kevin mengetuk pintu ruangan presdir.
"Hmmm." Terdengar sahutan dari mulut Ardan. Sekretaris Herman dengan sigap membuka pintunya. Terlihat Kevin muncul dari balik pintu tersebut.
"Sudah kau dapatkan?" Ardan bertanya tanpa basa basi lagi.
"Tentu. Lihatlah data statisnya. Penghasilan perusahaan sebenarnya menurun. Akan tetapi Marzuki sialan itu dapat menutupinya. Lihatlah dua bulan terakhir. Memang ada penurunan bukan. Namun data satu bulan sebelumnya terlihat lebih kecil persentase penurunannya. Itu berarti dia korupsi secara perlahan. Sedikit tak terlihat namun jika diteliti secara detail dan menyeluruh. Akan terlihat penurunannya."
"Heh.... Memang orang tamak akan selalu berakhir tamat. Sudahlah simpan bukti ini dan tunggu sampai Dion kembali dan selesai membeli kebun teh milik Marzuki. Setelahnya Dion akan mengambil alih membeli saham 7 persen milik Marzuki. Memang tak berarti apq-apa. Namun aku ingin membalikkannya untuk kuberikan pada istriku. Dan aku akan membongkar kebusukannya. Agar suatu hari nanti jika aku menendangnya dari perusahaan Wijaya. Maka tak akan ada lagi perusahaan lainnya yang akan bekerja sama dengannya. Atau mempekerjakan dia menjadi karyawan biasa sekalipun. Aku ingin dia menghilang dari kehidupan Bisnisku. Dan kemudian teronggok seperti debu yang tak berguna."
"Tentu saja. Apakah ada yang lain?" Tanya Kevin. Ardan terlihat menggelengkan kepalanya pertanda dia tak membutuh kan apa-apa lagi. Jawaban yang dia berikan kepada Ardan benar-benar memuaskan. Tak terlihat Ardan akan menahannya lebih lama lagi.
Kemudian pun dia undur diri. Pak Herman kembali menutup pintunya.
"Apa anda yakin ingin membeli kebun teh milik kami?" Istri Marzuki memberikan pertanyaan. Yang mungkin dia ragu jika tamu dihadapannya kini akan membeli semua kebun teh milik suaminya. Memang harga yang disiapkan oleh tamunya itu dia tahu tiga kali lipat dari harga yang seharusnya.
"Tentu nyonya. Apa anda melihat sebuah candaan dari wajah saya?" Tanya tamu itu memastikan. Yaak benar tamu itu adalah Dion. Sahabat dari Ardan.
Ardan telah memulai untuk menjalankan balas dendamnya atas kejadian tempo hari yang dilakukan oleh Marzuki yang mengintimidasi istri sahabatnya.
Tuan rumah itu mulai ragu. Bagaimana tidak calon pembeli kebun teh itu menawarkan harga tiga kali lipat dari harga yang sebenarnya. Sedangkan dia ragu. Karna yang memutuskan ya atau tidaknya adalah Marzuki suaminya.
__ADS_1
"Kalau anda ragu. Anda bisa menelfon suami anda mungkin?" Menawarkan pendapat yang akhirnya disetujui oleh tuan rumah itu. Seringai senyum licik ia sungging jelas. Membuat orang bergidik saja.