Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 402.


__ADS_3

"Terima kasih, Tuan William. Anda luar biasa!" Dixton tersenyum antusias. Kini mereka semua saling berjabat tangan.


William menyambut ukuran tangan Dixton. "Terima kasih. Semoga ilmunya bermanfaat ya."


"Tentu saja, Tuan William," sahut Justin.


William melirik jam tangan yang melingkar di tangannya. "Ini sudah waktunya untuk makan siang. Bagaimana kalau kita makan bersama di kantin perusahaan ini? Biar saya yang traktir?"


Mendengar tawaran dari William, Dixton dan Justin begitu antusias. Dengan serempak keduanya setuju. Tanpa bertanya lagi pada Artur dan Sabrina. Sedangkan Aretha, melirik ke segala penjuru ruangan. Hal itu tak luput dari penglihatan Sabrina. Gadis itu mengawasi gerak gerik Aretha dari pantulan kaca. Saat akan keluar dari ruangan, Aretha tampak menempelkan sesuatu di meja milik William.


"Apa yang ditaruh Aretha di sana? Apa mungkin penyadap? Wah, dia sudah mulai menampakkan diri rupanya? Dia pikir akan lolos dari pengamatanku? Salah besar kau, Aretha," batin Sabrina penuh kemenangan.


Setelah makan siang, Sabrina memberikan tanda untuk William. Pria itu harus mencegah Sabrina untuk segera pulang. Terlihat William menatap lekat mata Sabrina. Lalu seulas senyuman tipis tersemat di bibirnya.

__ADS_1


"Sabrina, kau di sinilah dulu. Tadi mamamu menelponku. Ada hal yang ingin dia katakan. Bisa jangan pulang dulu? Artur dan teman perempuanmu itu bisa pulang terlebih dahulu," ucap William.


Sabrina melirik Aretha. Seolah meminta izin untuk menjawab kata-kata William. Tampak Aretha menganggukkan kepala. Sabrina bertingkah biasa saja. Terksesan cuek, agar tak menunjukkan kedekatannya dengan William.


Sabrina mencebikkan bibirnya. "Kenapa mereka tak menelponku? Kenapa malah menelpon Uncle? Rasanya kok lucu!"


"Hei, Sabrina! Hormati orangtuamu. Mereka menitipkanmu kepada ayahku. Ayo, Aretha kita pulang. Biarkan saja Sabrina diomeli sendiri!" Artur berlalu. Diikuti oleh Aretha yang tak bersuara.


"Artur! Awas saja, jika kau macam-macam dengan Aretha! Aku tidak akan memaafkanmu!" teriak Sabrina. "Ah, Uncle. Kenapa menarik telingaku?" rengekan Sabrina terdengar jelas di telinga Aretha sekalipun ia telah jauh.


Melihat Aretha telah menghilang di belokan, William segera menangkup kedua pipi Sabrina. "Honey, maafkan aku," lirih William.


"Aku maafkan. Ayo masuk ke ruanganmu!" ajak Sabrina. Ia menepis pelan tangan William yang ada di wajahnya. William menurut. Tak lagi bersuara.

__ADS_1


Begitu telah memasuki ruangan presdir, Sabrina meletakkan satu jari telunjuk di bibir ranumnya. Sebagai isyarat William harus diam. Sabrina berjalan mendekati meja presdir. Lalu menyipitkan pandangan dan mencari satu penyadap yang ditempelkan oleh Aretha.


Setelah mendapatkannya, Sabrina memencet satu tombol di jam tangan khususnya. Hingga muncul sebuah lebah kecil. Sabrina lalu melekatkan penyadap suara tersebut ke lebah milik Sabrina. Satu kibasan tangan Sabrina, membuat lebah tersebut terbang membawa pergi penyadap milik Aretha. Sabrina tersenyum tipis.


"Selamat tinggal," ucap Sabrina penuh kemenangan.


"Apa itu, Honey?" tanya William bingung.


"Penyadap suara. Sudahlah, lupakan. Oh iya, Honey. Kapan acara reuni itu dilaksanakan?" balas Sabrina.


William menghembuskan napas. Ia paham gelagat Sabrina. Itu artinya, Sabrina tak ingin dirinya tahu benda apa yang dibawa kabur oleh lebah miliknya itu.


"Apa yang akan kau lakukan di acara reuni itu, Honey? Jangan membuat ulah ya, Honey. Berhentilah membuatku jantungku mau copot," tukas William. Pria itu memasang wajah iba.

__ADS_1


Mendengar kata-kata William, Sabrina mencebikkan bibirnya. "Siapa yang mau membuat ulah? Aku hanya ingin mempersiapkan diri saja. Siapa tahu, di sana ada mantan pacarmu."


__ADS_2