
Aretha tersenyum kikuk melihat interaksi Artur dan Sabrina. Artur mencebikkan bibirnya, seolah sedang mengejek Sabrina. Tak berapa lama, Sabrina kembali menikmati menu baksonya.
"Aretha, nanti sepulang dari kampus, boleh main ke panti?" tanya Sabrina.
Mendadak, kedua mata Aretha berbinar. "Ka-kau yakin, Sabrina? Adik-adikku pasti senang. Di sana, sangat jarang ada yang berkunjung."
"Berapa anak yang tinggal di sana?" tanya Sabrina.
"Ada 23 anak, Sabrina. Aku akan memperkenalkannya kepadamu. Adik-adikku pasti senang." Aretha mengukir senyuman.
"Jam kampus hanya sampai jam 10 pagi. Kalau begitu, setelah ngampus aku akan ikut denganmu ke panti ya," tawar Sabrina.
"Hei! Enak sekali kau bicara? Kau tidak ingat, berangkat ke kampus bersama siapa?" Artur tidak terima.
"Ya kamu ikut juga dong, Artur. Jika kau tidak ikut denganku ke panti, aku tidak akan menepati janjiku," ungkap Sabrina seraya menaik turunkan alisnya.
"Serah!" Artur meletakkan sendok dan garpunya. Lalu beringsut pergi dari kantin.
"Ish! Dasar pemarah!" sungut Sabrina.
__ADS_1
"Aku harus menyelidiki Aretha. Luka di lengannya mencurigakan. Itu memang benar ada preman, atau dia berbohong. Aretha … Aku akan mencari tahu tentangmu. Hanya membobol data pribadi seseorang saja, aku tak bisa? Mustahil!" Sabrina membatin puas.
"Sabrina, kau yakin akan ikut ke panti denganku? Artur sepertinya tak menyukai hal itu," kata Aretha.
"Lupakan dia. Hanya ada kau dan aku saja. Kau jalan kaki berangkat ke sekolah?" tanya Sabrina.
Aretha mengangguk. "Tak masalah, bukan?"
"Tidak."
Waktu terus berlalu. Di sebuah ruangan rahasia, tiga orang dewasa sedang berdiskusi. Hanya ada 1 orang yang kini wajahnya telah pucat pasi. Elena berjalan mendekati keduanya. Lalu menjatuhkan bokongnya di samping sang suami. Sedangkan William, sangat syok dengan pernyataan Elena.
"Ter-terpaksa?" William tergagap.
Rendy menganggukkan kepala. "Sejak ditemukannya mayat di kantormu. Dia baru menyanggupinya. Dia khawatir, teror itu ditujukan kepada suami dan anak sambungnya."
Rendy memutar balik fakta. Pernyataan tentang kesanggupan Sabrina, dibuat seolah-olah Sabrina baru memegang dua kunci itu. Untuk menyembunyikan hal besar itu, tak akan mungkin. Rendy menatap wajah William yang pias. William sesekali mengusap wajahnya dengan kasar.
"Untuk apa musuh ingin menjatuhkanku? Sedangkan aku tak memiliki kekayaan yang berarti," ucap William.
__ADS_1
"Bagaimana jika ada orang yang dendam padamu?" tegas Elena. "Aku akan membantumu. Beban yang ditanggung Sabrina cukup besar. Suaminya tentu harus berguna dong."
William meringis. Kata-kata Elena ternyata begitu tajam. "Aku tidak tahu."
"Sayang," panggil Rendy.
Satu tangan Elena terangkat. Membuat Rendy diam seketika. Tangan sang istri sudah menegaskan untuk Rendy agar membungkam mulut.
"Aku hanya mengatakan yang sesungguhnya. Menjadi suami Sabrina jangan lembek. Aku yakin, dia sudah melakukan banyak hal bukan, Tuan William?" Elena mengintimidasi.
William lagi-lagi hanya mampu menganggukkan kepala. Sabrina memang telah menempatkan orang-orangnya untuk melindungi Artur dan dirinya. Belum lagi, Sabrina juga membuat dirinya sendiri merugi dengan membeli dua perusahaan sekaligus. Sedangkan dua perusahaan yang berhasil diakuisisi oleh Sabrina, sudah beratasnamakan Xander Grup.
Perusahaan William sudah melebarkan sayapnya, hanya dengan berkedip saja. Lalu perusahaan William bersama mendiang istrinya, juga masih berdiri kokoh tanpa ada yang berani mengusiknya. Termasuk para investor Xander Grup itu sendiri.
"Aku tahu, Nyonya Elena. Katakan, aku harus bagaimana?" tanya William pada akhirnya.
"Ikutlah denganku," ucap Elena. Wanita itu bangkit. Diikuti oleh William yang mengekor di belakangnya.
Rendy menatap punggung dua orang yang meninggalkannya itu dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. "Sudah saatnya."
__ADS_1